Contoh Pidato

KEYNOTE SPEECH

MENTERI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK

Disampaikan dalam Acara Seminar

“MENGEMBANGKAN KEPRIBADIAN MUSLIMAH DI ERA MASA KINI”

Acara diselenggarakan oleh:

JAM’IYAH SMA ISLAM AL-AZHAR 3

Jakarta,  28 April 2011

Bismillahirrahmanirrahiem

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yth. Kepala SMA Islam Al-Azhar

Yth. Ketua Jam’iyah SMA Islam Al-Azhar 3

Yth. Para Undangan

Yth. Para Peserta

Hadirin yang berbahagia

Pertama kali, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt, yang telah memberikan berkah dan rahmat-Nya untuk kesekian kalinya, sehingga kita dapat menyelenggarakan acara Seminar dengan tema ”Mengembangkan Kepribadian Muslimah di Era Masa Kini” dalam keadaan sehat wal-afiat.

Tidak ada kata yang pantas kami sampaikan, kecuali ucapan terima kasih kepada ” Ketua Jam’iyah SMA Islam Al-Azhar 3”, yang telah memberi kesempatan saya untuk berbicara di tengah kader intelektual muslim dan muslimah kali ini. Semoga inisiatif seminar ini dapat membangkitkan energi baru dalam agenda penguatan karakter perempuan di tengah gejolak perubahan sosial dan globalisasi. Lanjut membaca

Contoh Pidato Keynote Speech

KEYNOTE SPEECH

DISAMPAIKAN DALAM ACARA

RAPAT KERJA NASIONAL

PIMPINAN PUSAT ‘AISYIYAH”

Depok, 3 Juni 2011

  • Yth. Ketua PP ‘Aisyiyah, Prof.Dr.Hj. Masyitoh Chusnan, M.Ag;
  • Yth. Pengurus PP ‘Aisyiyah;
  • Yth. Para Undangan; dan
  • Hadirin yang berbahagia.

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pertama kali, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan berkah dan rahmat-Nya untuk kesekian kalinya, sehingga kita dapat menyelenggarakan kegiatan ”Rapat Kerja Nasional PP ’Aisyiyah” dalam keadaan sehat wal’afiat. Kita patut bersyukur, karena kita masih diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi kita untuk kepentingan umat dan bangsa.

Saya sampaikan ucapan terimakasih kepada Pimpinan Pusat ’Aisyiyah yang telah memberi kesempatan saya untuk berbicara di tengah-tengah muslimah visioner kali ini. Sejarah akan mencatat bahwa muslimah yang memiliki kompetensi tinggi tentu akan memberikan makna tersendiri bagi masa depan umat dan bangsa. Rakernas ini dapat memberikan dua arti penting. Satu sisi sebagai upaya untuk membuka ruang baru bagi berkembangnya potensi muslimah, di pihak lain tentu akan menjadi injeksi baru untuk menghadapi beragam persoalan umat, bangsa dan negara dalam segala aspek. Lanjut membaca

Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa dengan Penerapan Pembelajaran Cooperative Berbasis Lesson Study (PTK)

A.    Latar Belakang

Dalam era globalisasi dewasa ini, tantangan peningkatan mutu dalam berbagai aspek kehidupan tidak bisa ditawar lagi. Pesatnya perkembangan IPTEKS dan tekanan globalisasi, mempersyaratkan setiap bangsa untuk mengerahkan pikiran dan seluruh potensi sumber daya yang dimiliki untuk bisa bertahan dalam perebutan pemanfaatan kesempatan dalam berbagai sisi kehidupan. Ini berarti perlu adanya peningkatan sikap kompetitif secara sistematik dan berkelanjutan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan. Oleh karena itu, pendidikan dewasa ini harus diarahkan pada peningkatan daya saing bangsa agar mampu berkompetisi dalam persaingan global. Hal ini bisa tercapai jika pendidikan disekolah diarahkan tidak semata-mata pada penugasan dan pemahaman  konsep-konsep ilmiah, tetapi juga pada peningkatan kemampuan dan keterampilan berpikir siswa, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu keterampilan berpikir kritis (critical thinking skills), dan berpikir kreatif. Artinya, guru perlu mengajarkan siswanya untuk belajar berpikir (teaching of thinking).

Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.

Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP). Lanjut membaca

Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Bebas (PTK)

A.  Latar Belakang         

Keterampilan berbahasa memiliki empat hal. Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang merupakan salah satu aspek untuk menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Menulis sebagai wujud kemahiran berbahasa mempunyai manfaat yang besar bagi kehidupan manusia, khususnya para siswa. Pada saat menulis, siswa dituntut berpikir untuk menuangkan gagasan secara tertulis berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Aktivitas tersebut memerlukan kesungguhan untuk mengolah, menata, dan mempertimbangkan secara kritis gagasan yang akan dituangkan dalam bentuk tulisan.

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)  mata pelajaran bahasa Indonesia tingkat Madrasah  Ibtidaiyah, menulis merupakan salah satu keterampilan yang ditekankan pembinaannya. Hal tersebut terjabarkan dalam standar kompetensi menulis khususnya kemampuan bersastra, yakni siswa diharapkan dapat mengekspresikan karya sastra yang diminati (puisi, prosa, dan drama) dalam bentuk sastra tulis yang kreatif serta dapat menulis kritik dan esai sastra berdasarkan ragam sastra yang telah dibaca (Depdiknas, 2006: 22).

Pembelajaran menulis memberikan banyak manfaat antara lain: mengembangkan kreativitas, menanamkan keberanian dan percaya diri, dan membantu siswa menuangkan ide, pikiran, pengalaman, perasaan dan cara memandang kehidupan. Melihat banyaknya manfaat yang akan diperoleh siswa dalam pembelajaran menulis, seharusnya kegiatan menulis menjadi kegiatan yang diminati siswa. Meskipun demikian, kondisi realitas pada beberapa sekolah menunjukkan bahwa menulis menjadi kegiatan yang masih sulit bagi siswa. Lanjut membaca

Peningkatan Kemampuan Membaca Teks Pembukaan UUD 1945 Melalui Teknik Pemodelan (PTK)

A.    Latar Belakang

Upaya meningkatkan proses pembelajaran dan hasil belajar para siswa di setiap jenjang dan tingkat pendidikan perlu diwujudkan agar diperoleh sumber daya manusia di Indonesia yang dapat menunjang pembangunan nasional. Tugas tersebut bukan hanya tugas guru yang menjadi pelaksana tapi merupakan tanggung  jawab semua tenaga pendidikan, terutama pemerintah dan masyarakat.

Bahasa,  salah satu cabang ilmu humaniora yang dapat dijadikan alternatif merajut tatanan peradaban bangsa yang lebih baik. Kurikulum 2006 (KTSP) disebutkan bahwa salah satu tujuan pembelajaran bahasa Indonesia yakni meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia meliputi keterampilan kebahasaan dan keterampilan kesusastraan. Keterampilan berbahasa meliputi empat aspek yaitu  keterampilan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis.

Dapat dikatakan, bahwa kehidupan manusia hampir tidak bisa dipisahkan dari kegiatan membaca. Bahkan ayat yang diturunkan pertama kali pun, adalah kata “iqra”. Hal tersebut menunjukan betapa diutamakannya membaca. Dalam perkembangan pendidikan, keterampilan membaca kini memerlukan perhatian khusus demi terciptanya kondisi pembelajaran yang efektif. Kemampuan membaca yang baik, akan lebih mendukung siswa untuk mengikuti pembelajaran pada seluruh mata pelajaran dengan baik. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tingginya kemampuan siswa dalam membaca akan berdampak positif bagi kemampuan siswa pada mata pelajaran lainnya. Membaca manjadi dasar yang manjadi alat pengantar pada mata pelajaran apa saja. Sehingga kemampuan dasar yang harus diupayakan lebih awal adalah membaca. Lanjut membaca

Meningkatkan Penguasaan Operasi Hitung Perkalian dan Pembagian (PTK)

BAB I

PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang

Dalam peraturan perundang-undangan Sistem Pendidikan Nasional (UU No. 20 Tahun 2003) Bab I Pasal 1 pendidikan didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Selanjutnya pada pasal 3 dijabarkan bahwa fungsi pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan hal tersebut diatas, tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, baik kemampuan intelektual, spiritual maupun kemandirian. Terkait dengan hal tersebut, maka aktivitas pendidikan yang efektif memiliki kedudukan penting dalam strategi pencapaian tujuan pendidikan nasional. Lanjut membaca

Peningkatan Motivasi Siswa dalam Mengemukakan Pendapat (PTK)

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Kunci pokok pembangunan suatu bangsa dimasa mendatang, termasuk Indonesia adalah pendidikan, sebab dengan pendidikan diharapkan setiap individu dapat meningkatkan kualitas keberadaannya, serta mampu berpartisipasi dalam gerak pembangunan baik ekonomi maupun sosial. Pendidikan pada dasarnya adalah suatu proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan diri, sehingga mampu menghadapi segala perubahan dan permasalahan yang dihadapi (Djiwandono, 2002).

Mutu pendidikan Indonesia terutama dalam pelajaran bahasa Indonesia masih tergolong rendah. Hal tersebut dapat terlihat dari hasil survey siswa diseluruh Indonesia yang menyatakan bahwa siswa banyak tidak lulus di mata pelajaran Bahasa Indonesia (Sembiring, 2010). Jika melihat data yang diberitakan Kompas, jelas bahwa Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran UN yang dianggap paling jeblok dibandingkan dengan mata pelajaran lain (http://edukasi.kompas.com). Fakta lain dikemukakan oleh Suryaman yang menyatakan bahwa mata pelajaran Bahasa Indonesia ternyata masih menempati urutan teratas mata pelajaran tersulit bagi para murid kelas enam di sejumlah sekolah dasar (SD) Kota Tasikmalaya. Kesimpulan ini didapat berdasar hasil try out yang digelar di sejumlah SD menjelang ujian nasional (UN) yang rencananya akan digelar Mei mendatang (Jabar Tribunnews, 2011). Lanjut membaca

Pemanfaatan Media Kartu Tenses Bahasa Inggris dalam Pembelajaran Kooperatif (PTK)

BAB I 

PENDAHULUAN


A.        LATAR BELAKANG MASALAH       

           Berdasarkan tingkat literasi, Bahasa Inggris di SMP telah dirancang untuk membekali siswa mencapai literasi tingkat fungsional atau berorientasi pada komunikasi lisan. Namun demikian, Siswa SMP juga diperkenalkan kepada komunikasi tulis secara bertahap, khususnya bahasa tulis ragam lisan. Dan Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diresmikan pada tahun 2006, pembelajaran bahasa Inggris di tingkat SMP ditekankan pada empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak (Listening), Berbicara (Speaking), Membaca (Reading) dan Menulis (Writing).

            Diantara keempat keterampilan berbahasa  seperti tersebut diatas, berdasarkan pengamatan penulis di kelas tempat penulis mengajar, keterampilan menulis merupakan keterampilan yang paling sulit dikuasai siswa. Cara – cara klasik seperti menerapkan pola kalimat, menyusunnya menjadi sebuah kalimat yang padu lalu diikuti contoh-contoh terkadang hanya  menghipnotis siswa untuk rajin mencatat dan menghapal. Para siswa jarang  mempraktekkan keterampilan menulis di kelas. Hal ini bisa terlihat dari masih banyaknya siswa yang belum bisa menulis kalimat sederhana dalam bahasa Inggris. Mereka masih kesulitan untuk menemukan ide dan menerapkan pola kalimat sesuai kosakata dan tata bahasa yang tersedia. Bahkan ada siswa yang sama sekali tidak mengetahui fungsi dan makna kata dalam sebuah kalimat.

            Fakta – fakta di lapangan menunjukkan bahwa penyebab rendahnya kemampuan menulis siswa dikarenakan menulis merupakan kegiatan yang memiliki tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dan proses pembelajaran menulis di setiap jenjang pendidikan belum berjalan optimal. Kegiatan menulis siswa  masih  rendah dibandingkan kegiatan berbahasa lainnya yaitu berbicara, membaca, dan menyimak.

 Hal ini sekaligus menyiratkan bahwa proses pembelajaran menulis di sekolah selama ini menyimpan sejumlah permasalahan yang harus dipecahkan dan dicarikan alternatif penyelesaiannya, khususnya oleh guru bahasa inggris itu sendiri. Lanjut membaca

Meningkatkan Kemampuan Menulis Melalui Buku Harian (PTK)

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Menulis merupakan salah satu kegiatan yang penting dan bermanfaat bagi manusia. Dengan menulis kita bisa merekam sebuah peristiwa, mengungkapkan sebuah gagasan, memberikan informasi bagi orang lain, dan sebagainya. Oleh karena itu menulis merupakan salah satu ketrampilan yang wajib dimiliki oleh setiap orang, apalagi dalam dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan, menulis dan membaca merupakan salah satu indikator siswa mampu belajar memahami materi yang diberikan oleh guru. Dalam proses pembelajaran diharapkan siswa memahami bahan ajar melalui kegiatan membaca juga menyampaikan kembali pemahaman mereka mengenai sebuah materi melalui kegiatan menulis.

Menurut Akhadiah (1994) menulis adalah aktivitas untuk mengekspresikan ide, gagasan, pikiran atau perasaan ke dalam lambing-lambang kebahasaan. Secara lebih luas, Rofi’udin (1997) menjelaskan tahapan menulis meliputi, tahap pra-menulis, penulisan draf (pengedrafan), revisi atau perbaikan, penyuntingan, dan pubilikasi. Lebih jauh lagi, Farris (1993) mengatakan bahwa kemampuan berpikir merupakan dasar bagi semua keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara. membaca, dan menulis). Keempat keterampilan itu saling terkait, yang satu berhubungan dengan yang lainnya. Dalam pembelajaran pun guru tidak bisa hanya menyajikan satu keterampilan saja melainkan dikaitkan dengan keterampilan lainnya. Menurut Syafi’ie (2000) selain ada keterkaitan di antara keempat keterampilan tersebut, kebahasaan berada di tengah-tengah keempat keterampilan itu. Hal seperti ini menandakan bahwa penyajian kebahasaan dalam pembelajaran bisa dimasukkan dalam semua keterampilan (membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara). Dari berbagai definisi mengenai menulis di atas dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan kegiatan mengungkapkan ide dan perasaan melalui beberapa tahap pelaksanan hingga menjadi sebuah produk tulisan. Lanjut membaca

Penelitian Tindakan Kelas Matematika

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Saat ini kondisi pendidikan di Indonesia dalam keadaan yang memprihatinkan, jika di lihat dari kualitas dan tantangan global yang harus di hadapinya. The Jakarta Post terbitan 3 September 2001 telah mempublikasikan hasil survei yang di lakukan oleh  The Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berada di Hongkong. Hasil survei itu menunjukkan, betapa rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia saat ini, di mana Indonesia menduduki peringkat ke-12 setelah Vietnam, Thailand, Filipina, Hongkong, Malaysia, Cina, India, Taiwan, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan.

Melihat kondisi seperti ini, sebagai bangsa yang memiliki peradaban dan martabat, tentunya memikirkan bagaimana memajukan pendidikan Indonesia kedepan. Hal ini dapat di lakukan, apabila mau meresapi dari pernyataan Prof. Proopert Lodge yaitu life is education and education is life. Pernyataan Lodge itu mengisyaratkan bahwa antara pendidikan dengan kehidupan hampir-hampir tidak bisa di bedakan sama sekali(Suyanto:2006). Kedua komponen tersebut telah menyatu dalam sebuah kerangka folosofis, bahwa proses dalam pendidikan tidak lain adalah proses bagi manusia dalam mengarungi samudra kehidupan, begitu juga sebaliknya.

Makna filosofis pendidikan adalah proses bagaimana manusia mengenali diri dengan segenap potensi yang dimilikinya dan memahami apa yang tengah dihadapinya dalam realitas kehidupan yang nyata ini. Inilah problem fundamental dari filosofis pendidikan yang kurang banyak dipahami oleh para pakar dan praktisi pendidikan saat ini.

Begitu juga dengan guru dan pemerintah, mereka merupakan kunci (penggerak) pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan sekolah dasar. Sebab sekolah dasar merupakan fondasi bagi pendidikan, untuk pendidikan selanjutnya. Sebagaimana menurut Diknas, sekolah dasar adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia yang ditempuh dalam waktu enam tahun. Lanjut membaca