Konsep Tajalli Ibn Arabi dan Etika Terhadap Alam

“Jika hamba-Ku mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta”.

Dalam kehidupan modern, sering dibedakan antara kebenaran Tuhan dengan kebenaran manusia. Sehingga teologi harus diturunkan pada level kemanusiaan (antropomorfisme). Ketuhanan baru berarti, jika mampu menyelesaikan dan berangkat dari paradigma kemanusiaan. Sampai-sampai sekularisme mensyaratkan “hilangnya Tuhan” demi kemajuan dunia.

Kita tentu bertanya, bagaimana bisa ciptaan terbebas dari pencipta? Bisa kata Newton, sebab alam seperti jam yang memiliki mesin sendiri. Jadi, setelah Tuhan mencipta “jam” itu, maka Dia dianggap nganggur. Manusia dengan akalnya telah mampu melihat dan bahkan menguasai mesin (hukum alam) yang membuat jam berdetak. Maka dimana lagi tersedia ruang bagi Tuhan.

Dalam makalah ini akan kami sampaikan pemikiran Tajjali Ibnu arobi dan implikasinya tentang sikap/etika terhadap lingkungan/alam.

Latar Kehidupan

Bernama lengkap Abu Bakr Muhammad ibn al-‘Arabi al-Hatimi al-Tai, sufi asal Murcia, Spanyol ini lahir pada tanggal 17 Ramadhan 560 H bertepatan dengan 28 Juli 1165. Dirinya dijuluki ”Syaikh al-Akbar” (Sang Mahaguru) dan ”Muhyiddin” (”Sang Penghidup Agama”). Kendati tidak mendirikan tarekat populer—atau agama massa menurut istilah Fazlur Rahman—pengaruh Ibn ‘Arabi atas para sufi meluas dengan cepat, melalui murid-murid terdekatnya yang mengulas ajaran-ajaran dengan terminologi intelektual maupun filosofis (Chittick, dalam Nasr (ed.), 2003: 64)

Ayah Ibn ‘Arabi, ‘Ali, adalah pegawai Muhammad ibn Sa’id ibn Mardanisy, penguasa Murcia, Spanyol. Ketika Ibn ’Arabi berusia tujuh tahun, Murcia ditaklukkan oleh Dinasti al-Muwahiddun (al-Mohad) sehingga ’Ali membawa pergi keluarganya ke Sevilla.2 Di tempat itu, sekali lagi dirinya menjadi pegawai pemerintahan. Ia memiliki status sosial yang tinggi. Buktinya, salah satu adik istrinya, Yahya ibn Yughan, menjadi penguasa kota Tlemcen di Algeria. Fakta yang menarik adalah bahwa di kemudian hari, sang paman akhirnya menanggalkan segala bentuk kekuasaan dunia pada pertengahan masa pemerintahannya dan beralih menjadi seorang sufi dan zahid. Ibn ’Arabi pun menyebutkan dua orang pamannya yang menjadi sufi (Addas, 2004: 43-4)

Pada masa mudanya Ibn ‘Arabi bekerja sebagai sekretaris Gubernur Sevilla dan menikahi seorang gadis bernama Maryam, yang berasal dari sebuah keluarga berpengaruh. Pada tahun 590, Ibn ’Arabi meninggalkan Spanyol untuk mengunjungi Tunisia. Tahun 597/1200, sebuah ilham spiritual memerintahkan dirinya untuk pergi ke timur. Dua tahun kemudian, ia melakukan ibadah haji ke Mekkah dan berkenalan dengan seorang syaikh dari Isfahan yang memiliki seorang putri. Pertemuan dengan perempuan ini mengilhami Ibn ’Arabi untuk menyusun Tarjumân al-Asywâq. Di Mekkah pula ia berjumpa dengan Majd al-Din Ishaq, seorang syaikh dari Malatya, yang kelak akan mempunyai seorang putra yang menjadi murid terbesar Ibn ’Arabi, Shadr al-Din al-Qunawi (606-673/1210-1274).

Dalam perjalanan menyertai kepulangan Majd al-Din ke Malatya, Ibn ‘Arabi bermukim sementara waktu di Mosul. Di kota ini, ia ditahbiskan oleh Ibn al-Jami’, seseorang yang memperoleh kekuatan spiritual dari tangan Nabi Khidhr. Selama beberapa tahun Ibn ‘Arabi melancong dari kota ke kota di Turki, Suriah, Mesir, serta kota suci Mekkah dan Madinah. Pada tahun 608/1211-12 M, ia dikirim ke Bagdad oleh Sultan Kay Kaus I (607-616/1210-19) dari Konya dalam misi yuridis kekhalifahan, kemungkinan ditemani oleh Majd al-Din. Ibn ’Arabi memiliki hubungan baik dengan sultan ini dan mengirimnya surat-surat berisi nasihat praktis. Dia pun merupakan sahabat dari penguasa Aleppo, Malik Zhahir (582-615/1186-1218), putra Sultan Saladin (Shalah al-Din) al-Ayyubi.

Pada tahun 620/1233, Ibn ’Arabi menetap secara permanen di Damaskus, tempat sejumlah muridnya, termasuk al-Qunawi, menemaninya sampai akhir hayat. Menurut sejumlah sumber awal, ia menikah dengan janda Majd al-Din, ibu al-Qunawi. Selama periode tersebut, penguasa Damaskus dari Dinasti Ayyubiyah, Muzhaffar al-Din merupakan salah seorang muridnya. Dalam sebuah dokumen berharga yang bertahun 632/1234, Ibn ’Arabi menganugerahinya izin (ijazah) untuk mengajarkan karya-karyanya yang ditengarai berjumlah 290 buah. Ia pun menyebutkan tujuh puluh karya tersendiri dalam keilmuan tertentu, yang menunjukkan ketidaklengkapan informasi tersebut. Dari sumber tadi, jelas bahwa dalam upaya menyempurnakan studi tasawuf yang dilakukannya Ibn ’Arabi menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari pengetahuan eksoteris seperti tujuh qira’ah al-Quran, tafsir, fikih, dan, terutama, hadis (Chittick dalam Nasr, 66)

Ibn ‘Arabi wafat di Damaskus pada 16 November 1240 bertepatan tanggal 22 Rabiul Akhir 638 pada usia tujuh puluh tahun. Pencapaian spiritualnya yang luar biasa telah menyebar ke hampir seluruh Dunia Islam, dan bahkan Barat, hingga sekarang.

Lanjut membaca

Blog Penghina Islam: Belajar dari Kasus JewWatch-Google-Wikipedia

Oleh : Reza Ervani *)

Hari-hari ini beberapa milis dan facebook diramaikan dengan berita ajakan penutup blog yang menghina Islam. Sayang sekali, sifat reaktif ini justru sesungguhnya bisa berdampak sangat kontraproduktif, apalagi nama situs yang digunakan blog tersebut justru bisa mengalahkan website-website Informasi Islam yang “shahih”.

Tulisan ini sekedar ingin membuka wawasan dari sisi teknologi web dan mesin pencari, betapa sifat reaktif kita kadang justru kurang bermanfaat.

***

Pada tahun 2004, Steven Weinstock, seorang investor real estate New York, melakukan pencarian di Google menggunakan kata “Jew” (Yahudi). Di baris atas pencariannya, yang ia jumpai adalah situs JewWatch.com, sebuah situs yang berisi bahan-bahan anti-Semit, merujuk kepada halaman-halaman dengan judul Jewish Mind Control Mechanisme, Jewish Communist Rulers dan sebagainya. Ia terkejut dan menganggap Google melakukan kesalahan.

Tapi apa jawaban Google atas keberatan ini. Sebuah halaman berjudul “An Explanation of Our Search Results” memberikan jawaban sebagai berikut :

Jika Anda belum lama ini menggunakan Google untuk mencari sesuatu dengan kata “Jew”, Anda barangkali mendapatkan hasil yang sangat mencemaskan. Kami ingin memastikan kepada Anda bahwa pandangan-pandangan yang diungkapkan oleh situs-situs dalam hasil pencarian tersebut sama sekali tidak disahkan atau direstui oleh Google. Kami ingin menerangkan mengapa Anda memperoleh hasil seperti itu ketika Anda melakukan pencarian dengan kata ini.

Peringkat sebuah situs dalam hasil pencarian Google sangat bergantung pada algoritma-algoritma komputer menggunakan beribu faktor untuk menghitung relevansi sebuah situs terhadap pencarian tertentu. Kadang-kadang hal kecil dalam bahasa menimbulkan anomali-anomali yang seolah-olah tidak dapat diramalkan. Sebuah pencarian menggunakan kata “Jew” menghasilkan salah satu hasil yang tidak diharapkan tersebut”

Keterangan dari Google inilah yang kemudian membuat para aktivis Yahudi kemudian mengkampanyekan blog dan situs-situs untuk merujuk kata Jew ke Wikipedia, sehingga peringkat pertama Google untuk kata Jew tidak lagi merujuk ke JewWatch.com.
Lanjut membaca

Allah & Nabi Muhammad dilecehkan di WordPress, Jangan diam!

Info Terbaru :

Tadi pagi saat masuk ke dasborku di wordpress.com, aku menjumpai sebuah blog “muslim” bertengger di daftar “Blog WordPress.com Nge-Top hari ini”. Seketika aku mengucap “alhamdulillaah …” Saat itu aku merasa bersyukur karena ada blog “islami” yang ngetop di papan atas. Tapi rupanya aku keliru. Barusan, seorang sahabat memberi tahu bahwa blog tersebut bukan blog muslim. Bahkan, blog itu melecehkan Allah, Nabi Muhammad, dan segala yang berbau Islam. Astaghfirullaah….

Alamat Blognya adalah : http://beritamuslim.wordpress.com/

Akankah kita tinggal diam saja menyaksikan Tuhan dan Nabi kita dilecehkan secara terbuka? Jangan! Mari kita bergerak melawannya. Kita bisa melawannya, antara lain dengan beramai-ramai melaporkan blog tersebut sebagai spam. (Laporan ini akan lebih efektif bila orang yang melaporkan ini ada banyak.)

Caranya: Klik http://en.wordpress.com/report-spam/?url=beritamuslim.wordpress.com. Pada kotak “Why”, tuliskan alasan pelaporan kita. Misalnya: “This beritamuslim blog is named in a manner that misleads its readers into thinking that the owner is a Muslim. Whereas in fact, this blog insults muslims along with their properties.”

Sumber : http://muhshodiq.wordpress.com/2010/01/07/allah-nabi-muhammad-dilecehkan-di-wordpress-jangan-diam/