Ayooo Ikuti Pelatihan Bersertifikasi GRATIS!!!!
A. Pelatihan Bahasa Asing
- Bahasa Mandarin
- Bahasa Arab
- Bahasa Inggris
Syarat:
- Laki-laki/Perempuan
- SMA Sederajat
- Ekonomi Menengah ke bawah
- Diutamakan domisili sekitar Beji dan Depok Lanjut membaca
Ayooo Ikuti Pelatihan Bersertifikasi GRATIS!!!!
A. Pelatihan Bahasa Asing
Syarat:
Kami sebuah lembaga kursus privat bahasa yang sedang berkembang, Sprache Space, mengajak rekan-rekan mahasiswa untuk bergabung bersama kami. Jika kalian tertarik untuk bergabung, berikut persyaratan yang harus dipenuhi.
Job Description:
Mengajar privat di daerah Jabodetabek
Syarat:
Bagi yang berminat silakan Kirim Lamaran, CV, Foto, Sertifikat Mengajar (jika ada) ke:
Further Information:
Phone/SMS: 085718070860 / 081806403041
Your Trusted Language Course Partner
Jl. Joglo No.45 Kukusan, Beji, Depok, Jawa Barat
Cinta adalah kata penanda. Petanda cinta dalam dunia nyata tidak berujud konkret. Tetapi, dapatkah petanda cinta tersebut dibahasakan? Tentu saja. Para penyusun kamus pun sudah banyak memberikan bahasanya untuk petanda cinta, melalui definisi cinta.
Pramanik (2005) dalam tesisnya mengategorikan cinta ke dalam medan makna suka. Artinya, hubungan antara cinta dan suka bersifat vertikal—atau berhiponimi. Ada ketercakupan makna cinta dalam suka. Hal ini karena cinta termasuk ‘reaksi perasaan positif yang timbul karena merasa suka terhadap seseorang atau sesuatu’ (Pramanik, 2005: 81). Jadi, cinta sebagai penanda mengabstraksikan sebuah perasaan suka yang positif. Perasaan suka positif bagaimana yang “tersimpan” dalam cinta? Sepertinya, akan lebih mudah memahami cinta bila cinta sebagai kata penanda itu digunakan dalam sebuah konteks.
Berdasarkan kamus cinta bermakna ‘1 suka sekali; sayang benar; 2 kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan); 3 ingin sekali; berharap sekali; rindu; 4 susah hati (khawatir); risau’ (KBBI, 2003: 215). Dalam KBBI saja, banyak makna yang ditawarkan untuk cinta. Bukankah itu menandai bahwa makna cinta sulit ditentukan bila hanya secara leksikal atau tanpa konteks? Perhatikan kutipan berikut. Lanjut membaca
Setiap kelompok manusia yang hidup bersama dan berdampingan sudah pasti berbahasa demi kelancaran dalam komunikasi, sekalipun sangat sederhana. Masyarakat yang telah saling berkomunikasi dan saling mengerti, pada akhirnya, membentuk suatu masyarakat bahasa (Parera, 1991: 26). Setiap masyarakat bahasa memiliki bahasa tertentu hingga akhirnya tercipta ribuan bahasa yang dituturkan oleh masyarakat bahasa dari seluruh dunia. Dalam setiap bahasa, terdapat pula variasi-variasi. Adapun variasi ditentukan oleh letak geografis, tata tingkat dalam masyarakat, atau dapat pula ditentukan oleh profesi masing-masing kelompok penutur dalam batas-batas saling mengerti (Parera, 1991: 26). Variasi bahasa berdasarkan letak geografis disebut dialek (Parera, 1991: 26). Dengan kata lain, dialek adalah variasi bahasa yang muncul dalam lingkup ruang atau spasial.
Cabang ilmu linguistik yang khusus mengkaji dialek disebut dialektologi. Dielektologi, sebagai salah satu cabang ilmu linguistik yang berpijak pada ruang lingkup kajian variasi bahasa secara spasial, secara tak langsung bersentuhan dengan permasalahan bahasa yang terancam punah, kematian bahasa, hak berbahasa-ibu, dan ekologi bahasa (Lauder, 2007: 39). Hal tersebut menandai bahwa dialektologi bukan hanya sekadar pemetaan bahasa. Peta bahasa hanya salah satu alat untuk memvisualkan distribusi variasi bahasa (Lauder, 2007: 25). Setelah pemetaan dilakukan, bahasa kemudian dianalisis dalam kaitannya dengan faktor-faktor gerografis setempat.
Selain dialektologi, terdapat sosiolinguistik yang sama-sama menangani variasi bahasa. Perbedaannya, sosiolinguistik menangani masalah variasi bahasa dalam lingkup strata sosial. Jadi, orientasi penelitian dialektologi bersifat horizontal, sedangkan orientasi penelitian sosiolinguistik bersifat vertikal (Lauder, 2007: 33). Lanjut membaca
Bentuk-bentuk Berafiks pada “Alkisah Cetera yang Kesebelas”
dalam Sejarah Melayu
Afiks adalah bentuk terikat yang bila ditambahkan pada bentuk lain akan mengubah makna gramatikalnya[1]. Proses pemberian afiks pada bentuk dasar disebut afiksasi. Harimurti Kridalaksana, dalam bukunya yang berjudul Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia, mengklasifikasikan afiks menjadi lima jenis. Pertama adalah prefix atau awalan, yaitu afiks yang letaknya di awal bentuk dasar. Afiks yang kedua adalah infiks atau sisipan, yaitu afiks yang disematkan di antara suku bentuk dasar. Ketiga adalah sufiks atau akhiran, yaitu afiks yang letaknya di akhir bentuk dasar. Keempat adalah konfiks, yaitu afiks yang letaknya di awal dan akhir bentuk dasar. Yang terakhir adalah simulfiks, yaitu afiks yang dimanifestasikan dengan cirri suprasegmental yang dileburkan dalam bentuk dasar.
Penggunaan Afiks
Dalam bahasa Melayu klasik yang digunakan pada “Alkisah Cetera yang Kesebelas” dalam Sejarah Melayu karya Shellabear juga terdapat bentuk-bentuk berafiks. Berdasarkan sumber data yang penulis gunakan tersebut, ada tiga jenis afiks yang penulis temukan, yaitu prefiks, sufiks, dan konfiks. Selain itu, penulis juga menemukan kombinasi afiks, yakni beberapa afiks yang digunakan bersamaan dalam membentuk sebuah kata. Berdasarkan sumber data yang penulis gunakan, ada tiga jenis afiks yang penulis temukan, yaitu prefiks, sufiks, dan konfiks. Selain itu, penulis juga menemukan kombinasi afiks, yakni beberapa afiks yang digunakan bersamaan dalam membentuk sebuah kata. Lanjut membaca
Beberapa Kata Pinjaman dalam Bahasa Melayu Klasik
pada Hikayat Sri Rama Suntingan Achadiati Ikram[1]
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bahasa Indonesia yang digunakan sekarang ini adalah perkembangan dari bahasa Melayu yang digunakan di Nusantara sejak ratusan tahun silam. Banyak perubahan yang terjadi dalam masa-masa perkembangan tersebut. Perubahan-perubahan ini terjadi juga oleh pengaruh suatu bahasa ke bahasa lainnya. Suatu bahasa terkadang menyerap demikian banyak unsur bahasa yang mempengaruhinya sehingga kosakatanya merupakan campuran (Gonda, 1991: 47).
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya peristiwa peminjaman atau penyerapan kosakata asing. Di antaranya diungkapkan oleh Gonda dalam tulisannya “Proses Peminjaman di Asia Tenggara” sebagai berikut. Pertama, banyak peristiwa peminjaman terjadi karena bahasa peminjam tidak mempunyai kata-kata sendiri untuk menggambarkan benda atau gagasan asing yang diperkenalkan melalui pelbagai jenis kontak. Kedua, kata asing dapat membantu seseorang untuk memahami secara lebih cermat dan meyakinkan, untuk mencari ungkapan yang lebih sesuaidan berbobot dalam mengungkapkan nuansa dan perbedaan halus yang tidak atau dirasakan tidak mampu untuk diungkapkan dengan kata-kata dalam bahasanya sendiri. Ketiga, tidak jarang ditemukan contoh kata-kata pinjaman yang mengarah pada kemudahan, keringkasan, dan kehematan. Yang terakhir, kenyataan yang banyak diketahui orang bahwa kata-kata asing seringkali dianggap lebih adab (Gonda, 1991: 49—51). Lanjut membaca
Analogi dan Anomali
dalam Perubahan Morfemis Bahasa Melayu:
Analisis Perkembangan Bahasa Melayu Kuna Menjadi Bahasa Indonesia[1]
A. Pendahuluan
Bahasa Melayu sudah tertuang dalam bentuk tulisan sejak abad ke-7 Masehi. Bahasa Melayu abad ke-7 yang selanjutnya diidentifikasi sebagai bahasa Melayu Kuna ini ditemukan dalam sejumlah prasasti di Sumatra. Prasasti-prasasti tersebut di antaranya adalah prasasti Kedukan Bukit yang bertarikh 605 Saka (683 Masehi), prasasti Talang Tuwo yang bertarikh 684 Masehi, dan prasasti Kota Kapur yang bertarikh 686 Masehi (Suhardi, dalam Manisnambow dan Haenen, 2002: 15).
Berdasarkan periodisasi bahasa Melayu yang dibuat oleh Harimurti Kridalaksana, bahasa Melayu Kuna—seperti yang digunakan dalam prasasti abad ke-7 Masehi—digunakan dalam kurun abad ke-7 sampai abad ke-14. Adapun bahasa Melayu kini—dalam hal ini bahasa Indonesia—termasuk dalam periode bahasa Melayu Baru yang baru dipergunakan sejak kurun abad ke-20 (Kridalaksana, 1991: 5). Dalam rentang waktu yang cukup lama tersebut, tentu banyak perubahan dalam bahasa Melayu. Perubahan nyata yang terujud dalam bahasa Melayu, salah satunya, adalah struktur lahir.
Struktur lahir bahasa mencakup fonologi, morfologi, dan sintaksis. Perubahan struktur lahir yang akan dipaparkan lebih lanjut dalam tulisan ini adalah perubahan morfemis yang dicakupi bidang morfologi. Perubahan morfemis dalam bahasa Melayu dapat diketahui berdasarkan percontohan bentuk-bentuk morfem yang lain. Dalam meneliti perubahan morfemis suatu bahasa, terdapat dua proses penting yang sudah dikenal sejak zaman Yunani Kuno, yaitu analogi atau keteraturan dan anomali atau ketidakteraturan (Keraf, 1996: 94). Lanjut membaca
Identitas Etnik Berdasarkan Pemakaian Bahasa :
Tinjauan terhadap Komunikasi Antartokoh
dalam Cerpen Lebaran Ini, Saya Harus Pulang Karya Umar Kayam
Bahasa adalah sistem yang memiliki variasi sehingga perbedaan dalam pemakaian bahasa sangat dimungkinkan untuk terjadi. Hal ini terjadi karena bahasa bukan hanya terdiri atas bangun-bangun linguistik. Hal lain yang turut memberi pengaruh penting dalam suatu perujudan bahasa adalah penuturnya. Besarnya peran penutur dalam mengeluarkan bunyi bahasa, pertama-tama, dapat diperhatikan melalui pengertian yang diberikan untuk bahasa, yaitu sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri (Kridalaksana, 2007: 3).
Bahasa dipakai oleh suatu kelompok masyarakat. Dengan demikian, ujud pemakaian bahasa dapat dibedakan berdasarkan kelompok masyarakat pemakainya. Berdasarkan pengertian di atas pula, dapat diuraikan bahwa bahasa mengandung suatu identitas, dalam hal ini adalah kelompok masyarakat. Dengan kata lain, identitas seorang pemakai bahasa dapat ditentukan melalui cara atau gayanya dalam berbahasa. Jadi, dalam kegiatan memahami bahasa, fungsi-fungsi bahasa dalam masyarakat, misalnya mengenai identifikasi diri, perlu ditinjau lebih jauh karena hal tersebutlah, salah-satunya, yang menyebabkan pemakaian bahasa menjadi beragam.
Pemakaian bahasa dapat menjadi lencana etnisitas yang rasial kultural. Seseorang mungkin memilih untuk berbicara dalam bahasa tertentu, dialek, aksen, atau gaya tertentu pada situasi yang berbeda dan untuk tujuan yang berbeda. Istilah kode digunakan untuk variasi pemakaian tersebut. Salah satu contoh keberagaman pemakaian kode bahasa yang akan dipaparkan selanjutnya adalah mengenai pemakaian kode bahasa yang diakibatkan oleh keberagaman kelompok masyarakat yang merupakan identitas pemakai bahasa, yaitu identitas etnik dari pemakai bahasa. Lanjut membaca
A. Pendahuluan
Austronesia merupakan bahasa yang memiliki cakupan wilayah yang besar. Persebaran bahasa Austronesia sampai batas yang telah diketahui saat ini dapat dipastikan telah melalui proses yang panjang. Berbagai penelitian tentang bahasa Austronesia pun masih dilakukan oleh sejumlah pihak. Akan tetapi, sampai saat ini penjelasan mengenai persebaran bahasa Austronesia masih menuai perdebatan di antara para linguis. Buku Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago: Revised Edition (Bellwood: 1997) merupakan salah satu buku yang memberikan penjelasan mengenai perkembangan bahasa Austronesia, lebih khusus lagi pada bab ke-IV. Oleh karena itu, penulis akan memaparkan bab ke-IV pada bagian pembahasan artikel ini agar dapat memberikan gambaran mengnenai perkembangan bahasa Austonesia.
B. Perkembangan Bahasa Austronesia
Wilayah Indo-Malaysia merupakan wilayah yang memiliki keragaman bahasa yang tinggi. Hampir seluruh bangsa Indo-Malaysia berbicara dengan bahasa yang termasuk ke dalam keluarga bahasa Austronesia. Hanya orang asli semenanjung Malaysia dan beberapa orang dari timur Indonesia yang tidak menggunakan bahasa Austronesia. Bangsa tersebut masing-masing menggunakan bahasa Aslian dan bahasa-bahasa Papua. Dalam keluarga bahasa Austronesia, diperkirakan terdapat 1200 bahasa yang mencakup wilayah Madagaskar hingga ke Pulau Paskah.
Setelah melihat kenyataan tentang bahasa Austronesia, dapat diketahui bahwa asal bahasa tersebut telah melewati masa ekspansi besar-besaran. Untuk menjelaskan ekspansi tersebut, Swadesh (1964: 575) memberi tiga cara yang dapat dilakukan, yaitu, pertama dengan mencari fakta tentang kesamaan budaya, kedua dengan melihat kesamaan karakteristik bahasa, seperti fonem, kosakata, dan tata bahasanya, ketiga dengan merekontruksi kosakata dasar sampai ditemukan kosakata proto. Lanjut membaca
A. Pendahuluan
Bahasa Melayu, berdasarkan sumber tertulis, sudah digunakan di wilayah yang kini disebut Indonesia sejak sekitar abad ke-7 masehi. Perkembangan bahasa Melayu dari awal penggunaannya dalam bahasa tulis hingga sekarang dapat dibagi atas beberapa periode. Adapun periode bahasa Melayu menurut Kridalaksana adalah sebagai berikut. Periode pertama disebut bahasa Melayu Kuna yang meliputi abad ke-7 hingga abad ke-14. Periode kedua adalah bahasa Melayu Tengahan atau bahasa Melayu Klasik yang meliputi kurun abad ke-14 hingga abad ke-18. Periode ketiga disebut bahasa Melayu Peralihan yang mencakup kurun abad ke-19. Periode terakhir adalah bahasa Melayu Baru yang dipergunakan sejak awal abad 20 (1991: 5).
Bahasa Indonesia yang termasuk dalam periode bahasa Melayu Baru jelas merupakan keturunan dari bahasa Melayu yang sudah digunakan selama ratusan tahun di wilayah Indonesia. Dalam kurun waktu penggunaan yang panjang tersebut, tentu banyak unsur kebahasaan yang mengalami perubahan. Salah satunya karena wilayah Indonesia telah dimasuki banyak pengaruh asing. Namun, masih banyak pula unsur kebahasaan yang bertahan meskipun tidak seratus persen masih sama.
Bentuk-bentuk berpartikel yang kerap ditemukan dalam teks berbahasa Indonesia merupakan salah satu konstruksi sintaktis yang masih bertahan dari perkembangan bahasa Melayu periode terdahulu. Adapun yang disebut partikel adalah ‘kata yang biasanya tidak dapat diderivasikan atau diinfleksikan yang mengandung makna gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal’ (Kridalaksana. 2001: 155). Oleh karena tidak mengandung makna leksikal, keberadaan partikel harus beriringan dengan bentuk (atau kata) lain. Fungsinya adalah untuk menegaskan atau membentuk introgativa. Partikel yang dikenal dalam bahasa Indonesia adalah kah, tah, pun, dan lah. Lanjut membaca