Mahasiswa Arkeologi Kampus Universitas Indonesia
Dugaan stereotypic pulau pacific sebagai suatu ekologi yang tidak mengalami perubahan dengan kesamaan batu karang, danau di tepi laut (lagoon), dan perbukitan di hutan tidak akan jauh dari kenyataan sebenarnya. Ekosistem pulau polinesia menunjukkan variabilitas lingkungan pada range yang sangat luar biasa dengan konsekuensi yang signifikan untuk adaptasi secara teknologi dan perilaku social. Kolonisasi nelayan yang tiba di Marqueses, sebagai contohnya, terpaksa harus memodifikasi strategi menangkap ikan mereka dari strategi yang sebelumnya mereka gunakan pada lagoon tropikal di polinesia barat. Hal ini dan perubahan-perubahan lain pada lingkungan yang dihadapi oleh kolonisasi di polionesia merupakan proses permulaan yang signifikan yang akan mengarahkan pada perbedaaan masyarakat polinesia. Bagaimanapun juga peranan lingkungan dalam perubahan budaya jauh lebih komplex dibandingkan dengan variabilitas geografis antar pulau. Semakin banyak arkeologis di polinesia telah menyadari aspek dinamika dari ekosistem pulau yang terus berubah sepanjang waktu dan hal ini akan menjadi fokus dari bab ini.
Dinamika lingkungan di polinesia dihasilkan sebanyak atau lebih, dari perbuatan yang dimiliki oleh manusia sebagai pross alamiah. Pada lingkungan akademis tertentu sebagai lingkungan yang populer telah muncul tesis yang mengungkapkan bahwa orang-orang oceania prasejarah sangat gemar mempraktekkan ‘Percakapan etnik’ yang mengarah pada kebiasaan di pulau mereka.dan perubahan ekologikal yang utama tidak terjadi hingga setelah kedatangan orang eropa. Bukti terbaru menunjukkan bahwa pandangan tersebut tidak benar dan seseorang menduga bahwa skala kebenaran dari pengaruh manusia prasejarah pada pulau pasifik tidak sepenuhnya tercakup baik oleh ilmuan prasejarah atau ilmuan alamiah (Kirch 1982a; 1982b; 1983b; Springgs 1981). Seperti yang dikatakan oleh geografer Perancis Ravault mengenai Tahiti: ‘le milieu Physique est plus ou moins fragile, mais dans une large mesure, ce sont les hommes qui en decident’ (1980:52). Pada bab ini, data arkeologi dan lingkungan-palaco disusun untuk mendemonstrasikan bahwa masyarakat polinesia secara aktif termanipulasi, termodifikasi, dan pada waktunya mendegradasi kebiasaan mereka di pulau tersebut menghasilkan perubahan ekologi yang penuh dengan konsekuensi besar untuk arah evolusioner dari masyarakat polinesia.

