Analisis ZonenKinder

PENDAHULUAN

Karya Jana Hensel yang berjudul Zonenkinder ini berkisah tentang kehidupan tokoh ich di Jerman Timur (DDR), yang pada saat itu dikuasai oleh Uni Soviet. Masyarakat DDR mengadakan Montagsdemo sebagai reaksi terhadap pemerintah DDR. Tokoh ich ikut dalam demonstrasi ini, dia tidak mengetahui dengan pasti kemana dia akan pergi dan apa yang sedang terjadi saat itu, tapi yang pasti dia tahu bahwa itu adalah hari yang paling bersejarah bagi negaranya.

Setelah Jerman bersatu, terdapat perubahan-perubahan yang dimulai dari kehidupan sekolah tokoh ich, dan meluas ke berbagai aspek kehidupan, seperti sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lain.

Lanjut membaca

TYPISCH OSSI TYPISCH WESSI (Ost gegen West)

PENDAHULUAN

Karya Michael Jürgs dan Angela Elis yang berjudul Typisch Ossi Typisch Wessi ( Ost gegen West ) ini berkisah tentang penggambaran kehidupan di Jerman Barat dan Jerman Timur. Pada paper ini bagian yang akan dibahas adalah Ost gegen West, di mana pada bagian ini digambarkan cara pandang orang Jerman Timur (Ossi) terhadap warga Jerman Barat (Wessi). Cara pandang dari dua sudut yang berbeda itu akan menjelaskan perbedaan apa saja yang terdapat di antara mereka, serta bagaimana mereka menjalani hidup dalam perbedaan tersebut.

ISI

Bagian awal teks menceritakan tentang keluarga ich. Neneknya bernama Emilie, yang dalam teks diceritakan sebagai seorang yang sangat tabah, kuat,dan kreatif. Meskipun dia dilahirkan dengan hanya mempunyai satu tangan, dia berhasil bertahan hidup pada situasi perang,  serta membesarkan keenam anaknya dengan menjadi penjual susu.

(S.233, P. 2-3, Z.20-23)

So hat sie mit ihren anderthalb Armen den Krieg überstanden, dann die Umsiedlung aus Schlesien in den Osten Deutschlands mit ihren sechs Kindern durchgemacht und auch Sozialismus ist sie angekommen.

Perempuan di Jerman Timur bisa bekerja sebagai insinyur, arsitek, dan pengendara alat-alat berat. Pekerjaan berat yang biasanya dilakukan oleh laki-laki di Jerman Timur dilakukan oleh perempuan  dan mereka dianggap sebagai “Heldin der Arbeit.” Bahkan terdapat pekerjaan yang tidak terdapat di Jerman Barat dan hanya dilakukan oleh perempuan, yaitu Veterinäringeneu. Perempuan yang berkerja seperti ini hanya bisa ditemukan di Jerman Timur dimana hak-hak mereka lebih diperhatikan dan diakui kedudukannya sama seperti laki-laki.

Lanjut membaca

Wacana Budaya Urban Jerman

Pendahuluan

Sekilas tentang Urban, urbanisme, dan urbanisasi

Pertumbuhan manusia yang pesat melahirkan berbagai implikasi di segala aspek. Salah satu aspek yang patut dikaji adalah  ruang hidup bagi manusia itu sendiri. Ruang hidup yang tidak sebanding dengan perkembangan populasi tersebut, akan mendorong manusia membangun tempat untuk hidup. Salah satu konsekuensi nyata dari populasi yang terus meningkat adalah keberadaan kota-kota atau wilayah urban. Jika dilihat dalam konteks kriteria budaya, pengertian kota sendiri adalah sebuah bagian dari perasaan, kumpulan dari adat istiadat dan tradisi yang di dalamnya terbangun relasi masyarakat (society) daripada komunitas (community).[1] Dalam arti sederhana, kota adalah wilayah luas yang memiliki budaya heterogen dan perbedaan sosial. Jika dilihat dari klasifikasi berdasarkan jumlah penduduknya, maka definisi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah sebagai berikut :

  • Kota besar adalah wilayah dengan jumlah penduduk 500.000 orang atau lebih
  • Kota adalah wilayah dengan jumlah penduduk 100.000 orang atau lebih
  • Wilayah urban adalah wilayah dengan jumlah penduduk 20.000 orang atau lebih
  • Wilayah desa adalah wilayah dengan jumlah penduduk kurang dari 20.000 orang

Tentu saja, klasifikasi tersebut setiap negara memiliki konsep yang berbeda.

Lanjut membaca

Sastra Kontemporer Jerman Migrantenliteratur

Pendahuluan

Jerman yang mengalami kekalahan pada Perang Dunia Kedua tidak ingin terpuruk terlalu lama dalam kehancuran. Jerman mulai membangun negaranya kembali yang hancur karena perang dunia tersebut. Keinginan untuk membangun kembali negaranya, tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak kendala yang menghadang akibat dari perang. Kendala-kendala tersebut antara lain modal dan sumber daya manusia. Akan tetapi, kendala terbesar yang dihadapi adalah minimnya sumber daya manusia. Kekosongan ini disebabkan oleh banyaknya pria yang gugur di medan perang, kalaupun masih selamat maka tidak lagi sanggup untuk bekerja. Pria-pria tersebut dibutuhkan untuk dijadikan sebagai tenaga kerja kasar.

Berawal dari Wirtschaftwunder, yaitu Jerman mengalami keajaiban perekonomian karena hanya dalam satu dekade pasca Perang Dunia Kedua, perekonomian Jerman maju pesat. Banyak perusahaan-perusahaan raksasa yang bermunculan. Akan tetapi, kondisi ini tidak diimbangi dengan tersedianya tenaga kerja kasar untuk dipekerjakan di bidang-bidang tertentu, seperti pertambangan. Generasi awal Jerman pasca Perang Dunia Kedua, sangat sedikit sekali dan masih belum bisa bekerja di wilayah-wilayah kasar.

Oleh sebab itu, Jerman mendatangkan tenaga kerja dari luar atau yang disebut Gastarbeit. Jerman melakukan kontrak kerja dengan beberapa negara misalnya Italia, Turki, dan India. Namun, negara Turki yang paling banyak mengirimkan tenaga kerja ke Jerman. Pada awalnya para pekerja tersebut datang ke Jerman hanya seorang diri, tidak lama kemudian mereka membawa serta seluruh keluarganya ke Jerman. Para pekerja tersebut melakukan aktivitas-aktivitas biasa seperti warga asli, salah satunya membuat karya-karya sastra atau disebut Migrantenliteratur.

Para pekerja tamu / asing tersebut kemudian membentuk suatu komunitas-komunitas dengan kesamaan kultur yang disebut diaspora. Individu-individu yang tergabung dalam diaspora tersebut memiliki identitas yang menjadi ciri khas kelompok tersebut. Akan tetapi, identitas-identitas tersebut ada yang masih mencirikan asal usulnya, ada yang sudah melebur dengan kebudayaan yang baru atau disebut integrasi. Masalah-masalah yang menyangkut identitas budaya, integrasi budaya, merupakan inti dari karya-karya sastra yang diangkat oleh pengarang Migrantenliteratur.

Saat ini Migrantenliteratur di Jerman sudah mencapai pada generasi ketiga. Tema yang biasa dipakai oleh pengarang Migrantenlitratur adalah tema kehidupan sehari-hari dan perbedaan budaya antara budaya Jerman dengan budaya imigran. Akan tetapi, tema yang diceritakan bukan tema yang biasa, melainkan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh Gastarbeit pada kehidupan sehari-hari, misalnya kendala bahasa dalam berkomunikasi. Gaya bahasa yang dipakai para pengarang Migrantenliteratur adalah gaya bahasa sehari-hari, non-formal, dan santai.

Dalam artikel ini akan dibahas mengenai beberapa aspek dari tiga pengarang yang dianggap mewakili karya-karya sastra Migrantenliteratur. Ketiga pengarang tersebut adalah Osman Engin, Dilek Güngör, dan Sinasi Dikmen. Aspek yang dibahas adalah latar belakang pengarang, jenis tulisan karya sastra pengarang, gaya bahasa yang digunakan pengarang, keterkaitan antara budaya pendatang dan budaya Jerman serta konflik yang menyertainya.

Lanjut membaca

Sastra Kontemporer Jerman Die Leidenschaft der Anderen

Pendahuluan

„Die Leidenschaft der Anderen“ adalah sebuah buku karya Aysel Özakin yang pertama kali diterbitkan di tahun 1983. Buku tersebut aslinya dalam bahasa Turki, namun diterjemahkan oleh Hanne Egghardt. Buku „Die Leidenschaft der Anderen“ mempunyai 21 bab dan berawal dengan Kleine Autobiographie. Buku karya Aysel Özakin ini merupakan salah satu karya-karya sastra yang diangkat oleh pengarang Migrantenliteratur. Saat ini Migrantenliteratur di Jerman sudah mencapai pada generasi ketiga. Tema yang biasa dipakai oleh pengarang Migrantenlitratur adalah tema kehidupan sehari-hari dan perbedaan budaya antara budaya Jerman dengan budaya imigran. Akan tetapi, tema yang diceritakan bukan tema yang biasa, melainkan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh Gastarbeit pada kehidupan sehari-hari, misalnya kendala bahasa dalam berkomunikasi. Gaya bahasa yang dipakai para pengarang Migrantenliteratur adalah gaya bahasa sehari-hari, non-formal, dan santai.

Aysel Özakin lahir pada tahun 1942 di Urfu, Turki dan merupakan anak dari seorang guru di Urfu. Namun, Aysel tumbuh besar di Izmir sampai akhirnya menjadi murid di salah satu SMA di kota tersebut. Setelah menyelesaikan sekolahnya, dia melanjutkan studinya dengan program studi Roman (Romanistik) di Ankara, Poitiers, Paris, dan Istanbul. Pada tahun 1970, dia berhasil menyelesaikan studinya dengan menulis tentang französische surrealistische Dichtung.

Aysel Özakin kemudian bekerja sebagai guru bahasa Perancis di Ankara. Dari tahun 1973 sampai 1978, dia menjadi dosen di Seklah Pendidikan Guru di Ankara dan juga Istanbul. Namun pada tahun 1973, Aysel sudah mulai menulis dan bahkan dia berhasil meraih beberapa penghargaan bidang literatur di Turki.

Dalam makalah ini, penulis membahas tentang hubungan antara tokoh ich dengan tokoh laki-laki yang berasal dari Jerman, yakni Hans, Max, dan Johannes. Penulis menganalisis dengan menggunakan sudut pandang tokoh Ich dengan menggunakan konsep Das Eigene dan Das Fremde. Hubungan tokoh-tokoh tersebut dalam karya 21 bab ini cukup menarik dibahas karena dapat dikatakan memiliki muatan kisah persahabatan, teman, cinta, keterasingan, kebencian, dll.

Lanjut membaca

Migrantenliteratur dalam Karya Sastrawan Turki

Penulis : Caesar Anggara A.

Mahasiswa Universitas Indonesia

Pendahuluan

Jerman yang mengalami kekalahan pada Perang Dunia Kedua tidak ingin terpuruk terlalu lama dalam kehancuran. Jerman mulai membangun negaranya kembali yang hancur karena perang dunia tersebut. Keinginan untuk membangun kembali negaranya, tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak kendala yang menghadang akibat dari perang. Kendala-kendala tersebut antara lain modal dan sumber daya manusia. Akan tetapi, kendala terbesar yang dihadapi adalah minimnya sumber daya manusia. Kekosongan ini disebabkan oleh banyaknya pria yang gugur di medan perang, kalaupun masih selamat maka tidak lagi sanggup untuk bekerja. Pria-pria tersebut dibutuhkan untuk dijadikan sebagai tenaga kerja kasar.

Berawal dari Wirtschaftwunder, yaitu Jerman mengalami keajaiban perekonomian karena hanya dalam satu dekade pasca Perang Dunia Kedua, perekonomian Jerman maju pesat. Banyak perusahaan-perusahaan raksasa yang bermunculan. Akan tetapi, kondisi ini tidak diimbangi dengan tersedianya tenaga kerja kasar untuk dipekerjakan di bidang-bidang tertentu, seperti pertambangan. Generasi awal Jerman pasca Perang Dunia Kedua, sangat sedikit sekali dan masih belum bisa bekerja di wilayah-wilayah kasar.

Oleh sebab itu, Jerman mendatangkan tenaga kerja dari luar atau yang disebut Gastarbeit. Jerman melakukan kontrak kerja dengan beberapa negara misalnya Italia, Turki, dan India. Namun, negara Turki yang paling banyak mengirimkan tenaga kerja ke Jerman. Pada awalnya para pekerja tersebut datang ke Jerman hanya seorang diri, tidak lama kemudian mereka membawa serta seluruh keluarganya ke Jerman. Para pekerja tersebut melakukan aktivitas-aktivitas biasa seperti warga asli, salah satunya membuat karya-karya sastra atau disebut Migrantenliteratur.

Para pekerja tamu / asing tersebut kemudian membentuk suatu komunitas-komunitas dengan kesamaan kultur yang disebut diaspora. Individu-individu yang tergabung dalam diaspora tersebut memiliki identitas yang menjadi ciri khas kelompok tersebut. Akan tetapi, identitas-identitas tersebut ada yang masih mencirikan asal usulnya, ada yang sudah melebur dengan kebudayaan yang baru atau disebut integrasi. Masalah-masalah yang menyangkut identitas budaya, integrasi budaya, merupakan inti dari karya-karya sastra yang diangkat oleh pengarang Migrantenliteratur.

Saat ini Migrantenliteratur di Jerman sudah mencapai pada generasi ketiga. Tema yang biasa dipakai oleh pengarang Migrantenlitratur adalah tema kehidupan sehari-hari dan perbedaan budaya antara budaya Jerman dengan budaya imigran. Akan tetapi, tema yang diceritakan bukan tema yang biasa, melainkan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh Gastarbeit pada kehidupan sehari-hari, misalnya kendala bahasa dalam berkomunikasi. Gaya bahasa yang dipakai para pengarang Migrantenliteratur adalah gaya bahasa sehari-hari, non-formal, dan santai.

Dalam artikel ini akan dibahas mengenai beberapa aspek dari tiga pengarang yang dianggap mewakili karya-karya sastra Migrantenliteratur. Ketiga pengarang tersebut adalah Osman Engin, Dilek Güngör, dan Sinasi Dikmen. Aspek yang dibahas adalah latar belakang pengarang, jenis tulisan karya sastra pengarang, gaya bahasa yang digunakan pengarang, keterkaitan antara budaya pendatang dan budaya Jerman serta konflik yang menyertainya.

Lanjut membaca

Kritik Sastra dalam Die Weber

Penulis : Caesar Anggara A.

Mahasiswa Kampus FIB Universitas Indonesia

I.          Pendahuluan

Sastra merupakan salah satu dimensi dalam ruang lingkup semesta yang lebih luas, yaitu kebudayaan. Sastra an sich adalah salah satu wahana dalam mengaktualisasikan konsep-konsep ideal dalam diri manusia. Seringkali dalam sebuah karya sastra terkandung berbagai macam ideologi yang merupakan representasi dari gagasan penulis. Di samping itu, tidak jarang sebuah karya sastra tidak hanya berasal dari dunia ide dari penulis, akan tetapi juga merupakan deskripsi imajinatif atas realitas yang beredar dalam masyarakat. Sastra dalam konteks ini berlaku sebagai „pandangan dunia“ yang berperan dalam membentuk, mendukung, menggugat, atau mempermasalahkan suatu ideologi, norma, nilai, yang berlaku dalam masyarakat.

Dalam memahami dan menggali sebuah karya sastra terdapat berbagai macam pendekatan yang dapat dilakukan seperti : pendekatan Hermenetik, Analisis Wacana (Diskurzanalyze), dan Medan Sastra (Literarische Pfeld). Setiap pendekatan tersebut memiliki metode, ciri, ruang lingkup yang menjadi spesifikasinya tersendiri. Dalam paper ini, penulis mengkhususkan pada pendekatan melalui metode Medan Sastra (Literarische Pfeld).

Secara sederhana, Medan Sastra (Literarische Pfeld) dapat diartikan sebagai suatu frame untuk menilai bagaimana sastra bisa menjadi otonom dan berhadapan dengan berbagai medan lainnya, misalkan Medan Kekuasaan (Macht Pfeld).  Menurut Bourdieu, Medan Sastra terdapat pada agen-agen bidang sosial (pengarang, penerbit, pengkritik sastra) dan menyangkut aturan-aturan yang membentuk ruang-ruang spesifik. Ruang-ruang ini memiliki struktur khusus sendiri yang  terbagi menjadi dua, yaitu pertama tergantung pada logika pasar (sebuah karya sastra adalah objek komersial diantara banyak objek lainnya) dan kedua mengabaikan logika pasar (nilai sastra adalah sebuah simbol bukan nilai praktis). Jadi menurut Bourdieu, Medan Sastra dapat dicirikan dengan eksistensi dari dua ruang, yaitu ruang komersial dari pasar publik dan ruang terbatas yang nilai simbol merupakan faktor dominan. Medan Sastra merupakan konflik yang tidak berakhir seperti medan pertarungan. Dalam hal ini selalu terdapat definisi yang berbeda dalam kesusastraan. Agen utama dari ruang ini, yaitu penulis, terpengaruh oleh modal sosial dan budaya dirinya, diwarisi latar belakang keluarganya, dan inheren dengan habitus-nya.

Lanjut membaca

Jerman sebagai Bangsa:Tinjauan Historis

Penulis : Caesar Anggara Adhiputra

Kampus Universitas Indonesia

I. PENDAHULUAN

Sebagai salah satu negara modern di Eropa, terbentuknya Jerman sebagai sebuah negara tidak terlepas dari perjalanan panjang sejarahnya. Menurut Ernest Renan dalam artikelnya, bangsa modern itu adalah suatu hasil historis yang ditimbulkan oleh suatu deretan kejadian yang semua menuju ke satu arah, maka demikian juga Jerman timbul sebagai suatu hasil historis dengan deretan kejadian yang menuju pembentukan Jerman yang bersatu. Proses pembentukan Jerman bersatu tersebut tidak dilalui dengan hal-hal indah, tetapi perjuangan baik melalui peperangan maupun beragam jalan damai. Menurut Ernest Renan bahwa salah satu aspek yang menyebabkan terjadinya persatuan, yaitu dengan jalan kekerasan. Kekerasan melalui peperangan pun terjadi dalam sejarah Jerman.

Dalam uraian nanti, akan dijelaskan sejarah Jerman dengan dimulai dengan perpindahan suku-suku bangsa pada abad pertama Masehi, yang nantinya menjadi cikal bakal rakyat Jerman. Uraian dilanjutkan dengan Abad Pertengahan yang penuh dengan perselisihan dan peperangan keluarga-keluarga besar. Ernest Renan menuliskan bahwa persatuan juga terlaksana oleh suatu dinasti. Sebelum kelahiran Jerman, di Jerman terdapat berbagai dinasti keluarga yang berkuasa dan memegang peranan penting dalam pemerintahan. Keluarga-keluarga besar tersebut seperti ciri khas umumnya, menerapkan sistem feodal. Sistem yang begitu memenjara rakyat Jerman dalam penderitaan. Sebaliknya, Renan menuliskan lagi bahwa Jerman timbul dari semangat umum yang meskipun lambat, akhirnya mengalahkan tindakan sewenang-wenang dari sistem feodal. Selalu ada benih yang mempelopori pembentukan sesuatu. Demikian juga dengan Jerman, yang timbul dari benih-benih yang telah disebutkan, maupun nantinya yang akan dijelaskan lebih jauh dalam uraian.

Seperti yang telah disebutkan di atas, suatu negara pasti memiliki perjalanan panjang dalam sejarahnya. Penulis tidak memungkinkan untuk menjelaskan keseluruhan perjalanan historis Jerman dalam tulisan ini. Oleh karena itu, penulis membatasi penjelasan singkat ini hingga perkembangan negara Prusia yang di kemudian menjadi inti negara Jerman dan tercapainya persatuan Jerman pada tahun 1871. Terlepas dari terminologi bangsa yang dilihat secara struktural, penulis menekankan bahwa pada masa tersebut telah terbentuk bangsa Jerman yang merujuk pada konsep bangsa dari Ernest Renan. Hal ini terlihat dari berbagai aspek yang dikemukakan oleh Ernest Renan yang menjadi dasar penulis untuk memberikan kesimpulan awal tersebut.

Lanjut membaca