Sintaksis Bahasa Melayu Klasik dalam Naskah

A. Latar Belakang

Berdasarkan masanya, karya sastra terdiri atas sastra klasik dan modern. Sastra yang diciptakan dalam masyarakat yang kehidupannya masih bercorak tradisional disebut sastra klasik. Adapun sastra modern adalah sastra yang diciptakan masyarakat pada zaman yang kehidupannya sudah berkembang atau sudah maju. Karya sastra diciptakan oleh masyarakat tersebut sebagai wahana untuk mengungkapkan pikiran, gagasan, perasaan, dan kepercayaan mereka (Robson, 1994: 8). Dengan demikian, untuk memahami kehidupan masyarakat dalam suatu kurun waktu, dapat dilakukan dengan memperlajari karya sastra dari masa tersebut. Dengan kata lain, dengan mempelajari sastra klasik, kita dapat mengetahui informasi atau memperoleh gambaran lebih jelas mengenai alam pikiran, adat-istiadat, kepercayaan, dan sistem nilai orang pada zaman lampau (Ikram, 1997: 24).

Indonesiaadalah salah satu negara sumber naskah kuno yang ditandai oleh kawasan yang memiliki huruf daerah. Di Perpustakaan Nasional saja, tercatat 9.626 naskah yang tersimpan. Naskah tersebut berasal dari daerah yang beragam, seperti Aceh,Bali, Makasar, Jawa, dan lain-lain. Selain di Perpustakaaan Nasional, naskah-naskah kuno diIndonesiajuga tersimpan di museum-museum daerah, pesantren, masjid, yayasan, dan pada keluarga-keluarga yang menyimpannya sebagai warisan nenek moyang (Mulyadi, 1994: 11). Lanjut membaca

Bentuk-Bentuk Frase Nominal

Bentuk-Bentuk Frase Nominal dalam Artikel

“Mencari ‘Karya Sastra’ yang Menguntungkan Perempuan?”

pada Jurnal Perempuan No. 30 Tahun 2003[1]

 

A. Pendahuluan

Frase merupakan bagian dari bahasa yang dalam pengkajiannya termasuk ke dalam tataran sintaksis. Frase merupakan satuan gramatikal berupa gabungan kata dengan kata yang bersifat nonpredikatif.[2] Dengan kata lain, frase dapat diartikan sebagai penggabungan kata menjadi salah satu fungsi dalam kalimat.[3]

Banyak ahli bahasa yang telah membahas masalah frase. Akan tetapi, pedoman penulis dalam menyusun tulisan ini adalah buku Tata Wacana Deskriptif Bahasa Indonesia (Kridalaksana: 1999) yang ditulis oleh Harimurti Kridalaksana. Selain itu, penulis juga menggunakan pembahasan dalam buku Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis (Ramlan: 1986) dan Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia (Chaer: 2006) sebagai bandingannya.

Sebagai data dalam pembuatan tulisan ini, penulis menggunakan artikel “Mencari ‘Karya Sastra’ yang Menguntungkan Perempuan?” karya Cok Sawitri yang dimuat dalam Jurnal Perempuan No.30 Tahun 2003.  Penulis akan membahas bentuk-bentuk frase nominal yang dikelompokkan berdasarkan polanya yang terdapat dalam artikel tersebut menurut pandangan tiga orang ahli bahasa Indonesia, yakni Harimurti Kridalaksana, M. Ramlan, dan Abdul Chaer.

Dalam teori yang dibuat oleh Harimurti Kridalaksana, M. Ramlan, dan Abdul Chaer, terdapat perbedaan di antara ketiganya dan masing-masing juga memiliki kekurangan dan kelebihan. Dengan membandingkan ketiganya, kekurangan dari teori yang dibuat oleh salah satu ahli bahasa tersebut dapat dilengkapi oleh teori ahli bahasa yang lainnya. Dengan demikian, tulisan ini dapat memberikan pemahaman secara tuntas tentang bentuk-bentuk frase nominal dan dapat membantu pengajaran tata bahasa Indonesia, khususnya tentang frase nominal. Lanjut membaca

Analisis Komponen Makna Ranah Kata Tendangan dalam Istilah Sepakbola

       I.            Pendahuluan [1]

Setiap kata tersusun atas komponen makna[2] yang berbeda-beda. Dalam setiap komponen tersebut, terdapat kemungkinan adanya kesamaan dan perbedaan dengan komponen yang dimiliki kata lainnya. Sebagai contoh kata bahagia dan kecewa. Dalam kedua kata tersebut diketahui terdapat komponen makna PERASAAN, tetapi dalam kata bahagia juga terkandung komponen makna BERAKIBAT POSITIF PADA DIRI SENDIRI, sedangkan dalam kata kecewa yang terkandung justru sebaliknya, yaitu BERAKIBAT NEGATIF PADA DIRI SENDIRI. Komponen-komponen makna tersebut penting diidentifikasi atau dianalisis, terutama untuk membedakan kata-kata yang berada dalam medan makna atau ranah yang sama. Dalam kaitannya dengan kepentingan analisis komponen, Palmer (1976: 86) menyatakan bahwa “analysis of this kind (COMPONENTIAL ANALYSIS) allows us to provide definition for all these words in terms of a view components.

Dalam kaitannya dengan komponen makna kata, penelitian yang dilakukan dalam ranah olahraga, khususnya sepakbola, sejauh ini belum penulis temukan. Melihat bahwa sepakbola adalah salah satu olahraga yang sangat banyak penggemar dan peminatnya di seluruh dunia, penelitian ini perlu dilakukan agar para penggemar sepakbola dapat memahami benar olahraga yang digemarinya tersebut.

Makalah ini akan membahas komponen makna dalam kata-kata yang berada dalam ranah kata tendangan dalam istilah sepakbola. Tendangan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti ‘sepakan; depakan’. Tendangan merupakan hasil dari verba menendang, dan dalam KBBI, menendang bermakna ‘menyepak; mendepak (dng kaki)’ (2008; 1350).

Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah deskripsi komponen makna dari kata-kata yang berada dalam ranah kata tendangan dalam istilah sepakbola. Adapun hasil penelitian ini dapat digunakan dalam upaya penyusunan kamus istilah olahraga dan dapat pula digunakan untuk pengajaran dasar sepakbola bagi atlet pemula. Lanjut membaca

Kaitan Dialektologi dengan Etnolinguistik, Dialektologi Struktural, dan Dialektologi Generatif

Setiap kelompok manusia yang hidup bersama dan berdampingan sudah pasti berbahasa demi kelancaran dalam komunikasi, sekalipun sangat sederhana. Masyarakat yang telah saling berkomunikasi dan saling mengerti, pada akhirnya, membentuk suatu masyarakat bahasa (Parera, 1991: 26). Setiap masyarakat bahasa memiliki bahasa tertentu hingga akhirnya tercipta ribuan bahasa yang dituturkan oleh masyarakat bahasa dari seluruh dunia. Dalam setiap bahasa, terdapat pula variasi-variasi. Adapun variasi ditentukan oleh letak geografis, tata tingkat dalam masyarakat, atau dapat pula ditentukan oleh profesi masing-masing kelompok penutur dalam batas-batas saling mengerti (Parera, 1991: 26). Variasi bahasa berdasarkan letak geografis disebut dialek (Parera, 1991: 26). Dengan kata lain, dialek adalah variasi bahasa yang muncul dalam lingkup ruang atau spasial.

Cabang ilmu linguistik yang khusus mengkaji dialek disebut dialektologi. Dielektologi, sebagai salah satu cabang ilmu linguistik yang berpijak pada ruang lingkup kajian variasi bahasa secara spasial, secara tak langsung bersentuhan dengan permasalahan bahasa yang terancam punah, kematian bahasa, hak berbahasa-ibu, dan ekologi bahasa (Lauder, 2007: 39). Hal tersebut menandai bahwa dialektologi bukan hanya sekadar pemetaan bahasa. Peta bahasa hanya salah satu alat untuk memvisualkan distribusi variasi bahasa (Lauder, 2007: 25). Setelah pemetaan dilakukan, bahasa kemudian dianalisis dalam kaitannya dengan faktor-faktor gerografis setempat.

Selain dialektologi, terdapat sosiolinguistik yang sama-sama menangani variasi bahasa. Perbedaannya, sosiolinguistik menangani masalah variasi bahasa dalam lingkup strata sosial. Jadi, orientasi penelitian dialektologi bersifat horizontal, sedangkan orientasi penelitian sosiolinguistik bersifat vertikal (Lauder, 2007: 33). Lanjut membaca

Bentuk Afiks dalam Bahasa Melayu Klasik

Bentuk-bentuk Berafiks  pada “Alkisah Cetera yang Kesebelas”

dalam Sejarah Melayu

Afiks adalah bentuk terikat yang bila ditambahkan pada bentuk lain akan mengubah makna gramatikalnya[1]. Proses pemberian afiks pada bentuk dasar disebut afiksasi. Harimurti Kridalaksana, dalam bukunya yang berjudul Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia, mengklasifikasikan afiks menjadi lima jenis. Pertama adalah prefix atau awalan, yaitu afiks yang letaknya di awal bentuk dasar. Afiks yang kedua adalah infiks atau sisipan, yaitu afiks yang disematkan di antara suku bentuk dasar. Ketiga adalah sufiks atau akhiran, yaitu afiks yang letaknya di akhir bentuk dasar. Keempat adalah konfiks, yaitu afiks yang letaknya di awal dan akhir bentuk dasar. Yang terakhir adalah simulfiks, yaitu afiks yang dimanifestasikan dengan cirri suprasegmental yang dileburkan dalam bentuk dasar.

Penggunaan Afiks

Dalam bahasa Melayu klasik yang digunakan pada “Alkisah Cetera yang Kesebelas” dalam Sejarah Melayu karya Shellabear juga terdapat bentuk-bentuk berafiks. Berdasarkan sumber data yang penulis gunakan tersebut, ada tiga jenis afiks yang penulis temukan, yaitu prefiks, sufiks, dan konfiks. Selain itu, penulis juga menemukan kombinasi afiks, yakni beberapa afiks yang digunakan bersamaan dalam membentuk sebuah kata. Berdasarkan sumber data yang penulis gunakan, ada tiga jenis afiks yang penulis temukan, yaitu prefiks, sufiks, dan konfiks. Selain itu, penulis juga menemukan kombinasi afiks, yakni beberapa afiks yang digunakan bersamaan dalam membentuk sebuah kata. Lanjut membaca

Beberapa Kata Pinjaman dalam Bahasa Melayu Klasik

Beberapa Kata Pinjaman dalam Bahasa Melayu Klasik

pada Hikayat Sri Rama Suntingan Achadiati Ikram[1]

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bahasa Indonesia yang digunakan sekarang ini adalah perkembangan dari bahasa Melayu yang digunakan di Nusantara sejak ratusan tahun silam. Banyak perubahan yang terjadi dalam masa-masa perkembangan tersebut. Perubahan-perubahan ini terjadi juga oleh pengaruh suatu bahasa ke bahasa lainnya. Suatu bahasa terkadang menyerap demikian banyak unsur bahasa yang mempengaruhinya sehingga kosakatanya merupakan campuran (Gonda, 1991: 47).

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya peristiwa peminjaman atau penyerapan kosakata asing. Di antaranya diungkapkan oleh Gonda dalam tulisannya “Proses Peminjaman di Asia Tenggara” sebagai berikut. Pertama, banyak peristiwa peminjaman terjadi karena bahasa peminjam tidak mempunyai kata-kata sendiri untuk menggambarkan benda atau gagasan asing yang diperkenalkan melalui pelbagai jenis kontak. Kedua, kata asing dapat membantu seseorang untuk memahami secara lebih cermat dan meyakinkan, untuk mencari ungkapan yang lebih sesuaidan berbobot dalam mengungkapkan nuansa dan perbedaan halus yang tidak atau dirasakan tidak mampu untuk diungkapkan dengan kata-kata dalam bahasanya sendiri. Ketiga, tidak jarang ditemukan contoh kata-kata pinjaman yang mengarah pada kemudahan, keringkasan, dan kehematan. Yang terakhir, kenyataan yang banyak diketahui orang bahwa kata-kata asing seringkali dianggap lebih adab (Gonda, 1991: 49—51). Lanjut membaca

Perubahan Morfemis Bahasa Melayu

Analogi dan Anomali

dalam Perubahan Morfemis Bahasa Melayu:

Analisis Perkembangan Bahasa Melayu Kuna Menjadi Bahasa Indonesia[1]

A.    Pendahuluan

Bahasa Melayu sudah tertuang dalam bentuk tulisan sejak abad ke-7 Masehi. Bahasa Melayu abad ke-7 yang selanjutnya diidentifikasi sebagai bahasa Melayu Kuna ini ditemukan dalam sejumlah prasasti di Sumatra. Prasasti-prasasti tersebut di antaranya adalah prasasti Kedukan Bukit  yang bertarikh 605 Saka (683 Masehi), prasasti Talang Tuwo yang bertarikh 684 Masehi, dan prasasti Kota Kapur yang bertarikh 686 Masehi (Suhardi, dalam Manisnambow dan Haenen, 2002: 15).

Berdasarkan periodisasi bahasa Melayu yang dibuat oleh Harimurti Kridalaksana, bahasa Melayu Kuna—seperti yang digunakan dalam prasasti abad ke-7 Masehi—digunakan dalam kurun abad ke-7 sampai abad ke-14. Adapun bahasa Melayu kini—dalam hal ini bahasa Indonesia—termasuk dalam periode bahasa Melayu Baru yang baru dipergunakan sejak kurun abad ke-20 (Kridalaksana, 1991: 5). Dalam rentang waktu yang cukup lama tersebut, tentu banyak perubahan dalam bahasa Melayu. Perubahan nyata yang terujud dalam bahasa Melayu, salah satunya, adalah struktur lahir.

Struktur lahir bahasa mencakup fonologi, morfologi, dan sintaksis. Perubahan struktur lahir yang akan dipaparkan lebih lanjut dalam tulisan ini adalah perubahan morfemis yang dicakupi bidang morfologi. Perubahan morfemis dalam bahasa Melayu dapat diketahui berdasarkan percontohan bentuk-bentuk morfem yang lain. Dalam meneliti perubahan morfemis suatu bahasa, terdapat dua proses penting yang sudah dikenal sejak zaman Yunani Kuno, yaitu analogi atau keteraturan dan anomali atau ketidakteraturan (Keraf, 1996: 94). Lanjut membaca

Bahasa dan Identitas

Identitas Etnik Berdasarkan Pemakaian Bahasa :

Tinjauan terhadap Komunikasi Antartokoh

dalam Cerpen Lebaran Ini, Saya Harus Pulang Karya Umar Kayam

Bahasa adalah sistem yang memiliki variasi sehingga perbedaan dalam pemakaian bahasa sangat dimungkinkan untuk terjadi. Hal ini terjadi karena bahasa bukan hanya terdiri atas bangun-bangun linguistik. Hal lain yang turut memberi pengaruh penting dalam suatu perujudan bahasa adalah penuturnya. Besarnya peran penutur dalam mengeluarkan bunyi bahasa, pertama-tama, dapat diperhatikan melalui pengertian yang diberikan untuk bahasa, yaitu sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri (Kridalaksana, 2007: 3).

Bahasa dipakai oleh suatu kelompok masyarakat. Dengan demikian, ujud pemakaian bahasa dapat dibedakan berdasarkan kelompok masyarakat pemakainya. Berdasarkan pengertian di atas pula, dapat diuraikan bahwa bahasa mengandung suatu identitas, dalam hal ini adalah kelompok masyarakat. Dengan kata lain, identitas seorang pemakai bahasa dapat ditentukan melalui cara atau gayanya dalam berbahasa. Jadi, dalam kegiatan memahami bahasa, fungsi-fungsi bahasa dalam masyarakat, misalnya mengenai identifikasi diri, perlu ditinjau lebih jauh karena hal tersebutlah, salah-satunya, yang menyebabkan pemakaian bahasa menjadi beragam.

Pemakaian bahasa dapat menjadi lencana etnisitas yang rasial kultural. Seseorang mungkin memilih untuk berbicara dalam bahasa tertentu, dialek, aksen, atau gaya tertentu pada situasi yang berbeda dan untuk tujuan yang berbeda. Istilah kode digunakan untuk variasi pemakaian tersebut. Salah satu contoh keberagaman pemakaian kode bahasa yang akan dipaparkan selanjutnya adalah mengenai pemakaian kode bahasa yang diakibatkan oleh keberagaman kelompok masyarakat yang merupakan identitas pemakai bahasa, yaitu identitas etnik dari pemakai bahasa. Lanjut membaca

Perkembangan Bahasa Austronesia

A.          Pendahuluan

Austronesia merupakan bahasa yang memiliki cakupan wilayah yang besar. Persebaran bahasa Austronesia sampai batas yang telah diketahui saat ini dapat dipastikan telah melalui proses yang panjang. Berbagai penelitian tentang bahasa Austronesia pun masih dilakukan oleh sejumlah pihak. Akan tetapi, sampai saat ini penjelasan mengenai persebaran bahasa Austronesia masih menuai perdebatan di antara para linguis. Buku Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago: Revised Edition (Bellwood: 1997) merupakan salah satu buku yang memberikan penjelasan mengenai perkembangan bahasa Austronesia, lebih khusus lagi pada bab ke-IV. Oleh karena itu, penulis akan memaparkan bab ke-IV pada bagian pembahasan artikel ini agar dapat memberikan gambaran mengnenai perkembangan bahasa Austonesia.

B.           Perkembangan Bahasa Austronesia

Wilayah Indo-Malaysia merupakan wilayah yang memiliki keragaman bahasa yang tinggi. Hampir seluruh bangsa Indo-Malaysia berbicara dengan bahasa yang termasuk ke dalam keluarga bahasa Austronesia. Hanya orang asli semenanjung Malaysia dan beberapa orang dari timur Indonesia yang tidak menggunakan bahasa Austronesia. Bangsa tersebut masing-masing menggunakan bahasa Aslian dan bahasa-bahasa Papua. Dalam keluarga bahasa Austronesia, diperkirakan terdapat 1200 bahasa yang mencakup wilayah Madagaskar hingga ke Pulau Paskah.

Setelah melihat kenyataan tentang bahasa Austronesia, dapat diketahui bahwa asal bahasa tersebut telah melewati masa ekspansi besar-besaran. Untuk menjelaskan ekspansi tersebut,  Swadesh (1964: 575) memberi tiga cara yang dapat dilakukan, yaitu, pertama dengan mencari fakta tentang kesamaan budaya, kedua dengan melihat kesamaan karakteristik bahasa, seperti fonem, kosakata, dan tata bahasanya, ketiga dengan merekontruksi kosakata dasar sampai ditemukan kosakata proto. Lanjut membaca

Asal Usul Bahasa

Berbagai Teori Mengenai Kemunculan Bahasa[1]

Kemajuan peradaban manusia di dunia tidak dapat dipisahkan dari perkembangan bahasa. Beragam bahasa yang ada di dunia sekarang ini berkembang beriringan dengan peradaban di wilayah penutur masing-masing bahasa. Penggunaan bahasa pada manusia beradab sekarang ini tentulah merupakan bagian dari proses perkembangan bahasa yang mungkin saja dimulai sejak kehidupan belum beradab. Berbagai penelitian telah dilakukan oleh para ahli untuk mendapatkan kejelasan mengenai asal-usul terciptanya bahasa. Penelitian-penelitian tersebut dilakukan dengan melibatkan disiplin ilmu lain di samping linguistik yang salah satunya adalah arkeologi.

Berjuta tahun yang lalu, arkeolog menemukan kerangka hominoid, mahluk yang merupakan awal mula manusia, di pelbagai tempat. Setelah temuan tersebut, terdapat pula petunjuk peradaban hidup hominid berupa kebudayaan yang masih primitif. Bersamaan dengan hal itu, bahasa sebagai prasyarat bagi pewarisan tradisional dan pertumbuhan kebudayaan diperkirakan muncul. Awal mula pertumbuhan bahasa ini disebut prabahasa.

Evolusi prabahasa menjadi bahasa yang telah diperkirakan oleh para ahli tidak memiliki bukti tertulis—atau bukti tersebut belum ditemukan. Oleh karena itu, berbagai teori mengenai timbulnya bahasa pun muncul dan berkembang. Lanjut membaca