Perjumpaan Dalam Dimensi Ketuhanan

Resensi Buku Soren A. Kierkegaard & Martin Buber

Karangan dari Margaretha Paulus

Penulis : Aryo Ajie F. (Mahasiswa Kampus Universitas Indonesia)

Pendahuluan

Individu, dalam sejarah pemikiran manusia, merupakan topik yang menarik: kadang dihargai tapi tak jarang juga dihina. Individu sering diletakkan antara ada dan tiada. Hal ini terlihat dari perkembangan-perkembangan filsafat barat. Pada era yunani kuno filsafat masih berkutat pada hakikat segala sesuatu dimana individu terlebur ke dalam alam.

Selanjutnya abad pertengahan merupakan sejarah kelam individu dimana teolog menghilangkan individu karena dianggap hanya suatu bagian terkecil dari realitas mutlak yaitu jiwa. Tubuh dianggap penjara jiwa sedangkan jiwa universal,ilahi dan abadi.

Pada era modern manusia mulai dihargai sebagai makhluk yang  derajatnya paling tinggi karena hanya manusia yang memiliki kemampuan akal budi. Namun masih dilihat secara universal belum jelas manusia manakah yang dimaksud. Walaupun diakui paling tinggi namun tetap saja manusia sebagai individu tetap dilecehkan.

Hal ini makin dipertegas Hegel dengan filsafat spekulatif panteistik- nya menghilangkan individu ke dalam roh absolut. Karena berpikirnya aku hanyalah sementara dari keseluruhan roh absolut. Kierkegaard sangat berlawanan dengan abstraksionisme Hegel yaitu filsafat eksistensialisme.

Lanjut membaca

Konsep Tajalli Ibn Arabi dan Etika Terhadap Alam

“Jika hamba-Ku mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta”.

Dalam kehidupan modern, sering dibedakan antara kebenaran Tuhan dengan kebenaran manusia. Sehingga teologi harus diturunkan pada level kemanusiaan (antropomorfisme). Ketuhanan baru berarti, jika mampu menyelesaikan dan berangkat dari paradigma kemanusiaan. Sampai-sampai sekularisme mensyaratkan “hilangnya Tuhan” demi kemajuan dunia.

Kita tentu bertanya, bagaimana bisa ciptaan terbebas dari pencipta? Bisa kata Newton, sebab alam seperti jam yang memiliki mesin sendiri. Jadi, setelah Tuhan mencipta “jam” itu, maka Dia dianggap nganggur. Manusia dengan akalnya telah mampu melihat dan bahkan menguasai mesin (hukum alam) yang membuat jam berdetak. Maka dimana lagi tersedia ruang bagi Tuhan.

Dalam makalah ini akan kami sampaikan pemikiran Tajjali Ibnu arobi dan implikasinya tentang sikap/etika terhadap lingkungan/alam.

Latar Kehidupan

Bernama lengkap Abu Bakr Muhammad ibn al-‘Arabi al-Hatimi al-Tai, sufi asal Murcia, Spanyol ini lahir pada tanggal 17 Ramadhan 560 H bertepatan dengan 28 Juli 1165. Dirinya dijuluki ”Syaikh al-Akbar” (Sang Mahaguru) dan ”Muhyiddin” (”Sang Penghidup Agama”). Kendati tidak mendirikan tarekat populer—atau agama massa menurut istilah Fazlur Rahman—pengaruh Ibn ‘Arabi atas para sufi meluas dengan cepat, melalui murid-murid terdekatnya yang mengulas ajaran-ajaran dengan terminologi intelektual maupun filosofis (Chittick, dalam Nasr (ed.), 2003: 64)

Ayah Ibn ‘Arabi, ‘Ali, adalah pegawai Muhammad ibn Sa’id ibn Mardanisy, penguasa Murcia, Spanyol. Ketika Ibn ’Arabi berusia tujuh tahun, Murcia ditaklukkan oleh Dinasti al-Muwahiddun (al-Mohad) sehingga ’Ali membawa pergi keluarganya ke Sevilla.2 Di tempat itu, sekali lagi dirinya menjadi pegawai pemerintahan. Ia memiliki status sosial yang tinggi. Buktinya, salah satu adik istrinya, Yahya ibn Yughan, menjadi penguasa kota Tlemcen di Algeria. Fakta yang menarik adalah bahwa di kemudian hari, sang paman akhirnya menanggalkan segala bentuk kekuasaan dunia pada pertengahan masa pemerintahannya dan beralih menjadi seorang sufi dan zahid. Ibn ’Arabi pun menyebutkan dua orang pamannya yang menjadi sufi (Addas, 2004: 43-4)

Pada masa mudanya Ibn ‘Arabi bekerja sebagai sekretaris Gubernur Sevilla dan menikahi seorang gadis bernama Maryam, yang berasal dari sebuah keluarga berpengaruh. Pada tahun 590, Ibn ’Arabi meninggalkan Spanyol untuk mengunjungi Tunisia. Tahun 597/1200, sebuah ilham spiritual memerintahkan dirinya untuk pergi ke timur. Dua tahun kemudian, ia melakukan ibadah haji ke Mekkah dan berkenalan dengan seorang syaikh dari Isfahan yang memiliki seorang putri. Pertemuan dengan perempuan ini mengilhami Ibn ’Arabi untuk menyusun Tarjumân al-Asywâq. Di Mekkah pula ia berjumpa dengan Majd al-Din Ishaq, seorang syaikh dari Malatya, yang kelak akan mempunyai seorang putra yang menjadi murid terbesar Ibn ’Arabi, Shadr al-Din al-Qunawi (606-673/1210-1274).

Dalam perjalanan menyertai kepulangan Majd al-Din ke Malatya, Ibn ‘Arabi bermukim sementara waktu di Mosul. Di kota ini, ia ditahbiskan oleh Ibn al-Jami’, seseorang yang memperoleh kekuatan spiritual dari tangan Nabi Khidhr. Selama beberapa tahun Ibn ‘Arabi melancong dari kota ke kota di Turki, Suriah, Mesir, serta kota suci Mekkah dan Madinah. Pada tahun 608/1211-12 M, ia dikirim ke Bagdad oleh Sultan Kay Kaus I (607-616/1210-19) dari Konya dalam misi yuridis kekhalifahan, kemungkinan ditemani oleh Majd al-Din. Ibn ’Arabi memiliki hubungan baik dengan sultan ini dan mengirimnya surat-surat berisi nasihat praktis. Dia pun merupakan sahabat dari penguasa Aleppo, Malik Zhahir (582-615/1186-1218), putra Sultan Saladin (Shalah al-Din) al-Ayyubi.

Pada tahun 620/1233, Ibn ’Arabi menetap secara permanen di Damaskus, tempat sejumlah muridnya, termasuk al-Qunawi, menemaninya sampai akhir hayat. Menurut sejumlah sumber awal, ia menikah dengan janda Majd al-Din, ibu al-Qunawi. Selama periode tersebut, penguasa Damaskus dari Dinasti Ayyubiyah, Muzhaffar al-Din merupakan salah seorang muridnya. Dalam sebuah dokumen berharga yang bertahun 632/1234, Ibn ’Arabi menganugerahinya izin (ijazah) untuk mengajarkan karya-karyanya yang ditengarai berjumlah 290 buah. Ia pun menyebutkan tujuh puluh karya tersendiri dalam keilmuan tertentu, yang menunjukkan ketidaklengkapan informasi tersebut. Dari sumber tadi, jelas bahwa dalam upaya menyempurnakan studi tasawuf yang dilakukannya Ibn ’Arabi menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari pengetahuan eksoteris seperti tujuh qira’ah al-Quran, tafsir, fikih, dan, terutama, hadis (Chittick dalam Nasr, 66)

Ibn ‘Arabi wafat di Damaskus pada 16 November 1240 bertepatan tanggal 22 Rabiul Akhir 638 pada usia tujuh puluh tahun. Pencapaian spiritualnya yang luar biasa telah menyebar ke hampir seluruh Dunia Islam, dan bahkan Barat, hingga sekarang.

Lanjut membaca

Filsafat dan Masa Depan

Pemikiran Oleh :

Dwizatmiko, Reni Anggraeni, Sabrina Salsalina (Filsafat, Kampus Universitas Indonesia)

Filsuf menjadi khawatir dengan gambar atas masa depan hanya setelah mereka putus harapan untuk memperoleh pengetahuan yang abadi. Filsafat memulainya sebagai usaha untuk membebaskan diri kepada suatu dunia yang tidak akan pernah berubah. Filsuf pertama mengasumsikan bahwa perbedaan antara perubahan yang dahulu dan perubahan masa depan akan terabaikan. Hanya apabila mereka mulai serius melakukan harapannya akan masa depan atas dunia, maka secara bertahap akan merubah keinginan mereka untuk pengetahuan atas dunia lain.

Hans Blumenberg beropini bahwa filsuf mulai kehilangan ketertarikan akan keabadian saat jaman akhir masa abad petengahan, dan bahwa pada abad ke-16, abadnya Bruno dan Bacon, ialah masa di mana filsuf mulai mencoba untuk serius. Blumenberg mungkin benar, tapi pada abad ini juga kehilangan akan ketertarikan karena ada kesadaran diri penuh (fully self-conscious) di abad 19. Ini merupakan periode filsafat barat mengembangkan secara detail dan keraguan yang eksplisit tidak hanya tentang percobaan Platonik untuk membebaskan diri dari waktu tetapi juga tentang proyek Kantian dalam penemuan kondisi ahistoris untuk kemungkinan fenomena sementara (temporal fenomena). Ini juga merupakan periode dimana hal tersebut menjadi memungkinkan, terima kasih untuk Darwin, manusia untuk melihat dirinya sebagai penerus yang merupakan bagian dari alam-sebagai hal yang sementara dan kontingen secara sempurna, tetapi tidak ada yang buruk atas hal tersebut. Kombinasi berpengaruh antara Hegel dan Darwin menggerakan filsafat jauh dari pertanyaan “Siapakah kita?” menjadi pertanyaan “Akan menjadi apa apabila kita mencoba?”

Perubahan ini memiliki konsekuensi pada gambaran filsuf atas dirinya sendiri. Padahal Plato dan bahkan Kant berharap untuk meneliti sosial dan budaya di mana mereka tinggal dari luar opini personal mereka, opini personal atas kebenaran yang tidak berubah, filsuf nantinya secara bertahap neninggalkan harapan.  Apabila kita serius, para filsuf kita telah menyerah pada prioritas kontemplasi yang berlebihan.  Kami telah setuju dengan Marx bahwa pekerjaan kita adalah untuk  membantu masa depan berbeda dengan dahulu kala, daripada mengklaim dalam mengetahui apa yang masa depan butuhkan refleksinya dengan apa yang ada. Kita harus berubah dari semacam aturan bahwa para filsuf harus berbagi dengan nabi dan orang yang bijak, kemudian kita harus menggantinya kepada aturan sosial yang lebih umumnya disebut para teknisi atau pengacara. Padahal nabi dan orang yang bijaksana dapat merumuskan agenda mereka seperti teknisi dan wacana, yaitu mereka harus mencari apa yang klien inginkan.

Lanjut membaca

Konsep Tuhan

Oleh Dwizatmiko

Mahasiswa Filsafat Kampus Universitas Indonesia

Baik Aquinas maupun Whitehead mereka berdua telah memberi ruang konsep Tuhan dalam skema metafisikanya. Aquinas menjadikan paham kristiani tentang Tuhan-pencipta sebagai landasan eksistensial bagi seluruh alam semesta, sedangkan Whitehead memiliki keyakinan bahwa konsep Tuhan dalam skema metafisika merupakan tuntutan koherensi rasional. Walaupun keduanya berusaha memberi penjelasan tentang kedekatan Tuhan dengan ciptaan-Nya, ternyata paradigma (sudut pandang) berpikir mereka masing-masing zaman berbeda dalam memberi “artikulasi” konsep Tuhan[1].

Perbedaan artikulasi tersebut telah mengundang kritik dari kalangan theisme neo-kalsik dengan tokohnya Charles Harsthorne. Ia (Harsthorene) berpndapat, bahwa teisme klasik yang didasarkan atas metafisika Aquinas telah gagal menjelaskan bagaimana relasi Tuhan dengan ciptaan-Nya. Theisme klasik menegaskan Tuhan sebagai pencipta yang maha baik dan mencintai ciptaan-Nya. Akan tetapi menurut Hartshorne, penekanan pada transendensi, kemutlakan, dan kemahakuasaan Tuhan talah mengaburkan kebaikan dan cinta-Nya pada ciptaan.[2]

Menurut Harsthorne, kosmos memang meiliki “monarki metafisik’ (metaphysical monarchy) dimana Tuahan adalah penguasa namun bukan maha kuasa. Sedangkan masyarakat manusia digambarkan sebagai suatu bentuk “demokrasi metafisik” (metaphysical democracy) dimana status manusia semua sederajat. Dalam konteks inilah Harsthorne mewarisi keyakinan-keyakinan dengan semangat “liberalime dan egalitarianisme” yang berasal dari Whitehead.

Lanjut membaca

Kritik KARL MARX Terhadap Ekonomi Kapitalisme

Pemikiran oleh DWIZATMIKO (Filsafat)

Kampus Universitas Indonesia

I. Karl Marx : Sang Filsuf yang Berparaksis

Karl Marx lahir dalam keluarga Yahudi progresif di Trier, Prusia, (sekarang di Jerman). Ayahnya bernama Herschel, keturunan para rabi, meskipun cenderung seorang deis, yang kemudian meninggalkan agama Yahudi dan beralih ke agama resmi Prusia, Protestan aliran Lutheran yang relatif liberal, untuk menjadi pengacara. Herschel pun mengganti namanya menjadi Heinrich. Saudara Herschel, Samuel — seperti juga leluhurnya— adalah rabi kepala di Trier. Keluarga Marx amat liberal dan rumah Marx sering dikunjungi oleh cendekiawan dan artis masa-masa awal Karl.

Marx terkenal karena analisis nya di bidang sejarah yang dikemukakan nya di kalimat pembuka pada buku ‘Communist Manifesto’ (1848) :” Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas.” Marx percaya bahwa kapitalisme yang ada akan digantikan dengan komunisme, masyarakat tanpa kelas setelah beberapa periode dari sosialisme radikal yang menjadikan negara sebagai revolusi keditaktoran proletariat(kaum paling bawah di negara Romawi).

Marx sering dijuluki sebagai bapak dari komunisme, Marx merupakan kaum terpelajar dan politikus. Ia memperdebatkan bahwa analisis tentang kapitalisme miliknya membuktikan bahwa kontradiksi dari kapitalisme akan berakhir dan memberikan jalan untuk komunisme. Di lain tangan, Marx menulis bahwa kapitalisme akan berakhir karena aksi yang terorganisasi dari kelas kerja internasional. “Komunisme untuk kita bukanlah hubungan yang diciptakan oleh negara, tetapi merupakan cara ideal untuk keadaan negara pada saat ini. Hasil dari pergerakan ini kita yang akan mengatur dirinya sendiri secara otomatis. Komunisme adalah pergerakan yang akan menghilangkan keadaan yang ada pada saat ini. Dan hasil dari pergerakan ini menciptakan hasil dari yang lingkungan yang ada dari saat ini. – Ideologi Jerman- Dalam hidupnya,Marx terkenal sebagai orang yang sukar dimengerti, ide-ide nya mulai menunjukkan pengaruh yang besar dalam perkembangan pekerja segera setelah ia meninggal. Pengaruh ini berkembang karena didorong oleh kemenangan dari Marxist Bolsheviks dalam Revolusi Oktober Rusia. Namun, masih ada beberapa bagian kecil dari dunia ini yang belum mengenal ide Marxian ini sampai pada abad ke-20. Hubungan antara Marx dan Marxism adalah titik kontroversi. Marxism tetap berpengaruh dan kontroversial dalam bidang akademi dan politik sampai saat ini. Dalam bukunya Marx, Das Kapital (2006), penulis biografi Francis Wheen mengulangi penelitian David McLellan yang menyatakan bahwa sejak Marxisme tidak berhasil di Barat, hal tersebut tidak menjadikan Marxisme sebagai ideologi formal, namun hal tersebut tidak dihalangi oleh kontrol pemerintah untuk dipelajari.

Lanjut membaca