Artikel berjudul “Summer Dresses and Canned Food: European Women and Western Lifestyle” di antaranya berbicara mengenai didatangkannya wanita-wanita “Totok” (wanita asli Belanda) sebagai misi untuk “memperbaiki” gaya hidup, termasuk tentang gaya berpakaian dan pola makan masyarakat Eropa di Hindia Belanda yang dirasa sudah mulai “melenceng” dari nilai-nilai etika Eropa pada sekitar tahun 1900-an. Digambarkan bahwa setelah kemunculan wanita Totok ini, maka terjadi perubahan cara berpakaian wanita-wanita Eropa di Hindia Belanda dan munculnya fenomena makanan kaleng.
Sesuatu yang menurut saya menarik adalah ketika melihat bagaimana pemerintah Belanda mempercayakan misi “memperbaiki” gaya hidup ini justru kepada wanita yang pada masa itu minim kekuatan politik. Apa yang menyebabkan hal ini dirasa akan berhasil? Banyak orang yang beranggapan bahwa wanita tidak terlalu berperan dalam perubahan sosial masyarakat pada masa-masa sebelum pemikiran tentang “kesetaraan gender” berkembang. Sejarah mencatat peran wanita selalu dikaitkan dengan organisasi-organisasi pergerakan wanita. Namun, melihat bagaimana pemerintah Belanda mengirim para wanita “Totok” tersebut ke daerah koloni demi “meluruskan” kebudayaan Eropa, maka pemikiran semacam itu hendaknya perlu dipertimbangkan lagi. Keberhasilan para wanita Eropa ini (wanita totok) sebagai trend-center dan memunculkan trend baru dalam berpakaian dan pola makan, merupakan sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Meningkatnya populasi mereka di wilayah koloni, ternyata tidak bisa dilihat hanya semata-mata merupakan perubahan angka statistik saja, karena seiring dengan meningkatnya jumlah mereka, ternyata juga membawa pengaruh terhadap perubahan gaya hidup di Hindia Belanda. Lanjut membaca

