Bahasa dan Identitas


Identitas Etnik Berdasarkan Pemakaian Bahasa :

Tinjauan terhadap Komunikasi Antartokoh

dalam Cerpen Lebaran Ini, Saya Harus Pulang Karya Umar Kayam

Bahasa adalah sistem yang memiliki variasi sehingga perbedaan dalam pemakaian bahasa sangat dimungkinkan untuk terjadi. Hal ini terjadi karena bahasa bukan hanya terdiri atas bangun-bangun linguistik. Hal lain yang turut memberi pengaruh penting dalam suatu perujudan bahasa adalah penuturnya. Besarnya peran penutur dalam mengeluarkan bunyi bahasa, pertama-tama, dapat diperhatikan melalui pengertian yang diberikan untuk bahasa, yaitu sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri (Kridalaksana, 2007: 3).

Bahasa dipakai oleh suatu kelompok masyarakat. Dengan demikian, ujud pemakaian bahasa dapat dibedakan berdasarkan kelompok masyarakat pemakainya. Berdasarkan pengertian di atas pula, dapat diuraikan bahwa bahasa mengandung suatu identitas, dalam hal ini adalah kelompok masyarakat. Dengan kata lain, identitas seorang pemakai bahasa dapat ditentukan melalui cara atau gayanya dalam berbahasa. Jadi, dalam kegiatan memahami bahasa, fungsi-fungsi bahasa dalam masyarakat, misalnya mengenai identifikasi diri, perlu ditinjau lebih jauh karena hal tersebutlah, salah-satunya, yang menyebabkan pemakaian bahasa menjadi beragam.

Pemakaian bahasa dapat menjadi lencana etnisitas yang rasial kultural. Seseorang mungkin memilih untuk berbicara dalam bahasa tertentu, dialek, aksen, atau gaya tertentu pada situasi yang berbeda dan untuk tujuan yang berbeda. Istilah kode digunakan untuk variasi pemakaian tersebut. Salah satu contoh keberagaman pemakaian kode bahasa yang akan dipaparkan selanjutnya adalah mengenai pemakaian kode bahasa yang diakibatkan oleh keberagaman kelompok masyarakat yang merupakan identitas pemakai bahasa, yaitu identitas etnik dari pemakai bahasa.

Adapun etnik dalam kamus memiliki pengertian ‘bertalian dengan kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa, dan sebagainya; etnis’ (KBBI, 2003: 309). Berkaitan dengan pemakaian bahasa, seorang dalam etnik tertentu seringkali menggunakan suatu bahasa khusus dalam berkomunikasi dengan orang lain dalam etnik yang sama. Namun, seseorang dapat pula tetap menggunakan bahasa yang digunakan kelompok etniknya untuk berkomunikasi dengan orang lain dari etnik yang berbeda selama dianggap masih memungkinkan. Apabila hal tersebut tidak dimungkinkan, seseorang hanya menggunakan sedikit kata dari bahasa etniknya dalam kalimat-kalimat yang diujarnya dalam berkomunikasi. Perhatikan contoh berikut.

Nem masih terus memijit kaki majikan perempuannya. Malah majikannya itu memejamkan matanya, tampak menikmati pijitan Nem.

Lha,  kamu senang tidak tinggal bersama kami, Nem?”

Lho, ya senang dan krasan to, Pak. Sedikitnya tinggal, ikut Bapak dan Ibu selama lima belas tahun, kan ya lama, nggih?” (Kayam, 2000: 31)

Kutipan di atas memperlihatkan percakapan antara majikan dan pembantunya. Si majikan jelas seorang pemakai bahasa Indonesia, tetapi tidak dengan si pembantu, Nem. Dalam mengucapkan kalimatnya, Nem menggunakan bahasa Indonesia dengan sedikit memunculkan kosakata Jawa. Berdasarkan pemaparan sebelumnya, Nem berusaha untuk menciptakan komunikasi yang baik dengan majikannya yang menggunakan bahasa Indonesia, tetapi, bahasa Indonesia yang digunakan oleh Nem tidak sempurna. Kalimat yang diucapkan Nem mengidentifikasikannya sebagai seseorang yang beretnis Jawa.

Pada masyarakat beretnis Jawa, terdapat beberapa kosakata yang fungsinya sebagai pelancar komunikasi. Bukan hanya bahasa Jawa, bahasa lainnya juga mungkin memiliki. Jenis kosakata seperti ini biasanya sulit hilang kendati seseorang sudah lama tinggal dalam lingkungan di luar etnisnya. Dalam bahasa Jawa, misalnya, kata penengas seperti lho, lha, to dan, nggih sering ditemukan dalam percakapan

Peralihan dua kode bahasa, salah satunya, berujud bahasa yang berbeda namun bermakna sama yang berfungsi mempertegas kode bahasa yang muncul lebih dahulu. Sebagai contoh, perhatikan kutipan di bawah ini.

[…] “Ya sudah, Nem, kalau kemauanmu sudah keras begitu. Tapi sebelum pergi, paling tidak kamu harus berbakti kepada kami, masak keahlianmu rawon iga-sapi dan sop-buntut kacang merah.”

“Jadi, Bu! Dados[1]!” (Kayam, 2000: 33)

Identitas etnik bahasa, selain adanya penambahan kosakata penegas, juga seringkali diketahui dari adanya peristiwa alih kode dalam berbicara. Adapun allih kode dapat dipahami sebagai peralihan dari kode bahasa yang satu ke kode bahasa lainnya. Dengan melihat kembali kutipan di atas, dapat terlihat bahwa telah terjadi alih kode pada kalimat yang diucapkan si pembantu yang berujud peralihan dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa, contohnya kata krasan ‘betah’. Untuk contoh lain, perhatikan kutipan di bawah ini.

[…] Nem mendengarkan laporan kemenakan-kemenakannya itu dengan penuh haru sekaligus ikhlas.

“Ikhlas ya, Mbokde?”

Ya ikhlas to, Le.” (Kayam, 2000: 32)

Hampir setiap bahasa memiliki kata sapaan yang khas. Oleh karena itu, penggunaan kata sapaan tentu dapat menunjukkan identitas etnis penggunanya. Masih mengenai gejala alih kode, kutipan di atas menunjukkan bahwa penuturnya beretnis Jawa karena terdapat peralihan kode dari kode bahasa Indonesia menjadi kode bahasa Jawa yang diujudkan dengan kata Mbokde[2] dan Le[3] dalam kalimat.

Seseorang atau pun kelompok suatu etnik, misalnya Jawa, yang hidup dalam suatu kelompok bahasa yang dominan, misalnya Jakarta sebagai kelompok pengguna bahasa Indonesia, akan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-harinya bahkan mungkin pula kebiasaan menggunakan bahasa Jawanya hilang sama sekali. Walaupun demikian, identitas orang Jawa yang tinggal di Jakarta akan tetap dikenal, salah satunya melalui gaya bicara yang khas yang biasa disebut medok.

Bibliografi

Holmes, Janet. 2008. An Introduction to Sociolinguistics: Third Edition. UK: Longman

Kayam, Umar, Kenedi Nurhan. 2000. “Lebaran Ini, Saya Harus Pulang”. Dalam Kenedi Nurhan (ed.). Dua Tengkorak Kepala: Cerpen Pilihan Kompas 2000. Jakarta: Penerbit Harian Kompas

Kridalaksana, Harimurti. 2007. “Bahasa dan Linguistik”. Dalam  Kushartanti, Untung Yuwono, Multamia RMT Lauder(ed.). Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Rahardi, Dr. R. Kunjana Rahardi. 2010. Kajian Sosiolinguistik: Ihwal Kode dan Alih Kode. Jakarta: Ghalia Indonesia

Stockwell, Peter. 2002. Sociolinguistics: a Resource Book for Students. London: Routledge

Suhardi, B., dan B. Cornelius Sembiring. 2007. “Aspek Sosial Bahasa”. Dalam  Kushartanti, Untung Yuwono, Multamia RMT Lauder(ed.). Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka


[1] Dalam bahasa Jawa, dados berarti ‘jadi’

[2] Kata sapaan dalam bahasa Jawa untuk menyebut adik perempuan dari orang tua (tante)

[3] Kata sapaan dalam bahasa Jawa untuk menyebut anak laki-laki

 Penulis: Winda Andriana, Mahasiswi Sastra Indonesia FIB UI

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s