Birokrasi Kerajaan Majapahit

Penulis : Sri Pujianti

Mahasiswi Sejarah Universitas Indonesia

PENDAHULUAN

Sebuah kerajaan yang berdiri pada masa Indonesia masa awal telah memiliki hierarki yang cukup baik, seperti struktur pemerintahan yang turun temurun, struktur ekonomi, tatanegara kerajaan, bahkan birokrasi yang rumit pun telah ada. Akan tetapi hal itu sulit untuk diungkapkan dalam bahasa yang menarik, ditambah lagi sulitnya memahami bahasa-bahasa yang ada dalam prasasti-prasasti yang menyimpan banyak cerita mengenai kehidupan zaman kerajaan pada abad-abad awal, kerajaan Majapahit salah satunya.

Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan kuno yang cukup banyak diulas mengenai kehidupan kerajaannya, baik struktur pemerintahan, raja-raja yang pernah berkuasa, maupun kehidupan masyarakatnya. Dari sumber-sumber yang telah ditemukan dan dipelajari oleh para ahli di dapat sebuah kesimpulan awal bahwa kerajaan Majapahit memiliki kekuasaan yang bersifat teritorial dan disentralisasi. Hal ini tergambar dari cerita yang terungkap umumnya berkisar pada masa keemasan Majapahit, sehingga tergambar bahwa kehidupan kerajaan Majapahit tak banyak berubah dari pemerintahan raja yang satu dengan raja berikutnya.

Pada makalah ini akan dibahas mengenai sistem birokrasi kerajaan Majapahit, terutama sistem birokrasi pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk. Pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk, kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya dan pada masa ini juga sistem pemerintahan kerajaan Majapahit mengalami pembaharuan. Sistem birokrasi dalam sebuah kerajaan mempunyai peranan penting, karena mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan jalannya pemerintahan kerajaan seperti pergantian raja maupun pengangkatan aparatur kerajaan.

Kerajaan Majapahit dapat dikatakan sudah memiliki sistem birokrasi yang lengkap yang mencakup segala macam wewenang dan tugas dari aparatur pemerintahan. Berikut ini akan dibahas mengenai sistem birokrasi kerajaan Majapahit.

Lanjut membaca

Perubahan Lingkungan di Kepulauan Pasifik

Penulis : Irfan Afriandu

Mahasiswa Arkeologi Kampus Universitas Indonesia

Dugaan stereotypic pulau pacific sebagai suatu ekologi yang tidak mengalami perubahan dengan kesamaan batu karang, danau di tepi laut (lagoon), dan perbukitan di hutan tidak akan jauh dari kenyataan sebenarnya. Ekosistem pulau polinesia menunjukkan variabilitas lingkungan pada range yang sangat luar biasa dengan konsekuensi yang signifikan untuk adaptasi secara teknologi dan perilaku social. Kolonisasi nelayan yang tiba di Marqueses, sebagai contohnya, terpaksa harus memodifikasi strategi menangkap ikan mereka dari strategi yang sebelumnya mereka gunakan pada lagoon tropikal di polinesia barat. Hal ini dan perubahan-perubahan lain pada lingkungan yang dihadapi oleh kolonisasi di polionesia merupakan proses permulaan yang signifikan yang akan mengarahkan pada perbedaaan masyarakat polinesia. Bagaimanapun juga peranan lingkungan dalam perubahan budaya jauh lebih komplex dibandingkan dengan variabilitas geografis antar pulau. Semakin banyak arkeologis di polinesia telah menyadari aspek dinamika dari ekosistem pulau yang terus berubah sepanjang waktu dan hal ini akan menjadi fokus dari bab ini.

Dinamika lingkungan di polinesia dihasilkan sebanyak atau lebih, dari perbuatan yang dimiliki oleh manusia sebagai pross alamiah. Pada lingkungan akademis tertentu sebagai lingkungan yang populer telah muncul tesis yang mengungkapkan bahwa orang-orang oceania prasejarah sangat gemar mempraktekkan ‘Percakapan etnik’ yang mengarah pada kebiasaan di pulau mereka.dan perubahan ekologikal yang utama tidak terjadi hingga setelah kedatangan orang eropa. Bukti terbaru menunjukkan bahwa pandangan tersebut tidak benar dan seseorang menduga bahwa skala kebenaran dari pengaruh manusia prasejarah pada pulau pasifik tidak sepenuhnya tercakup baik oleh ilmuan prasejarah atau ilmuan alamiah (Kirch 1982a; 1982b; 1983b; Springgs 1981). Seperti yang dikatakan oleh geografer Perancis Ravault mengenai Tahiti: ‘le milieu Physique est plus ou moins fragile, mais dans une large mesure, ce sont les hommes qui en decident’ (1980:52). Pada bab ini, data arkeologi dan lingkungan-palaco disusun untuk mendemonstrasikan bahwa masyarakat polinesia secara aktif termanipulasi, termodifikasi, dan pada waktunya mendegradasi kebiasaan mereka di pulau tersebut menghasilkan perubahan ekologi yang penuh dengan konsekuensi besar untuk arah evolusioner dari masyarakat polinesia.

Lanjut membaca

Tahap Pembangunan Candi

Penulis : Egga Pramuditya

Mahasiswa Arkeologi Kampus Universitas Indonesia

Tahap-Tahap Pembangunan Candi

Candi biasanya dibangun atas perintah dari seorang tokoh yang terpandang atau seorang raja. Seseorang yang memiliki keinginan untuk membangun candi disebut Yajamana (sponsor). Ia kemudian menghubungi kelompok Silpin (seniman sekaligus seorang pendeta) yang telah menjadi Acharryya.

Menurut kitab Nanasara-Silpasastra (kitab pedoman membangun candi), kelompok silpin dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

  1. Sthapati, sang arsitek perencana, yang berperan penting dalam pelaksanaan pembangunan,
  2. Sutragrahin ialah insinyur sipil atau ahli tekhnik sipil yang menjadi pemimpin umum,
  3. Taksakha atau pemahat candi, dan
  4. Vardhakin atau pengukir ornamen candi.

Lanjut membaca

Tentang Yoni

Penulis : Egga Pramuditya

Mahasiswa Arkeologi Universitas Indonesia

Pada bangunan candi yang berlatarkan agama Hindu biasanya terdapat arca-arca Dewa Siwa, Agastya, Durga, dan Ganesha. Masing-masing arca tersebut menempati ruang pada arah mata angin tertentu, yaitu Agastya menempati relung sebelah selatan, Durga di sebelah utara, Ganesha di sebelah timur atau barat, dan Siwa di pusat. Siwa sebagai dewa utama mempunyai sejumlah nama lain, di antaranya adalah Mahadewa, Isana, dan Rudra. Penggambaran Siwa selain sebagai manusia, seringkali digambarkan dalam bentuk lingga. Lingga yang digambarkan sebagai kelamin laki-laki biasanya dilengkapi dengan Yoni sebagai kelamin wanita. Persatuan antara Lingga dan Yoni melambangkan kesuburan. Dalam mitologi Hindu, yoni merupakan penggambaran dari Dewi Uma yang merupakan salah satu sakti (istri) Siwa.

Yoni adalah landasan lingga yang melambangkan kelamin wanita (vagina). Pada permukaan yoni terdapat sebuah lubang berbentuk segi empat di bagian tengah – untuk meletakkan lingga – yang dihubungkan dengan kehadiran candi.

Yoni merupakan bagian dari bangunan suci dan ditempatkan di bagian tengah ruangan suatu bangunan suci. Yoni biasanya dipergunakan sebagai dasar arca atau lingga. Yoni juga dapat ditempatkan pada ruangan induk candi seperti Candi Jawi di Jawa Timur. Berdasarkan konsep pemikiran Hindu, Yoni adalah indikator arah letak candi.

Lanjut membaca