Lanjutan Cerpen Sang Petualang
“Ini tidak adil. Kamu menimpakan semua kesalahan padaku,” wajahnya menahan marah sembari menatap tajam kepadaku.
Aku masih saja terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Ingin rasanya menatap wajahnya, mencari kebenaran dan keadilan yang digugatnya padaku.
“Aku dan Gadis sudah bicara. Itu adalah kesalahan kami berdua, dan itu fair. Gadis sudah bisa melaluinya. Kamu jangan ikut campur dalam masalah kami. Jangan sok jadi pahlawan kesiangan.”
Buncahan benci itu pun keluar dengan hebatnya tanpa bisa kucegah. Ada amarah yang sulit kuhentikan. Puncak dari rasa kecewa yang terakumulasi tanpa kusadari. Benarlah kata orang bijak: jangan berharap pada manusia supaya tak menemui kecewa.
“Kamu dengan mudahnya membangkitkan semua luka masa laluku. Semua luka lama bangkit kembali. Aku tak pernah bangga dengan semua masa laluku. Aku sakit dengan semua masa laluku. Aku belum selesai dengan proses penyembuhanku, Senja.”
Lalu ada selusup rasa bersalah yang membuatku tak berdaya. Aku tidak tahu. Benar-benar tidak tahu. Aku pun sakit. Sakit setelah mengetahui semua kebenaran itu. Rasanya benar-benar menyakitkan hingga aku tak sanggup lagi menahankannya. Kenyataan pahit yang terjadi antara dia dan Gadis sungguh membuatku terpukul.
“Aku menyesal mengenalmu. Sungguh, aku menyesal mengenalmu, Senja. Aku menyesal cerita masa laluku ke kamu. Cerita sepotong yang kamu tahu itu hanya sebagian kecil saja. Yang tahu semua masa laluku dengan Princess adalah Gadis. Sementara ini, Gadis yang aku percaya.”
Aku pun menatap marah demi mendengar kalimat yang menusukku itu. Hebatnya kalimat-kalimat itu mampu membuat aku sakit. Sakit tak terperi. Kutahan semua sesak yang mendesak airmata keluar. Tidak, aku tidak boleh lagi menangis karenanya. Kutahan semua sesak dan sakit itu. Pikiranku pun beralih ke episode hidupku yang sebelumnya dengan cepatnya. Berusaha mencari bukti: aku atau dirinya yang berada dalam kebenaran?
“Sebenarnya aku mau cerita semuanya ke kamu, tapi Gadis ingetin aku buat enggak lakuin kesalahan yang sama. Dan aku batalin niatku buat cerita ke kamu. Sedikit saja yang kamu tahu, ulahmu sudah buat aku sakit!”
Dan meledaklah amarahku, “Aku enggak pernah maksa kamu buat cerita!”
*** Lanjut membaca