Pemikiran Oleh Caesar Anggara Adhiputra
Mahasiswa Kampus Universitas Indonesia (FIB/Sastra Jerman 2005)
A. Latar Belakang Fasisme
Kata fasisme diambil dari bahasa Italia, fascio, sendirinya dari bahasa Latin, fascis, yang berarti seikat tangkai-tangkai kayu. Ikatan kayu ini lalu tengahnya ada kapaknya dan pada zaman Kekaisaran Romawi dibawa di depan pejabat tinggi. Fascis ini merupakan simbol daripada kekuasaan pejabat pemerintah.
Fasisme muncul sebagai reaksi atas tata cara hidup masyarakat Barat yang liberal. Fasisme merupakan pemberontakan revolusioner dan totaliter yang kedua setelah komunisme. Secara sederhana fasisme dapat dijelaskan sebagai pengorganisasian pemerintahan dan masyarakat secara totaliter oleh kedikatatoran partai tunggal yang sangat nasionalis, rasialis, militeristis, dan imperialis. Di Eropa, negara fasis pertama adalah Italia ( 1922 ), disusul Jerman ( 1933 ), dan kemudian Spanyol melalui perang saudara ( 1936 ). Di Asia, Jepang perlahan menjadi fasis pada tahun 1930-an. Di Argentina, tahun 1943 terjadi pemberontakan terhadap tuan tanah oleh para tentara yang tidak puas dan pemerintahan kediktatoran fasis terbentuk di bawah pimpinan Jenderal Peron.
Fasisme muncul dan berkembang di negara-negara yang relatif lebih makmur dan secara teknologi lebih maju seperti Jerman di Eropa dan Jepang di Asia. Fasisme menunjukkan perkembangan pesatnya di Argentina yang merupakan negara terkaya di antara ke-20 republik di Amerika Latin. Fasisme juga merupakan produk dari masyarakat pasca-demokrasi dan pasca-industri. Kaum fasis tidak mungkin merebut kekuasaan di negara-negara yang tidak memiliki pengalaman demokrasi sama sekali. Dalam masyarakat demokrasi, kediktatoran mungkin ditunjang oleh militer, birokrasi, karisma pribadi seorang diktator.
Pengalaman menunjukkan bahwa semakin keras dan teoritis gerakan-gerakan fasis, semakin besar pula dukungan rakyat yang diperolehnya. Fasisme di Jerman merupakan gerakan politik fasis yang paling brutal sekaligus terpopuler dibandingkan dengan fasisme di Italia. Gerakan fasis didasarkan pada dukungan massa yang luas. Syarat penting lainnya bagi tumbuhnya fasisme, yaitu pencapaian tahap tertentu dalam perkembangan industri. Ada dua titik temu antara fasisme dengan tingkat industrialisasi yang maju, yaitu aksi yang diperoleh dengan maksud bahwa aksi teror dan propaganda mebutuhkan banyak pengaturan secara teknologis dan teknologi “know-how” serta titik temu lainnya, yaitu sebagai suatu sistem mobilisasi permanen untuk keperluan perang sehingga fasisme tidak mungkin berhasil tanpa keahlian dan sumber daya industri maju.
Di sisi lain, timbul juga pertentangan dalam hubungan antara fasisme dengan industri modern. Dalam setiap masyarakat industri muncul ketegangan sosial dan ekonomi. Ada dua cara untuk menyelesaikan ketengangan tersebut, yaitu dengan cara liberal atau cara paksaan. Negara fasis begitu mengingkari adanya kepentingan yang berbeda dalam masyarakat. Maka, negara fasis itu akan menghilangkan perbedaan-perbedaan itu dengan kekerasan. Oleh karena itu, secara singkat dapat dirumuskan bahwa fasisme adalah cara paksaan untuk mengatasi konflik-konflik dalam masyarakat industri maju.
Dari segi latar belakang sosialnya, fasisme menarik minat dua kelompok secara khusus. Pertama, fasisme menarik sekelompok kecil industriawan dan tuan tanah yang bersedia membiayai gerakan-gerakan fasis dengan harapan bahwa sistem itu dapat melenyapkan serikat buruh bebas. Hal ini terlihat pada tokoh-tokoh pengusaha terkemuka seperti Thyssen dan Krupp di Jerman atau perusahaan Mitsui di Jepang. Sumber dukungan kedua bagi gerakan fasis datang dari kelas menengah bawah terutama kalangan pegawai negeri. Gerakan fasis memanfaatkan ketakutan kalangan ini terhadap penggabungannya dengan kaum proletar serta kecemburuannya terhadap pengusaha melalui pelbagai propaganda. Kalangan ini menganggap bahwa fasisme merupakan penyelamat bagi kedudukan dan prestisenya. Para buruh secara tidak langsung juga terpengaruh oleh propaganda fasisme terkait kecemburuan terhadap para pengusaha.
Kelompok sosial lain yang ikut tertarik oleh propaganda fasisme adalah kelompok militer. Pada tahap awal Nazisme di Jerman, kelompok militernya secara terbuka mendukung Hitler. Sebagian besar puncak kepemimpinan militer Jerman mengetahui bahwa para pemimpin Nazi adalah penjahat dan psikopat. Akan tetapi, mereka tetap mendukung gerakan Nazi sebagai suatu langkah menuju militerisasi rakyat Jerman. Di Italia dan Jepang, pada tahap awal fasisme juga mendapat dukungan yang kuat dari Angkatan Bersenjata. Di Argentina, pemerintahan semi-konstitusional dikudeta oleh pemberontakan yang dipimpin oleh perwira muda, Peron.
Salah satu kondisi yang juga melatarbelakangi tumbuh dan berkembangnya fasisme adalah depresi ekonomi. Depresi ekonomi berdampak bagi munculnya depresi-depresi lainnya di masyarakat. Pada masa depresi, muncul ketakutan dan frustasi yang merusak kepercayaan terhadap demokrasi. Fasisme meraih keuntungan dengan melemahnya kepercayaan kepada metode-metode rasional. Pemilik perusahaan kecil menyalahkan pengusaha besar karena kesulitan yang dihadapinya. Perusahaan besar menyalahkan sikap yang irasional dai serikat buruh. Para buruh merasa bahwa satu-satunya jalan untuk kemakmuran adalah merampok orang kaya. Para petani merasa kurang mendapat imbalan yang wajar atas hasil pertaniannya. Gejala sosial yang paling buruk adalah pengangguran besar-besaran.
Pengangguran tersebut ternyata bukan hanya merupakan penderitaan dan kemelaratan ekonomi, melainkan juga timbulnya perasaan tidak berguna dan dibutuhkan di masyarakat yang berada di luar sektor-sektor produksi masyarakat. Maka, fasisme masuk melalui kekosongan-kekosongan psikologis tersebut. Fasisme menghimpun para penganggur ini dengan membuat mereka merasa “dimiliki” serta mengangkat harga diri mereka dengan menganggap mereka berasal dari kelompok ras yang paling unggul. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa fasisme melintasi semua kelompok sosial. Semua kelompok sosial tersebut disatukan dalam kesamaan-kesamaan yang pokok, yaitu frustasi, kemarahan, dan perasaan tidak aman. Sikap-sikap psikologis ini kemudian dengan mudah dialihkan menjadi sikap kebencian dan agresi melawan musuh-musuh dari dalam maupun luar.
Fasisme dapat menarik massa secara besar-besaran disebabkan oleh propaganda lintas kelas sosial. Ketika Hitler bergabung dengan partai Nazi tahun 1919, ia adalah anggota no 7. Akan tetapi, 14 tahun kemudian Nazisme menjadi gerakan massa terbesar dalam sejarah Jerman. Gerakan ini mencakup semua lapisan masyarakat Jerman, mulai dari buruh hingga keluarga kerajaan dan wakil-wakil negara bagian. Sebelum tahun 1932, jumlah suara pro-Nazi mencapai 14 juta dan bulan Maret 1933 hampir separuh dari seluruh jumlah suara ( 17 juta pemilih ) memberikan suaranya untuk calon-calon dari partai Nazi. Beberapa juta pemilih lagi memberikan suara untuk partai nasionalis dan militer yang tentu saja sebenarnya termasuk dalam kelompok Nazi. Lanjut membaca →
Like this:
Be the first to like this post.