Kuasa Wanita dalam Mempengaruhi Sejarah

Artikel berjudul “Summer Dresses and Canned Food: European Women and Western Lifestyle” di antaranya berbicara mengenai didatangkannya wanita-wanita “Totok” (wanita asli Belanda) sebagai misi untuk “memperbaiki” gaya hidup, termasuk tentang gaya berpakaian dan pola makan masyarakat Eropa di Hindia Belanda yang dirasa sudah mulai “melenceng” dari nilai-nilai etika Eropa pada sekitar tahun 1900-an. Digambarkan bahwa setelah kemunculan wanita Totok ini, maka terjadi perubahan cara berpakaian wanita-wanita Eropa di Hindia Belanda dan munculnya fenomena makanan kaleng.

Sesuatu yang menurut saya menarik adalah ketika melihat bagaimana pemerintah Belanda mempercayakan misi “memperbaiki” gaya hidup ini justru kepada wanita yang pada masa itu minim kekuatan politik. Apa yang menyebabkan hal ini dirasa akan berhasil? Banyak orang yang beranggapan bahwa wanita tidak terlalu berperan dalam perubahan sosial masyarakat pada masa-masa sebelum pemikiran tentang “kesetaraan gender” berkembang. Sejarah mencatat peran wanita selalu dikaitkan dengan organisasi-organisasi pergerakan wanita. Namun, melihat bagaimana pemerintah Belanda mengirim para wanita “Totok” tersebut ke daerah koloni demi “meluruskan” kebudayaan Eropa, maka pemikiran semacam itu hendaknya perlu dipertimbangkan lagi. Keberhasilan para wanita Eropa ini (wanita totok) sebagai trend-center dan memunculkan trend baru dalam berpakaian dan pola makan, merupakan sesuatu yang tidak bisa diabaikan.  Meningkatnya populasi mereka di wilayah koloni, ternyata tidak bisa dilihat hanya semata-mata merupakan perubahan angka statistik saja, karena seiring dengan meningkatnya jumlah mereka, ternyata juga membawa pengaruh terhadap perubahan gaya hidup di Hindia Belanda. Lanjut membaca

Review Artikel “Meniti Sejarah Penulisan Sejarah” oleh Heather Sutherland

Setiap Generasi Punya ‘Sejarah’ Sendiri

Review Artikel “Meniti Sejarah Penulisan Sejarah”

oleh Heather Sutherland

Artikel yang ditulis oleh Heather Sutherland tersebut menekankan pentingnya menguji sejarah penulisan sejarah, atau menguji sejarah historiografi. Dalam kaitannya dengan ini, dia kemudian menguraikan bahwa pasca kolonial, perjalanan penulisan sejarah di negara-negara yang baru merdeka termasuk Indonesia, masih terjebak pada pola yang sama dengan penulisan sejarah kolonial. Narasi-narasi yang dibangun sejarah pasca kolonial, dari sisi hal yang ditekankan dan strukturnya, masih identik dengan sejarah yang ditulis oleh kolonial. Fokus utama keduannya masih sama-sama pada negara dan pengalaman kolonial, meskipun penilaian moralnya tentu berbeda. Heather Sutherland kemudian memjelaskannya dalam sejarah historiografi Indonesia pasca kolonial dimana sejarah nasional ditekankan pada tujuan pembangunan ‘nasionalisme’. Sehingga, kemudian membatasi sejarah-sejarah lokal dan menyebabkan munculnya narasi-narasi tandingan terhadap sejarah versi resmi tersebut.

Dalam artikel ini juga diurakan tentang dinamika pemikiran sejarah antara tradisi dan modernitas (positivistis) serta tentang pemikiran postmodern. Di sini, Sutherland banyak meguraikan tentang pemikiran-pemikiran postmodernisme dalam penulisan sejarah, di mana sejarah dipandang tidak lagi melalui pengujian metodologis semata sebagai ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai bagian dari budaya. Lanjut membaca

Mempertanyakan Indonesia dan Barat

Mempertanyakan Indonesia dan Barat

 Setelah membaca artikel tentang “Habits of a Colonial Heart” sesuatu yang sudah kita ketahui bersama bahwa ciri umum dari kolonialisme adalah adanya pembagian kelas. Pembagian kelas ini yang nantinya memunculkan beberapa konflik termasuk bagi orang-orang keturunan Indo-Eropa. Pemisahan kelas antara orang-orang asli Eropa yang bermigrasi dengan mereka yang keturunan Indo-Eropa menyebabkan ketidakpuasan bagi orang-orang Indo-Eropa ini. Mereka sendiri sebagai sebuah komunitas mengalami krisis identitas yang cukup pelik. Kesadaran mereka akan darah Eropa membuat mereka memiliki mimpi-mimpi untuk dipandang sebagai orang Eropa, tetapi kenyataan bahwa mereka berdarah pribumi sering menjadi batu sandungan akan mimpi-mimpi tersebut. Kegelisahan inilah yang membuat mereka justru tidak mendapatkan tempat yang menguntungkan di tengah masyarakat Hindia Belanda.

Orang-orang Indo-Eropa ini sebagai bagian dari realitas historis, baik pada masa lalu maupun sekarang seolah tidak mendapatkan tempat yang cukup tegas. Pada masa lalu jelas secara identitas mereka menjadi gelisah dalam menempatkan diri. Sedangkan pada masa sekarang, mereka tidak mendapatkan tempat dalam ingatan kita sebagai bangsa. Hal ini dimungkinkan karena sejarah Indonesia selalu berusaha memisahkan antara Barat dan Timur sebagai sesuatu yang konfrontatif. Kolonialisme selalu berhubungan dengan Barat, sedangkan Indonesia sebagai bangsa yang telah merdeka tidak akan ada sangkut-pautnya dengan Barat sebagai bagian dari kolonialisme. Padahal, keturunan Indo-Eropa tersebut merupakan bagian dari kenyataan bahwa dalam sejarahnya, ada hubungan yang tidak mungkin begitu saja dipisahkan antara Barat dan Indonesia. Pada kenyataanya, munculnya komunitas Indo-Eropa, pertama, membuktikan bahwa ada hubungan yang terjalin antara wanita-wanita pribumi yang berasal dari kelas bawah dengan pria-pria Eropa dari kelas paling atas. Kenyataan ini membuktikan satu hal lagi bahwa pembatasan atas kelas-kelas tersebut telah ditembus oleh sebagian orang ini. Lanjut membaca

Sejarah Kerajaan Tallo

Sebagian besar sejarah yang diajarkan di Indonesia adalah sejarah orang-orang besar. Pemerintah Indonesia dengan konsep pahlawan yang pantas menjadikan sebagai sudi tauladan perjuangan kebangsaan bagi pengajaran di sekolah. Pendidikan Belanda menerapkan kurikurumnya mengutamakan para pemimpin, sehingga para pahlawan yang dikukuhkan merupakan para penentang gigih Belanda.

Para pahlawan tidak selamanya selalu cocok sebagai model sejarah untuk tugas-tugas modern yang lebih rumit dan mereka belum tentu dicintai oleh rakyat masanya. Hal ini cukup menarik untuk dikaji dan tidak pernah diketahui secara mendalam. Kasus yang mencolok seperti Sultan Agung dari Mataram (1613-1645), Sultan Iskandar Muda dari Aceh (1607-1683) dan Sultan Abdul Fatah dari Banten (1651-1683).

Dalam pembahasan makalah ini, kelompok kami akan membahas tokoh kecil yang pribadinya menarik dan secara historis kreatif. Mereka adalah anggota-anggota keluarga Kerajaan Tallo di Sulawesi Selatan, khususnya Karaeng Matoaya dan anaknya yang bernama Pattingalloang. Merekalah yang meletakan dasar kejayaan Makassar abad ke-17, bukan dengan tangan besi tetapi dengan kombinasi luar biasa antara intelektualitas, agama dan politik. Lanjut membaca

Sejarah Kerajaan Buton

Kesultanan Buton terletak di Pulau Buton, tenggara Pulau Celebes atau namanya sekarang, Sulawesi, pada zaman dahulu pernah mempunyai kerajaan sendiri. Nama Pulau Buton dikenal sejak zaman pemerintahan Majapahit. Patih Gajah Mada dalam Sumpah Palapa, menyebut nama Pulau Buton.

Selain pendapat yang menyebut bahawa Islam datang di Buton berasal dari Johor, ada pula pendapat yang menyebut bahawa Islam datang di Buton berasal dari Ternate. Dipercayai orang-orang Melayu dari pelbagai daerah telah lama sampai di Pulau Buton. Mengenainya dapat dibuktikan bahawa walau pun bahasa yang digunakan dalam Kerajaan Buton ialah bahasa Wolio, namun dalam masa yang sama digunakan bahasa Melayu, terutama bahasa Melayu yang dipakai di Melaka, Johor dan Patani. Orang-orang Melayu tinggal di Pulau Buton, sebaliknya orang-orang Buton pula termasuk kaum yang pandai belayar seperti orang Bugis juga.

Orang-orang Buton sejak lama merantau ke seluruh pelosok dunia Melayu dengan menggunakan perahu berukuran kecil yang hanya dapat menampung lima orang, hingga perahu besar yang dapat memuat barang sekitar 150 ton. Lanjut membaca

Masyarakat dan Wanita pada Masa Pendudukan Jepang (II)

Penulis : Sri Pujianti

Mahasiswi Sejarah Universitas Indonesia

Kebijakan pemerintahan pendudukan Jepang berdampak pada kehidupan kaum wanita di Indonesia

Kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Jepang pada kaum wanita berdampak dalam berbagai aspek kehidupan wanita di Indonesia. Masa pendudukan Jepang yang tergolong singkat namun membawa pengaruh dan luka serta penderitaan yang dalam bagi kaum wanita di Indonesia. Jika dibandingkan dengan dampak yang muncul bagi wanita di Indonesia selama penjajahan Belanda yang masa penjajahannya tergolong lama, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut ini:

a. Masa Pendudukan Jepang:

Pada waktu kedatangan Jepang ke Indonesia di Tarakan bulan Maret 1942, Jepang melakukan propagandanya agar rakyat Indonesia mendukung Perang Asia Timur Raya. Propaganda ini pun tak hayal juga dilakukan terhadap kaum wanita di Indonesia. Kebijakan propaganda Jepang tersebut memberikan pengaruh baik positif maupun negatif bagi kaum wanita di Indonesia.

Lanjut membaca

Masyarakat dan Wanita pada Masa Pendudukan Jepang (I)

Penulis : Sri Pujianti

Mahasiswi Sejarah Universitas Indonesia

Pola kebijakan yang diterapkan pemerintahan Jepang di Indonesia terhadap kaum wanita

Depresi ekonomi dunia membuat aktivitas ekonomi di banyak negara merosot tajam. Ini terjadi karena dorongan untuk memperebutkan wilayah potensial untuk pengembangan industri. Begitu juga dengan Jepang, kebutuhan akan sumber daya alam minyak dan sumber daya manusia untuk pengolahan industri serta wilayah persebaran hasil industri mendorong Negara Matahari Terbit ini melakukan ekspansi seperti halnya yang telah dilakukan bangsa Eropa.

Dibanyak tempat kedatangan pasukan Nippon disambut dengan antusias oleh rakyat Indonesia. Hal ini terjadi karena pengakuan dari Jepang sendiri sebagai Saudara Tua yang kelak akan membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan Belanda. Disamping itu pada awal kedatangannya, Jepang menjanjikan kemerdekaan bagi rakyat Indonesia. Namun, janji itu tidak pernah terwujud sampai pada akhirnya penderitaan rakyat terasa semakin berat.

Lanjut membaca

Keseharian Marga Bacas Depok

Penulis : Sri Pujianti

Mahasiswi Sejarah Universitas Indonesia

Latar Belakang

Cornelis Chastelein seorang mantan pegawai VOC yang membeli tanah di daerah Depok pada seorang tuan tanah bernama Lucas Meur. Untuk pemeliharaan tanah tersebut, Chastelein menempatkan para budaknya sebanyak kurang lebih 150 orang yang berasal dari Bali, Bima, Makasar, dan daerah Timor. Para budak tersebut dipekerjakan di perkebunan kopi, lada, serta persawahan. Selain di bidang pertanian, mereka juga bekerja di rumah Chastelein. Malam harinya, para budak di beri pelajaran mengenai etika agama Kristen Protestan. Oleh Chastelein ke 150 orang budak tersebut diberi nama marga. Mereka dikelompokkan dalam 12 marga. Pemilihan 12 marga tersebut didasarkan pada ajaran Kristen yang menyebutkan bahwa Yesus mempunyai 12 orang murid.  Nama 12 marga  tersebut adalah (1)Jonathans, (2)Joseph,(3)Jacob,(4)Laurens,(5)Loens,(6)Sudira,(7)Samuel,(8)Zadokh,(9Leanders),(10)Bacas,(11)Isakh,dan(12) Tholense.

Seiring dengan perjalanan waktu, para budak-budak tersebut berkembang dan membentuk sebuah komunitas warga Depok, yang sering disebut ”Belanda Depok”. Akan tetapi, sebutan tersebut adalah suatu yang kurang tepat. Pada kenyataannya ”Belanda Depok” itu adalah masyarakat Indonesia asli yang berasal dari berbagai daerah yang didatangkan ke Depok.

Lanjut membaca

Birokrasi Kerajaan Majapahit

Penulis : Sri Pujianti

Mahasiswi Sejarah Universitas Indonesia

PENDAHULUAN

Sebuah kerajaan yang berdiri pada masa Indonesia masa awal telah memiliki hierarki yang cukup baik, seperti struktur pemerintahan yang turun temurun, struktur ekonomi, tatanegara kerajaan, bahkan birokrasi yang rumit pun telah ada. Akan tetapi hal itu sulit untuk diungkapkan dalam bahasa yang menarik, ditambah lagi sulitnya memahami bahasa-bahasa yang ada dalam prasasti-prasasti yang menyimpan banyak cerita mengenai kehidupan zaman kerajaan pada abad-abad awal, kerajaan Majapahit salah satunya.

Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan kuno yang cukup banyak diulas mengenai kehidupan kerajaannya, baik struktur pemerintahan, raja-raja yang pernah berkuasa, maupun kehidupan masyarakatnya. Dari sumber-sumber yang telah ditemukan dan dipelajari oleh para ahli di dapat sebuah kesimpulan awal bahwa kerajaan Majapahit memiliki kekuasaan yang bersifat teritorial dan disentralisasi. Hal ini tergambar dari cerita yang terungkap umumnya berkisar pada masa keemasan Majapahit, sehingga tergambar bahwa kehidupan kerajaan Majapahit tak banyak berubah dari pemerintahan raja yang satu dengan raja berikutnya.

Pada makalah ini akan dibahas mengenai sistem birokrasi kerajaan Majapahit, terutama sistem birokrasi pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk. Pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk, kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya dan pada masa ini juga sistem pemerintahan kerajaan Majapahit mengalami pembaharuan. Sistem birokrasi dalam sebuah kerajaan mempunyai peranan penting, karena mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan jalannya pemerintahan kerajaan seperti pergantian raja maupun pengangkatan aparatur kerajaan.

Kerajaan Majapahit dapat dikatakan sudah memiliki sistem birokrasi yang lengkap yang mencakup segala macam wewenang dan tugas dari aparatur pemerintahan. Berikut ini akan dibahas mengenai sistem birokrasi kerajaan Majapahit.

Lanjut membaca

Sejarah Kerajaan Bani Israel di Timur Tengah

Penulis : Ajeng Rizqi Rahmanillah S. IP, S. Hum

Mahasiswi Sastra Arab Universitas Indonesia

A. Pendahuluan

One Lands Two People”, karangan Deborah J. Gerner, adalah salah satu dari sekian banyak literatur yang menceritakan bagaimana sepetak tanah (Palestina) diakui oleh dua bangsa, yaitu Palestina dan Israel.[1] Masing-masing bangsa tersebut mengakui memiliki hak penuh atas tanah tersebut. Hal inilah yang membuat mereka berjuang untuk memperoleh apa yang diakuinya sebagai milik kelompok.

Perselisihan tentang keberadaan Israel di tengah negara-negara Arab yang berkepanjangan hingga kini belum mencapai kesepakatan yang pasti. Secara historis, eperium-emperium yang pernah berkuasa di kawasan Timur Tengah, baik mesir, Persia, maupun Romawi dan bahkan imperium ottoman Turki, belum pernah berhasil menyepakati tapal batas yang jelas bagi keberadaan wilayah Israel.

Sebenarnya, secara historis baik Israel maupun Palestina merupakan bangsa yang sudah menduduki tanah Palestina jauh sebelum Islam datang. Mereka hidup sudah hidup berdampingan bahkan sejak pertama kali Kerajaan Bani Israel didirikan. Walaupun hidup berdampingan, kedua bangsa ini memiliki hubungan yang tidak baik. Bani Israel dan bangsa Filistin (sebutan untuk bangsa Palestina saat itu) sering sekali berperang untuk menundukan satu sama lain. Oleh karena itu, konflik kedua bangsa ini sebenarnya sudah ada, jauh sebelum Theodor Herzl[2] merencanakan pembentukan “Negara Zionis Israel”.

Data-data sejarah dan berbagai kitab suci agama samawi telah memberikan fakta bahwa Bani Israel pernah mendirikan kerajaan di tanah Palestina sekitar tahun 1020 SM. Akan tetapi, sama seperti kerajaan lain yang ada pada saat itu, Kerajaan Bani Israel mengalami masa kejayaan dan kehancuran. Nabi Musa diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengangkat derajat bangsa Israel. Setelah berhasil mengalahkan Fir’aun, bangsa Israel berpindah dari Mesir menuju semenanjung Sinai dan Kanaan (Palestina). Kemudian, Nabi Daud as., diberi perintah untuk memimpin bani Israel dan mendirikan kerajaan Israel di Kanaan (Palestina). Kerajaan Israel mengalami kemajuan yang sangat pesar pada masa pemerintahan Nabi Sulaiman as. Pada masa ini wilayah kerajaan Israel diperluas dari Sungai Nil di selatan hingga ke Sungai Efrat di utara.

Lanjut membaca