Analogi dan Anomali
dalam Perubahan Morfemis Bahasa Melayu:
Analisis Perkembangan Bahasa Melayu Kuna Menjadi Bahasa Indonesia[1]
A. Pendahuluan
Bahasa Melayu sudah tertuang dalam bentuk tulisan sejak abad ke-7 Masehi. Bahasa Melayu abad ke-7 yang selanjutnya diidentifikasi sebagai bahasa Melayu Kuna ini ditemukan dalam sejumlah prasasti di Sumatra. Prasasti-prasasti tersebut di antaranya adalah prasasti Kedukan Bukit yang bertarikh 605 Saka (683 Masehi), prasasti Talang Tuwo yang bertarikh 684 Masehi, dan prasasti Kota Kapur yang bertarikh 686 Masehi (Suhardi, dalam Manisnambow dan Haenen, 2002: 15).
Berdasarkan periodisasi bahasa Melayu yang dibuat oleh Harimurti Kridalaksana, bahasa Melayu Kuna—seperti yang digunakan dalam prasasti abad ke-7 Masehi—digunakan dalam kurun abad ke-7 sampai abad ke-14. Adapun bahasa Melayu kini—dalam hal ini bahasa Indonesia—termasuk dalam periode bahasa Melayu Baru yang baru dipergunakan sejak kurun abad ke-20 (Kridalaksana, 1991: 5). Dalam rentang waktu yang cukup lama tersebut, tentu banyak perubahan dalam bahasa Melayu. Perubahan nyata yang terujud dalam bahasa Melayu, salah satunya, adalah struktur lahir.
Struktur lahir bahasa mencakup fonologi, morfologi, dan sintaksis. Perubahan struktur lahir yang akan dipaparkan lebih lanjut dalam tulisan ini adalah perubahan morfemis yang dicakupi bidang morfologi. Perubahan morfemis dalam bahasa Melayu dapat diketahui berdasarkan percontohan bentuk-bentuk morfem yang lain. Dalam meneliti perubahan morfemis suatu bahasa, terdapat dua proses penting yang sudah dikenal sejak zaman Yunani Kuno, yaitu analogi atau keteraturan dan anomali atau ketidakteraturan (Keraf, 1996: 94).
Dalam tulisan ini, penulis akan memaparkan perubahan morfemis bahasa Melayu dengan melihat morfem-morfem yang secara intuitif diketahui penulis telah mengalami perubahan morfemis. Morfem-morfem tersebut didapat dari teks tiga artikel tertua yang telah disebutkan di atas, yaitu pada prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuwo, dan Kota Kapur[2]. Setelah itu, penulis mendeskripsikan perubahan morfemis dari bahasa Melayu Kuna pada teks prasasti tersebut hingga bahasa Indonesia dengan mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Adapun dalam mendeskripsikan, penulis menggunakan sudut pandang analogi dan anomali pada proses perubahan morfemis dari data. Berikut ini data atau morfem-morfem bahasa Melayu Kuna dalam ketiga prasasti tersebut serta ujud perubahannya pada bahasa Indonesia.
|
Morfem |
|
|
Dalam Prasasti |
Dalam KBBI |
| bhakti | Bakti |
| ka | Ke |
| mamawa | membawa |
| marlapas | melepas |
| marwuat | membuat |
| nipahat | dipahat |
| niparwuat | diperbuat |
| sapulu | sepuluh |
|
Morfem |
|
|
Dalam Prasasti |
Dalam KBBI |
| sariwu | seribu |
| sukhacitta | sukacita |
| waiçakha | saka |
| wala | bala |
| wanua | benua |
| wanyaknya | banyaknya |
| wulan | bulan |
B. Analogi dalam Perubahan Morfemis Bahasa Melayu
Analogi merupakan suatu proses yang mengubah morfem-morfem atau kombinasi morfem-morfem atau pola-pola linguistik berdasarkan bentuk-bentuk yang sudah ada atau menciptakan morfem-morfem baru berdasarkan morfem-morfem yang sudah ada (Keraf, 1996: 94). Konsep analogi sama dengan konsep kesejajaran. Misalnya, jika dalam sebuah morfem, konsonan /m/ berubah menjadi konsonan /b/ dan pada kata yang lain memiliki pola yang serupa, hal ini disebut keteraturan. Contoh analogi dalam data adalah sebagai berikut.
| nipahat | è Dipahat |
| niparwuat | è diperbuat |
Berdasarkan data di atas, morfem ni- pada prasasti dengan konsisten berubah menjadi di- pada bahasa Indonesia. Contoh keteraturan yang lain adalah pada morfem ma- pada marlapas, marwuat, dan mamawa yang kini berubah menjadi me- sehingga bentuk yang dikenal adalah melepas, membuat, dan membawa. Dalam hal ini vokal /a/ pada imbuhan, dalam perkembangannya, berubah menjadi /è/.
Selain pada morfem ni- dan ma-, morfem terikat lain—atau imbuhan—yang mengalami analogi dalam perubahannya adalah morfem sa- yang pada data terkandung dalam sapulu dan saribu. Perubahan yang terjadi sama, terletak pada vokalnya. Morfem sa- sekarang menjadi se- sehingga bentuk yang muncul adalah sepuluh dan seribu.
Perubahan morfem yang menunjukkan keteraturan tidak hanya terjadi pada morfem-morfem terikat—seperti yang dijelaskan sebelumnya. Konsonan /w/ pada awal morfem secara konsisten berubah menjadi konsonan /b/. Contoh berdasarkan data adalah sebagai berikut.
| wulan | è bulan |
| wuat[3] | è buat |
| mawa[4] | è bawa |
| wanyak | è banyak |
| wanua | è benua |
Dalam data, ditemukan pula perubahan konsonan /w/ menjadi /b/ yang terletak di tengah morfem, yaitu riwu pada sariwu yang bentuknya kini adalah ribu pada seribu. Namun, pada batas penelitian ini, perubahan tersebut belum dapat dikatakan sebagai suatu proses perubahan analogi. Hal tersebut karena secara morfemis, tidak ada bentuk lain dalam data yang dapat menunjukkan kesejajaran dengan bentuk tersebut.
Kecenderungan penghilangan salah satu konsonan pada morfem yang memiliki konsonan rangkap dalam data juga memperlihatkan keteraturan. Penghilangan konsonan ini terjadi pada konsonan rangkap yang terdapat dalam satu suku. Dalam data, morfem-morfem dengan konsonan rangkap /kh/, secara konsisten, mengalami penghilangan konsonan /h/ pada perkembangannya. Perhatikan contoh perubahan morfemis berikut.
| çakha[5] | è saka |
| sukha[6] | è suka |
| bhakti | è bakti
|
C. Anomali Perubahan Morfemis Bahasa Melayu
Selain analogi, perubahan morfemis bahasa Melayu, dalam prosesnya, juga memperlihatkan anomali. Anomali dalam lingkup ini berarti ketidakteraturan dalam perubahan morfemis bahasa Melayu berdasarkan sudut pandang bahasa Indonesia. Dalam morfem bahasa Melayu yang terdapat dalam data, terdapat beberapa yang menunjukkan adanya anomali tersebut.
Perubahan /a/ menjadi /è/ adalah salah satu anomali yang ditemukan dalam bahasa Melayu. Pada morfem-morfem terikat, seperti sa- dan ma-, /a/ berubah menjadi /è/ secara teratur. Namun, perubahan tersebut terjadi pula pada ka yang kini ke dan pada lapas dalam marlapas yang kini lepas. Vokal /a/ pertama dalam lapas berubah menjadi /è/, sedangkan vokal /a/ kedua tidak berubah.
Anomali perubahan vokal ini semakin dipertegas dengan morfem banyak dalam banyaknya yang dalam perkembangannya menjadi bahasa Indonesia tidak mengalami perubahan, tetap banyak. Vokal /a/ dalam morfem tersebut tidak satu pun berubah menjadi /è/. Hal ini dikatakan anomali karena tidak adanya kesejajaan atau keteraturan mengenai perubahan vokal /a/ menjadi /è/. Dengan kata lain, tidak ada ketentuan tentang posisi atau keadaan seperti apa sebuah morfem dapat mengalami perubahan tersebut.
D. Kesimpulan
Dalam perkembangan bahasa Melayu Kuna menjadi bahasa Indonesia, telah terjadi banyak perubahan. Perubahan yang dapat nyata terlihat adalah perubahan struktur, salah satunya morfologis bahasa. Kini, morfem-morfem turunan bahasa Melayu Kuna telah banyak berubah. Perubahan tersebut dapat terjadi secara konsisten pada tiap morfem dalam kesejajaran tertentu atau pun tidak. Apabila perubahan morfem-morfem konsisten, prosesnya adalah analogi. Akan tetapi, apabila sebaliknya, prosesnya disebut anomali.
Berdasarkan data, proses perubahan morfemis bahasa Melayu Kuna menjadi Bhasa Indonesia yang terjadi kebanyakan memiliki keteraturan, atau prosesnya adalah analogi. Analogi banyak terjadi pada morfem-mofem terikat. Sementara ini, perubahan secara konsisten terjadi pada morfem-morfem terikat dalam keadaannya yang terikat pada morfem lain dan sejajar, misalnya, /a/ selalu menjadi /è/ pada bentuk-bentuk seperti merwuat, marlapas, dan mamawa. Selain itu, analogi yang terjadi pada perubahan morfemis bahasa Melayu Kuna menjadi bahasa Indonesia juga menunjukkan keteraturan bahwa /w/ apada awal morfem berubah menjadi /b/ dan konsonan rangkap yang konsonan keduanya adalah /h/ berubah dengan penghilangan konsonan /h/, misalnya bhakti menjadi bakti.
Tidak banyak anomali dalam perubahan morfemis bahasa Melayu Kuna menjadi bahasa Indonesia ini yang didapat dari data. Satu yang penulis temukan adalah berubahnya vokal /a/ menjadi /è/ pada suatu morfem bebas, sementara pada morfem lainnya tidak berubah, seperti lapas yang kini menjadi lepas, tetapi pada banyak tidak ada perubahan vokal /a/ yang terjadi. Namun, hal ini bukanlah hasil yang mutlak. Perlu lebih banyak data untuk memastikan perubahan morfemis tersebut adalah anomali.
Bibliografi:
Keraf, Gorys. 1996. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
Kridalaksana, Harimurti. “ Pengantar tentang Pendekatan Historis dalam Kajian Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia”. Dalam Harimurti Kridalaksana (ed.). 1991. Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Suhardi, Basuki. “Perkembangan Bahasa Indonesia”. Dalam E.K.M. Masinambow dan Paul Haenen (ed.). 2002. Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
[1] Tulian ini merupakan tugas harian mata kuliah Perkembangan Bahasa Indonesia Program Studi Indonesia FIB UI semester genap tahun ajaran 2010/2011
[2] Teks dalam prasasti didapatkan penulis dari artikel Basuki Suhardi “Perkembangan Bahasa Melayu” dalam Masinambow dan Haenen (2001)
[3] wuat dalam data ditemukan dalam bentuk berimbuhan marwuat
[4] mawa dalam data ditemukan dalam bentuk berimbuhan mamawa
[5] Dalam data, bentuk yang ditemukan adalah waiçakha
[6] Dalam data, bentuk yang ditemukan adalah sukhacitta
Penulis: Winda Andriana, Mahasiswi Sastra Indonesia FIB UI