Bentuk-Bentuk Frase Nominal


Bentuk-Bentuk Frase Nominal dalam Artikel

“Mencari ‘Karya Sastra’ yang Menguntungkan Perempuan?”

pada Jurnal Perempuan No. 30 Tahun 2003[1]

 

A. Pendahuluan

Frase merupakan bagian dari bahasa yang dalam pengkajiannya termasuk ke dalam tataran sintaksis. Frase merupakan satuan gramatikal berupa gabungan kata dengan kata yang bersifat nonpredikatif.[2] Dengan kata lain, frase dapat diartikan sebagai penggabungan kata menjadi salah satu fungsi dalam kalimat.[3]

Banyak ahli bahasa yang telah membahas masalah frase. Akan tetapi, pedoman penulis dalam menyusun tulisan ini adalah buku Tata Wacana Deskriptif Bahasa Indonesia (Kridalaksana: 1999) yang ditulis oleh Harimurti Kridalaksana. Selain itu, penulis juga menggunakan pembahasan dalam buku Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis (Ramlan: 1986) dan Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia (Chaer: 2006) sebagai bandingannya.

Sebagai data dalam pembuatan tulisan ini, penulis menggunakan artikel “Mencari ‘Karya Sastra’ yang Menguntungkan Perempuan?” karya Cok Sawitri yang dimuat dalam Jurnal Perempuan No.30 Tahun 2003.  Penulis akan membahas bentuk-bentuk frase nominal yang dikelompokkan berdasarkan polanya yang terdapat dalam artikel tersebut menurut pandangan tiga orang ahli bahasa Indonesia, yakni Harimurti Kridalaksana, M. Ramlan, dan Abdul Chaer.

Dalam teori yang dibuat oleh Harimurti Kridalaksana, M. Ramlan, dan Abdul Chaer, terdapat perbedaan di antara ketiganya dan masing-masing juga memiliki kekurangan dan kelebihan. Dengan membandingkan ketiganya, kekurangan dari teori yang dibuat oleh salah satu ahli bahasa tersebut dapat dilengkapi oleh teori ahli bahasa yang lainnya. Dengan demikian, tulisan ini dapat memberikan pemahaman secara tuntas tentang bentuk-bentuk frase nominal dan dapat membantu pengajaran tata bahasa Indonesia, khususnya tentang frase nominal.

B. Kategorisasi Frase

Berdasarkan ada atau tidaknya induk, frase dibedakan menjadi dua, yaitu frase eksosentris dan frase endosentris. Menurut Harimurti Kridalaksana, yang dimaksud dengan frase eksosentris adalah frase yang sebagian atau seluruhnya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan komponen-komponennya. Sebaliknya, frase endosentris adalah frase yang keseluruhannya mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan salah satu bagiannya (Kridalaksana,                                                                                                                                                                                                                                               1998: 144—147).

Frase eksosentris tidak mempunyai komponen yang menjadi induk. Komponen-komponen frase ini biasa disebut perangkai dan sumbu. Komponen perangkai berupa preposisi dan partikel, sedangkan komponen sumbu kata atau kelompok kata. Berdasarkan jenis perangkainya, frase eksosentris dapat dibedakan menjadi frase eksosentris direktif dan nondirektif. Perangkai pada frase eksosentris direktif berupa preposisi sehingga frase ini dapat juga disebut frase preposisional, sedangkan frase eksosentris nondirektif memiliki perangkai kategori lain

Berbeda dari frase eksosentris, pada frase endosentris salah satu komponen penyusunnya merupakan komponen inti.  Komponen dari frase endosentris berupa hulu dan pewatas.[4] Hulu biasanya diisi oleh kata yang akan menjadi penentu jenis frase, sedangkan pewatas biasanya menjadi komponen penjelas komponen hulu frase.

Sebagai contoh adalah frase semua kevulgaran pikiran si tokoh. Frase tersebut memiliki komponen hulu kevulgaran pikiran si tokoh yang merupakan kategori nomina, hulu tersebut semakin dijelaskan dengan komponen pewatas semua yang merupakan kategori numeralia. Frase yang memiliki komponen-komponen tersebut dinamakan frase endosentris berinduk satu atau frase modikatif. Selain itu, ada pula frase endosentris yang berinduk banyak. Frase ini dapat dibedakan lagi menjadi dua bagian yakni frase koordinatif dan frase apositif.

Kelas kata yang mengisi bagian hulu dalam frase modikatif menjadi penentu kelas frase yang akan terbentuk. Oleh karena itulah, pada frase modikatif terdapat frase verbal, frase ajektival, frase nominal, dan frase pronomina.

C. Bentuk-bentuk Frase Nominal

Frase nominal[5] adalah frase modikatif yang terjadi pada nomina sebagai induk dan unsur perluasan lain yang mempunyai hubungan subordinatif dengan induk. Frase nominal biasa mengisi garta subjek, objek, maupun pelengkap dalam kalimat. Secara keseluruhan, dari artikel “Mencari ‘Karya Sastra’ yang Menguntungkan Perempuan?”, penulis menemukan delapan puluh empat frase nominal. Penulis mengelompokkan bentuk-bentuk frase nominal yang ditemukan berdasarkan pola frase nominal menurut Harimurti Kridalaksana (1999), M. Ramlan (1986), dan Abdul Chaer (2006).

Dari dua puluh pola frase nominal yang disebutkan Harimurti, hanya dua belas pola frase yang terdapat dalam data, yakni sebagai berikut

a)      N1       +          (N2….Nn)

tradisi lisan                                   

kebuntuan komunikasi                  

daerah tujuan wisata                    

simpanan kisah-kisah tandingn

inspirasi dan referensi gerakan perempuan

Dalam pola ini, semua unsur pembentuk frase nominal berupa nomina. Nomina yang dapat mengisi tiap-tiap bagian frase dalam pola ini dapat berupa nomina dasar, seperti pada frase tradisi lisan, atau pun berupa nomina turunan, seperti kata kebuntuan pada frase kebuntuan komunikasi dan pada setiap unsur frase simpanan kisah-kisah tandingan. Komponen hulu frase juga dapat diisi dengan nomina yang berupa frase koordinatif, seperti pada frase inspirasi dan referensi gerakan perempuan yang hulunya inspirasi dan referensi.

b)     N1       +          (N2….Nn)+Prep+N3+(N4…Nn)

cerita-cerita dari ranah tradisi                  media rekayasa sosial ala tradisi

Dalam pola ini, komponen-komponen frase nominal diisi oleh kategori nomina dan frase preposisional. Unsur yang berupa nomina adalah komponen hulu dari frasenya, sedangkan unsur yang berupa frase preposisional adalah komponen pewatasnya. Untuk komponen hulu, kategori nomina yang mengisinya dapat berupa kata nomina maupun frase nomina.

cerita-cerita  dari ranah tradisi           media rekayasa sosial ala tradisi

hulu                       pewatas                                         hulu                              pewatas

c)      N1       +          se-N2

(tidak ada FN dengan pola ini pada data)

d)     N         +          yang    +          V         +          Dem

barang siapa yang tanpa sadar dilewati sang vagina ini

Frase nominal dalam pola ini, di samping komponen pengisi hulu berupa kategori nomina, memiliki komponen pewatas yang diisi dengan kategori frase eksosentris nondirektif.[6] Dapat dikatakan bahwa frase barang siapa yang tanpa sadar dilewati sang vagina ini terbentuk dari dua frase, yakni frase barang siapa yang merupakan frase endosentris nominal dan frase yang tanpa sadar dilewati sang vagina ini yang merupakan frase eksosentris nondirektif. Pada pola ini, kategori yang mengikuti yang dalam komponen pewatasnya adalah kategori verba dan demonstrativa, seperti dalam contoh, bentuk verbanya adalah tanpa sadar dilewati dan demonstrativanya adalah ini.

e)      N         +          yang    +          V         +          -nya

kisah anak perempuan yang mengalahkan ayahnya yang gila judi

karakter yang berlebihan hasratnya

Pada pola ini, frase memiliki unsur-unsur berupa nomina sebagai hulu dan komponen pewatas berupa frase eksosentris nondirektif. [7] Kategori yang mengisi komponen pewatas setelah unsur yang adalah kategori verba yang diikuti dengan bentuk dengan klitik –nya. Klitik –nya pada unsur pewatas mengacu pada nomina yang mengisi komponen hulu frase.

f)       N1       +          yang    +          N2       +  -nya  + F +Dem

(tidak ada FN dengan pola ini pada data )

g)      N         +          A

pakem-pakem ketat                       tradisi feminim

Pada pola ini, frase memiliki unsur-unsur berupa nomina sebagai hulu dan ajektiva sebagai pewatas. Berdasarkan data, nomina sebagai komponen hulu dapat berupa nomina dasar, seperti kata tradisi pada frase tradisi feminim dan dapat pula berupa nomina turunan, seperti kata pakem-pakem pada frase pakem-pakem ketat.

h)     N         +          A1       +          A2

(tidak ada FN dengan pola ini dalam data)

i)        N         +          A1       +          yang    +          A2

(tidak ada FN dengan pola ini dalam data)

j)       N         +          me-      +          dasar

cara mencekalnya

Penulis hanya menemukan satu contoh frase nominal dengan pola ini dari data. Sebagaimana frase nomina pada umumnya, komponen hulu pada frase ini diisi oleh kategori nomina. Untuk pewatas, frase ini diisi dengan kategori verba dengan prefiks me-.

k)     N         +          ber-     +          dasar

kebebasan berinterpretasi             cerita bertuah

Pada pola ini, frase memiliki unsur-unsur berupa nomina sebagai hulu dan verba dengan prefiks ber- sebagai pewatas. Berdasarkan data, nomina sebagai komponen hulu dapat berupa nomina dasar, seperti kata cerita pada frase cerita bertuah dan dapat pula berupa nomina turunan, seperti kata kebebasan pada frase kebebasan berinterpretasi.

l)        N         +          yang    +          [ V/A]  +          yang

kisah yang hilang                          wajah vagina yang tengah mekar                  

negri yang super makmur             negri yang tidak pernah tidur

kekuasaan manusia yang tamak   Cerita yang berisikan pendidikan seks

improvisasi yang tak cuma untuk menjembatani hubungan antar individu namun juga dengan simpul dan elemen dalam struktur masyarakat

kisah anak perempuan yang mengalahkan ayahnya yang gila judi

Pada pola ini, komponen hulu diisi oleh kategori nomina, baik nomina dasar maupun turunan, baik berupa kata maupun frase. Komponen pewatas pada pola ini adalah bentuk frase eksosentris nondirektif. Dalam pola ini, unsur di dalam pewatas dapat diperjelas lagi dengan frase eksosentris nondirektif juga. Seperti pada frase kisah anak perempuan yang mengalahkan ayahnya yang gila judi. Pada frase tersebut, komponen hulu anak perempuan diperjelas dengan frase yang mengalahkan ayahnya, dan ayahnya yang merupakan unsur dalam komponen pewatas diperjelas lagi dengan frase yang gila judi. Selain termasuk dalam frase berpola ini, frase kisah anak perempuan yang mengalahkan ayahnya yang gila judi juga dapat dimasukkan ke dalam kelompok frase berpola (e) menurut Harimurti.

m)   Num    +          N

semua kevulgaran pikiran si tokoh           

berbagai situasi    

salah satu propinsi di Indonesia

Pada pola ini, frase memiliki unsur-unsur berupa kategori nomina sebagai hulu dan numeralia sebagai pewatas. Berdasarkan data, untuk yang dalam satuan kata, nomina sebagai komponen hulu dapat berupa nomina dasar, seperti kata situasi pada frase berbagai situasi dan dapat pula berupa nomina turunan, seperti kata penikmat pada frase seorang penikmat. Begitu pula pada kategori numeralia pada komponen pewatasnya. Kategori numeralia tersebut dapat berupa numeralia dasar seperti semua, numeralia turunan, seperti berbagai, atau pun berupa frase numeralia, seperti salah satu.

n)     Num    + Ntakaran + N

(tidak ada FN dengan pola ini pada data)

  • o)      N1       +          ber-     +          Ngugus/Ntakaran + N2

(tidak ada FN dengan pola ini pada data)

p)     N         +          Pron

(tidak ada FN dengan pola ini pada data)

q)     N         +          Dem

dugaan ini

tradisi ini  

kisah I Tuwung Kemuning ini

Frase nominal pada pola ini memiliki unsur-unsur berupa kategori nomina sebagai hulu dan demonstrativa sebagai pewatas. Berdasarkan data, untuk yang dalam satuan kata, nomina sebagai komponen hulu dapat berupa nomina dasar, seperti kata tradisi pada frase tradisi ini dan dapat pula berupa nomina turunan, seperti kata dugaan pada frase dugaan ini.

r)      Adv1   +          Adv2   +          Num    +          N

(tidak ada FN dengan pola ini pada data)

s)       Art      +          [N, A, ter-V]

para penulis Indonesia

sang Bapak

Pada pola ini, frase memiliki unsur-unsur berupa nomina sebagai hulu dan komponen pewatas berupa artikula. Berdasarkan pola, disebutkan bahwa komponen hulu dapat diisi oleh kategori nomina, ajektiva, atau verba dengan prefiks ter-, tetapi dalam data, penulis hanya menemukan frase dengan pola ini yang kategori hulunya adalah nomina. Dalam penjelasannya, Harimurti juga mengkategorikan frase-frase dengan artikula ke dalam kelompok frase eksosentris nondirektif. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dalam teori Harimurti terjadi pertumpangtindihan kategori untuk frase-frase yang berunsur artikula.

t)       Art      +          ter-V

(tidak ada FN dengan pola ini pada data)

Berdasarkan pola-pola yang dibuat oleh Harimurti, penulis tidak dapat mengelompokkan beberapa frase nominal karena polanya berbeda. Frase-frase tersebut adalah misi tertentu, yang ingin disampaikan, yang berperan sebagai pengasuh anak, ruang interpretasi terbuka, dan bukan hanya sekadar cerita.

Bagi penulis, pola yang dibuat oleh Harimurti sebenarnya dapat lebih disederhanakan. Terlalu banyak pola membuat klasifikasi frase menjadi lebih sulit. Seperti contohnya pada frase cara mencekalnya, cerita bertuah, dan ruang interpretasi terbuka. Frase cara mencekalnya termasuk dalam kelompok pola

 N + me- + dasar, frase cerita bertuah termasuk dalam pola N + ber- + dasar, sedangkan frase ruang interpretasi terbuka tidak dapat masuk dalam kelompok pola mana pun. Ketiga frase tersebut sebenarnya dapat dikelompokkan ke dalam satu pola agar lebih sederhana. Pewatas dari ketiga frase tersebut sama-sama merupakan verba, sehingga pola ketiga frase tersebut dapat saja dikatakan N + V.

Hampir serupa dengan Harimurti Kridalaksana, M. Ramlan juga membuat pola frase nominal berdasarkan urutan unsur-unsur penyusunnya. Akan tetapi, berdasarkan jumlahnya, pola yang dibuat oleh M. Ramlan lebih sederhana.

a)      N + N

tradisi lisan                                                gerakan perempuan Indonesia

tukang leaknya                                          kecerdikan rakyat binatang

anak perempuannya                                  pemujaan Saraswati

media yang efektif                                     Drupadi yang poliandri                     

dugaan ini                                                 Tradisi ini

perubahan tanda dan makna       

bali yang punya tradisi kesenian yang menjadikan tema Calon Arang tak hanya sebagai cerita

improvisasi yang tak cuma untuk menjembatani hubungan antar individu namun juga dengan simpul dan elemen dalam struktur masyarakat

Frase dengan pola ini merupakan frase yang paling banyak ditemukan. Kategori nomina mengisi komponen hulu dan pewatas frase ini, baik berupa kata atau frase, bentuk dasar atau turunan. Frase dengan demonstrativa seperti dugaan ini, oleh Ramlan dikategorikan dalam kelompok pola ini. Hal ini agak membingungkan karena ini bukan merupakan kategori nomina. Masalah ini dapat diselesaikan dengan menganggap bentuk-bentuk demonstrativa sebagai nomina karena fungsinya yang memang dapat menggantikan nomina. Selain itu, frase nominal dengan komponen pewatas frase yang diawali dengan unsur yang juga termasuk ke dalam kelompok pola ini. Hal ini karena Ramlan mengkategorikan frase yang diawali dengan unsur yang ke dalam frase nominal.

b)     N + V

cara mencekalnya                         kebebasan berinterpretasi

cerita bertuah                                misi tertentu

Pada pola ini, frase memiliki unsur-unsur berupa nomina sebagai hulu dan verba sebagai pewatas. Berdasarkan data, nomina sebagai komponen hulu dapat berupa nomina dasar, yaitu pada frase cara mencekalnya dan dapat pula berupa nomina turunan, yaitu pada frase kebebasan berinterpretasi.

c)      N + Num

(Tidak ada frase dengan pola ini pada data)

d)     N + Ket

(Tidak ada frase dengan pola ini pada data)

e)      N + FP

cerita-cerita dari ranah tradisi                  media rekayasa sosial ala tradisi                               

Frase nominal pada pola ini memiliki unsur-unsur berupa kategori nomina sebagai hulu dan frase preposisional sebagai pewatas.

f)       Num + N

semua kevulgaran pikiran si tokoh            berbagai situasi          

semua ingatan                                           salah satu propinsi di Indonesia

Frase berpola ini memiliki unsur-unsur berupa kategori nomina sebagai hulu dan numeralia sebagai pewatas. Bentuk-bentuk nominal yang dapat mengisi komponen hulu dapat berupa kata, seperti pada frase berbagai situasi, atau frase, seperti pada frase semua kevulgaran piliran si tokoh. Untuk pewatasnya, kategori numeralia yang mengisi dapat berupa numeralia dasar, seperti semua, numeralia turunan, seperti berbagai, dan frase numeralia, seperti salah satu.

g)      Art + N

para penulis Indonesia                              sang Bapak

si anak

Frase dengan pola ini memiliki unsur-unsur berupa kategori nomina sebagai hulu dan komponen pewatas berupa artikula.

h)     Yang + N/V/Num /FP

yang berperan sebagai pengasuh anak     yang ingin disampaikan

Frase nominal dengan pola ini diawali dengan unsur yang yang menjadi pewatas. Unsur-unsur setelahnya, apa pun kategorinya, baik nomina, verba, numeralia, maupun frase preposional merupakan komponen hulu frase.

Dengan pola yang dibuat oleh M. Ramlan pun masih terdapat bentuk-bentuk frase nominal yang tidak dapat dikelompokkan. Frase-frase tersebut adalah bukan hanya sekedar cerita, pakem-pakem ketat dan tradisi feminim yang merupakan penggabungan nomina dengan ajektiva atau berpola N + A. Walaupun demikian, frase yang tidak memiliki kelompok pola dalam pengelompokkan frase berdasarkan pola yang dibuat Harimurti, pada pengelompokkan Ramlan dapat dikelompokkan.

Frase yang berperan sebagai pengasuh anak dan yang ingin disampaikan yang polanya tidak terdapat dalam pengelompokkan Hatimurti, dalam pengelompokkan Ramlan termasuk ke dalam pola Yang + V. Menurut teori Harimurti, frase-frase tersebut bukanlah termasuk frase endosentris, atau lebih khusus lagi frase nominal, melainkan frase eksosentris nondirektif.

Untuk frase ruang interpretasi terbuka dan misi tertentu, pola yang tepat dalam pengelompokkan Ramlan adalah pola N + V. Bila Harimurti membedakan pola antara frase nominal dengan pewatas bentuk berimbuhan ber- dan me-, dan tidak mencantumkan pola untuk frase nominal berpewatas bentuk berimbuhan ter-, Ramlan mengelompokkan tiga bentuk tersebut ke dalam pola yang sama, yakni N + V.

Penjelasan Harimurti yang mengatakan bahwa kelas kata yang mengisi bagian hulu dalam frase modikatif menjadi penentu kelas frase yang akan terbentuk tidak berlaku untuk frase yang berperan sebagai pengasuh anak            dan yang ingin disampaikan. Frase tersebut masing-masing memiliki hulu berperan sebagai pengasuh anak dan ingin disampaikan yang merupakan verba dengan pewatas yang yang bertugas sebagai pembentuk nomina. Walaupun demikian, frase tersebut termasuk kategori frase nominal karena perlakuannya dalam klausa serupa dengan nomina. Sebagai nomina, dalam data frase tersebut mengisi gatra subjek.

Yang berperan sebagai pengasuh anak   adalah   sang Bapak

S                                         P               O

Bila Harimurti dan Ramlan membuat pola berdasarkan urutan kata atau frase penyusunnya, Abdul Chaer membuat pola berdasarkan urutan hulu dan pewatasnya. Hulu sebagai inti frase adalah unsur yang diterangkan, sedangkan pewatas sebagai penjelas adalah unsur yang menjelaskan hulu. Berdasarkan urutan hulu dan pewatas tersebut, terdapat dua pola frase nominal, yakni pola Diterangkan-Menerangkan (D-M) dan pola Menerangkan-Diterangkan (M-D). Pola D-M berarti pewatas didahului hulu dan pola M-D berarti kebalikannya.

Sebagai contoh, frase cerita-cerita dari ranah tradisi dan berbagai situasi. Masing-masing frase tersebut secara berurutan berpola D-M dan M-D. Pada frase cerita-cerita dari ranah tradisi, unsur cerita-cerita diterangkan oleh unsur dari ranah tradisi, sedangkan pada frase berbagai situasi, unsur berbagai menerangkan unsur situasi. Berikut daftar frase nominal dalam atikel “Mencari ‘Karya Sastra’ yang Menguntungkan Perempuan?” yang telah dikelompokkan berdasarkan pola Abdul Chaer.

D-M

M-D

- cerita-cerita dari ranah tradisi

- dugaan ini

- tradisi ini

- tradisi lisan

- dampak tradisi bertutur ini

- gerakan perempuan Indonesia

- kebuntuan komunikasi

- dugaan lain

- inspirasi dan referensi gerakan perempuan

- beban penterjemahan peristilahan

- dugaan itu

- media rekayasa sosial ala tradisi

- daerah tujuan wisata

- kisah Calon Arang

- bali yang punya tradisi kesenian yang menjadikan tema Calon Arang tak hanya sebagai cerita

- ranah tradisi Bali

- cara mencekalnya

- cerita bertuah             

- pakem-pakem ketat

- berbagai situasi

- salah satu propinsi di Indonesia

- semua ingatan

- bukan hanya sekedar cerita

- sang vagina

- seorang penikmat

- sang Bapak

- si anak

-  yang ingin disampaikan

- seorang lelaki

- para penutur

- suatu wilayah

- yang berperan sebagai pengasuh anak

- satu cerita

Berdasarkan frase dengan pola yang dibuat Abdul Chaer yang penulis temukan dalam data, pewatas, atau unsur yang menerangkan, pada frase berpola D-M adalah berupa kategori nomina, verba, ajektiva, dan demonstrative. Adapaun komponen hulunya, semua frase diisi oleh kategori nomina. Untuk frase berpola M-D, komponen pewatas dapat diisi oleh kategori numeralia, adverbia, arikula, dan konjungsi (yang), sedangkan komponen hulunya dapat berupa kategori nomina atau verba (bila pewatasnya yang).

Karena pengelompokkannya lebih sederhana, pola frase nominal menurut Abdul Chaer dapat mengelompokkan seluruh frase nominal yang penulis temukan dari data.  Frase bukan hanya sekedar cerita yang polanya tidak terdapat dalam pengelompokkan yang dibuat Harimurti dan Ramlan pun dalam pola Chaer dapat dikelompokkan. Frase tersebut terbentuk dari hulu nomina sekedar cerita dan pewatas adverbial bukan hanya. Walaupun dapat mengelompokkan seluruh frase, khususnya frase bukan hanya sekedar cerita, kategori komponen frase tersebut tidak dapat diketahui melalui pola yang dibuat Chaer.

D. Simpulan

Pembahasan Harimurti Kridalaksana, M. Ramlan, dan Abdul Chaer mengenai hal tersebut yang terdapat dalam masing-masing buku mereka dapat dijadikan acuan yang baik dalam pemahaman tentang frase endosentris modikatif, khususnya kategori nomina. Ketiga ahli tata bahasa tersebut memberikan pola-pola frase nominal yang dapat dijadikan pedoman dalam menentukan kelompok kata yang mungkin saja frase nominal, terutama pola Harimurti dan Ramlan karena keduanya menyajikan urutan kata atau frase penyusunnya. Untuk pola Abdul Chaer, walaupun tidak dapat membantu banyak dalam penentuan frase nominal bagi peneliti yang sama sekali awam mengenai frase, cakupannya dalam mengelompokkan frase nominal berdasarkan kesamaan polanya jauh lebih luas dibandingkan pola Harimurti dan Ramlan.

Dari pola yang diberikan oleh Ramlan, dapat pula diketahui bahwa hulu pada frase nominal tidak mutlak berupa nomina. Hulu verba dapat menjadi frase nomina bila diberi pewatas yang. Untuk pewatas, kategori yang dapat mengisinya adalah nomina, verba, ajektiva, artikula, numeralia, adverbia, demonstrativa, dan frase preposisional. Dengan demikian, dapat disimpukan bahwa pola dari frase nominal yang menjadi data adalah sebagai berikut.

a)      N + N

tradisi lisan                                                gerakan perempuan Indonesia           

kebuntuan komunikasi                               beban penterjemahan peristilahan

kisah yang hilang                                      perubahan tanda dan makna

inspirasi dan referensi gerakan perempuan

improvisasi yang tak cuma untuk menjembatani hubungan antar individu namun juga dengan simpul dan elemen dalam struktur masyarakat

kisah anak perempuan yang mengalahkan ayahnya yang gila judi

seorang ayah yang hanya menginginkan anak laki-laki saja


      Frase yang termasuk ke dalam pola ini terdiri atas kategori nomina untuk komponen hulu dan pewatasnya. Komponen pewatas dengan frase yang diawali dengan yang termasuk ke dalam kelompok pola ini.

b)     N + V

cara mencekalnya                         kebebasan berinterpretasi

cerita bertuah                                misi tertentu

Untuk pola ini, komponen hulu frase diisi oleh kategori nomina, sedangkan komponen pewatasnya diisi oleh kategori verba.

c)      N + A

pakem-pakem ketat                       tradisi feminim

Frase nominal dalam pola ini memiliki komponen hulu berupa kategori nomina dan pewatas berupa kategori ajektiva.

d)     N + Dem

dugaan ini                                     tradisi ini

dampak tradisi bertutur ini            dugaan itu

Frase yang termasuk ke dalam pola ini terdiri atas kategori nomina untuk komponen hulu dan kategori demonstrativa untuk pewatasnya.

e)      N + FP

cerita-cerita dari ranah tradisi                  media rekayasa sosial ala tradisi

Untuk pola ini, komponen hulu frase nominal diisi oleh kategori nomina, sedangkan komponen pewatasnya diisi oleh bentuk frase preposisional.

f)       Art + N

para penulis Indonesia

sang Bapak

si anak

Frase yang termasuk ke dalam pola ini terdiri atas kategori nomina untuk komponen hulu dan diawali dengan kategori artikula sebagai pewatasnya.

g)      Adv + N

bukan hanya sekedar cerita

Kategori yang mengisi komponen hulu pada frase nominal dengan pola ini adalah kategori nomina. Untuk pewatasnya, kategori yang dapat mengisi adalah kategori adverbia.

h)     Yang + V

yang berperan sebagai pengasuh anak     yang ingin disampaikan

Dalam pola ini, kategori yang mengisi komponen hulu adalah kategori verba. Sebagai pewatasnya, frase nominal dengan pola ini berpewatas konjungsi yang. Yang di sini selain sebagai pewatas, juga berfungsi sebagai pembentuk nomina.

Contoh-contoh frase nominal yang digunakam diambil dari artikel “Mencari ‘Karya Sastra’ yang Menguntungkan Perempuan?” Jurnal Perempuan No.30 Tahun 2003. Penulis juga melampirkan fotokopi artikel yang dijadikan data.

Daftar Pustaka

Chaer, Abdul. 2006. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia.

Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, Harimurti. 1999. Tata Wacana Deskriptif Bahasa Indonesia.

Depok: FSUI

Ramlan, M. 1986. Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis.Yogyakarta: CV Karyono.

Sawitri, Cok. 2003. “Mencari ‘Karya Sastra’ yang Menguntungkan Perempuan?”. Jurnal Perempuan Nomor 30

LAMPIRAN

Bentuk-bentuk Frase Nominal dalam Artikel “Mencari ‘Karya Sastra’ yang Menguntungkan Perempuan?” Jurnal Perempuan No.30 Tahun 2003:

a)      N + N

tradisi lisan                                                gerakan perempuan Indonesia           

kebuntuan komunikasi                               beban penterjemahan peristilahan

daerah tujuan wisata                                 kisah Calon Arang

ranah tradisi Bali                                      cerita calon arang

perhatian masyarakat luas                        kisah Ambar

simpanan kisah-kisah tandingan               garis bawah sisi emosional

kebebasan sang penutur                            orang Bali

soal keseharian                                         posisi perempuan

lelaki tukang leak                                      beban psikologisnya

tukang leaknya                                          kecerdikan rakyat binatang

anak perempuannya                                  pemujaan Saraswati

kisah yang hilang                                      wajah vagina yang tengah mekar

media yang efektif                                     Galuh Daha yang malang

Drupadi yang poliandri                            Kunti yang jago memanggil dewa

negri yang super makmur                         Srikandi yang mengalahkan Bisma

cerita yang terkenal                                   negri yang tidak pernah tidur

perubahan tanda dan makna                    cerita yang berisikan pendidikan seks

kekuasaan manusia yang tamak               sekuel Tantri yang paling populer

karakter yang berlebihan hasratnya        

lelaki yang justru dikalahkan oleh Ni Garu

inspirasi dan referensi gerakan perempuan

barang siapa yang tanpa sadar dilewati sang vagina ini

ruang yang memungkinkan terjadinya ‘jungkir baliknya’ imaji

kisah anak perempuan yang mengalahkan ayahnya yang gila judi

bali yang punya tradisi kesenian yang menjadikan tema Calon Arang tak hanya sebagai cerita

sekedar reproduksi realitas secara mekanis yang dapat dipesan begitu saja

pencari kisah yang menguntungkan untuk perempuan

kisah berbingkai yang menghadirkan tokoh-tokoh binatang

improvisasi yang tak cuma untuk menjembatani hubungan antar individu namun juga dengan simpul dan elemen dalam struktur masyarakat

kisah anak perempuan yang mengalahkan ayahnya yang gila judi

seorang ayah yang hanya menginginkan anak laki-laki saja

tradisi yang memberi peran perempuan demikian luas

b)     N + V

cara mencekalnya                         kebebasan berinterpretasi

cerita bertuah                                misi tertentu

ruang interpretasi terbuka

beban definisi pengertian rekayasa sosial tersebut

c)      N + A

pakem-pakem ketat                       tradisi feminim

d)     N + Dem

dugaan ini                                     tradisi ini

dampak tradisi bertutur ini            dugaan itu

Ambar ini                                      kategori Ambar ini

kisah I Tuwung Kemuning ini

e)      N + FP

cerita-cerita dari ranah tradisi      media rekayasa sosial ala tradisi

f)       Art + N

para penulis Indonesia

sang Bapak

si anak

g)      Adv + N

bukan hanya sekedar cerita

h)     Yang + V

yang ingin disampaikan                yang berperan sebagai pengasuh anak          


[1]  Tulisan ini merupakan Tugas Akhir Semester yang disusun untuk memenuhi syarat kelulusan mata kuliah SintaksisIndonesia semester genap 2009/2010, 27 Mei 2010

[2]  Harimurti Kridalaksana, 1999, Tata Wacana Deskriptif Bahasa Indonesia, Depok: FSUI. (Hlm. 144)

[3]  Abdul Chaer, 2006, Tata Bahasa  Praktis Bahasa Indonesia,Jakarta: Rineka Cipta. (Hlm. 300)

[4] Hulu dan pewatas adalah istilah yang digunakan oleh Harimurti Kridalaksana. Abdul Chaer menggunakan istilah unsur yang diterangkan (biasa disingkat D) dan unsur yang menerangkan (biasa disingkat M), sedangkan Ramlan menggunakan istilah unsur pusat (disingkat UP) dan atribut (disingkat Atr.)

[5] Istilah frase nominal digunnakan oleh Harimurti Kridalaksana dan M. Ramlan, sedangkan Abdul Chaer menggunakan istilah frase benda.

[6]  Harimurti mengelompokkan bentuk-bentuk frase yang diawali dengan yang ke dalam frase eksosentris nondirektif, sedangkan menurut teori M. Ramlan frase ini termasuk jenis frase endosentris nominal.

[7] Karena sedang membahas pola frase nominal menurut Harimurti, penulis menggunakan istilah frase eksosentris nondirektif untuk bnetuk-bentuk frase yang diawali dengan yang. Akan tetapi, penulis lebih setuju pada pemaparan Ramlan yang mengkategorikan bentuk-bentuk tersebut ke dalam frase endosentris nominal. Mengenai hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada pembahasan berikutnya.

Penulis: Winda Andriana, Mahasiswi Sastra Indonesia FIB UI

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s