BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Saat ini kondisi pendidikan di Indonesia dalam keadaan yang memprihatinkan, jika di lihat dari kualitas dan tantangan global yang harus di hadapinya. The Jakarta Post terbitan 3 September 2001 telah mempublikasikan hasil survei yang di lakukan oleh The Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berada di Hongkong. Hasil survei itu menunjukkan, betapa rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia saat ini, di mana Indonesia menduduki peringkat ke-12 setelah Vietnam, Thailand, Filipina, Hongkong, Malaysia, Cina, India, Taiwan, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan.
Melihat kondisi seperti ini, sebagai bangsa yang memiliki peradaban dan martabat, tentunya memikirkan bagaimana memajukan pendidikan Indonesia kedepan. Hal ini dapat di lakukan, apabila mau meresapi dari pernyataan Prof. Proopert Lodge yaitu life is education and education is life. Pernyataan Lodge itu mengisyaratkan bahwa antara pendidikan dengan kehidupan hampir-hampir tidak bisa di bedakan sama sekali(Suyanto:2006). Kedua komponen tersebut telah menyatu dalam sebuah kerangka folosofis, bahwa proses dalam pendidikan tidak lain adalah proses bagi manusia dalam mengarungi samudra kehidupan, begitu juga sebaliknya.
Makna filosofis pendidikan adalah proses bagaimana manusia mengenali diri dengan segenap potensi yang dimilikinya dan memahami apa yang tengah dihadapinya dalam realitas kehidupan yang nyata ini. Inilah problem fundamental dari filosofis pendidikan yang kurang banyak dipahami oleh para pakar dan praktisi pendidikan saat ini.
Begitu juga dengan guru dan pemerintah, mereka merupakan kunci (penggerak) pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan sekolah dasar. Sebab sekolah dasar merupakan fondasi bagi pendidikan, untuk pendidikan selanjutnya. Sebagaimana menurut Diknas, sekolah dasar adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia yang ditempuh dalam waktu enam tahun. Lanjut membaca