Penulis : Caesar Anggara A.
Mahasiswa Universitas Indonesia
Pendahuluan
Jerman yang mengalami kekalahan pada Perang Dunia Kedua tidak ingin terpuruk terlalu lama dalam kehancuran. Jerman mulai membangun negaranya kembali yang hancur karena perang dunia tersebut. Keinginan untuk membangun kembali negaranya, tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak kendala yang menghadang akibat dari perang. Kendala-kendala tersebut antara lain modal dan sumber daya manusia. Akan tetapi, kendala terbesar yang dihadapi adalah minimnya sumber daya manusia. Kekosongan ini disebabkan oleh banyaknya pria yang gugur di medan perang, kalaupun masih selamat maka tidak lagi sanggup untuk bekerja. Pria-pria tersebut dibutuhkan untuk dijadikan sebagai tenaga kerja kasar.
Berawal dari Wirtschaftwunder, yaitu Jerman mengalami keajaiban perekonomian karena hanya dalam satu dekade pasca Perang Dunia Kedua, perekonomian Jerman maju pesat. Banyak perusahaan-perusahaan raksasa yang bermunculan. Akan tetapi, kondisi ini tidak diimbangi dengan tersedianya tenaga kerja kasar untuk dipekerjakan di bidang-bidang tertentu, seperti pertambangan. Generasi awal Jerman pasca Perang Dunia Kedua, sangat sedikit sekali dan masih belum bisa bekerja di wilayah-wilayah kasar.
Oleh sebab itu, Jerman mendatangkan tenaga kerja dari luar atau yang disebut Gastarbeit. Jerman melakukan kontrak kerja dengan beberapa negara misalnya Italia, Turki, dan India. Namun, negara Turki yang paling banyak mengirimkan tenaga kerja ke Jerman. Pada awalnya para pekerja tersebut datang ke Jerman hanya seorang diri, tidak lama kemudian mereka membawa serta seluruh keluarganya ke Jerman. Para pekerja tersebut melakukan aktivitas-aktivitas biasa seperti warga asli, salah satunya membuat karya-karya sastra atau disebut Migrantenliteratur.
Para pekerja tamu / asing tersebut kemudian membentuk suatu komunitas-komunitas dengan kesamaan kultur yang disebut diaspora. Individu-individu yang tergabung dalam diaspora tersebut memiliki identitas yang menjadi ciri khas kelompok tersebut. Akan tetapi, identitas-identitas tersebut ada yang masih mencirikan asal usulnya, ada yang sudah melebur dengan kebudayaan yang baru atau disebut integrasi. Masalah-masalah yang menyangkut identitas budaya, integrasi budaya, merupakan inti dari karya-karya sastra yang diangkat oleh pengarang Migrantenliteratur.
Saat ini Migrantenliteratur di Jerman sudah mencapai pada generasi ketiga. Tema yang biasa dipakai oleh pengarang Migrantenlitratur adalah tema kehidupan sehari-hari dan perbedaan budaya antara budaya Jerman dengan budaya imigran. Akan tetapi, tema yang diceritakan bukan tema yang biasa, melainkan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh Gastarbeit pada kehidupan sehari-hari, misalnya kendala bahasa dalam berkomunikasi. Gaya bahasa yang dipakai para pengarang Migrantenliteratur adalah gaya bahasa sehari-hari, non-formal, dan santai.
Dalam artikel ini akan dibahas mengenai beberapa aspek dari tiga pengarang yang dianggap mewakili karya-karya sastra Migrantenliteratur. Ketiga pengarang tersebut adalah Osman Engin, Dilek Güngör, dan Sinasi Dikmen. Aspek yang dibahas adalah latar belakang pengarang, jenis tulisan karya sastra pengarang, gaya bahasa yang digunakan pengarang, keterkaitan antara budaya pendatang dan budaya Jerman serta konflik yang menyertainya.
Lanjut membaca →
Like this:
Be the first to like this post.