A. Pendahuluan
Bahasa Melayu, berdasarkan sumber tertulis, sudah digunakan di wilayah yang kini disebut Indonesia sejak sekitar abad ke-7 masehi. Perkembangan bahasa Melayu dari awal penggunaannya dalam bahasa tulis hingga sekarang dapat dibagi atas beberapa periode. Adapun periode bahasa Melayu menurut Kridalaksana adalah sebagai berikut. Periode pertama disebut bahasa Melayu Kuna yang meliputi abad ke-7 hingga abad ke-14. Periode kedua adalah bahasa Melayu Tengahan atau bahasa Melayu Klasik yang meliputi kurun abad ke-14 hingga abad ke-18. Periode ketiga disebut bahasa Melayu Peralihan yang mencakup kurun abad ke-19. Periode terakhir adalah bahasa Melayu Baru yang dipergunakan sejak awal abad 20 (1991: 5).
Bahasa Indonesia yang termasuk dalam periode bahasa Melayu Baru jelas merupakan keturunan dari bahasa Melayu yang sudah digunakan selama ratusan tahun di wilayah Indonesia. Dalam kurun waktu penggunaan yang panjang tersebut, tentu banyak unsur kebahasaan yang mengalami perubahan. Salah satunya karena wilayah Indonesia telah dimasuki banyak pengaruh asing. Namun, masih banyak pula unsur kebahasaan yang bertahan meskipun tidak seratus persen masih sama.
Bentuk-bentuk berpartikel yang kerap ditemukan dalam teks berbahasa Indonesia merupakan salah satu konstruksi sintaktis yang masih bertahan dari perkembangan bahasa Melayu periode terdahulu. Adapun yang disebut partikel adalah ‘kata yang biasanya tidak dapat diderivasikan atau diinfleksikan yang mengandung makna gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal’ (Kridalaksana. 2001: 155). Oleh karena tidak mengandung makna leksikal, keberadaan partikel harus beriringan dengan bentuk (atau kata) lain. Fungsinya adalah untuk menegaskan atau membentuk introgativa. Partikel yang dikenal dalam bahasa Indonesia adalah kah, tah, pun, dan lah.
Dalam tulisan ini, penulis akan mendeskripsikan penggunaan partikel lah dalam bahasa Melayu Klasik kemudian dibandingkan dengan penggunaannya pada bahasa Indonesia. Partikel ini lebih sering ditemukan dalam teks Melayu Klasik dibandingkan dengan partikel lainnya. Adapun sumber data penelitian ini adalah bentuk-bentuk berpartikel lah (1981) dalam bagian satu “Pelayaan ke Kelantan”[1] dan bab “Bahasa Inggris” dalam novel Padang Bulan (2010) karya Andrea Hirata. Pendeskripsian bentuk-bentuk berpartikel lah dilakukan dalam lingkup kategori atau kelas kata yang muncul berdampingan dengan partikel lah. Tujuannya adalah untuk menginventarisasi dan membandingkan kategori atau kelas kata yang dapat berkolokasi dengan partikel lah dalam bahasa Melayu Klasik dan bahasa Indonesia.
B. Penggunaan Partikel lah dalam Bahasa Melayu Klasik Abad ke-19 dan Bahasa Indonesia
Dalam bahasa Indonesia, dikenal tiga belas jenis kelas kata: verba, ajektiva, nomina, numeralia, adverbia, pronomina, demonstrativa, konjungsi, preposisi, introgativa, interjeksi, dan kategori fatis (Kridalaksana, 1999). Dalam mendekripsikan bentuk berpartikel lah dalam bahasa Melayu Klasik, penulis akan berpedoman pada klasifikasi tersebut[2].
Dalam bagian pertama “Pelayaran ke Kelantan”, ditemukan empat puluh tiga bentuk berpartikel lah. Di antara empat puluh tiga bentuk tersebut, tiga puluh tujuh berupa verba, lima berupa ajektiva, dan tiga berupa adverbia. Data tersebut menunjukkann bahwa pada bahasa Melayu Klasik, partikel lah dapat berkolokasi dengan kategori verba, ajektiva, dan adverbia.
Verba adalah kategori tebanyak yang ditemukan dalam data. Dikatakan verba apabila suatu satuan berkemungkinan berada berdampingan dengan tidak (Kridalaksana, 1999: 68). Partikel lah menandai bahwa verba adalah bagian yang diutamakan dalam klausa. Hal ini berkaitan dengan salah satu fungsi partikel lah sebagai penegas. Pengutamaan demikian didukung pula oleh keadaan berikut. Predikat verba berpartikel lah, dalam klausa, selalu berada pada sebelum subjek. Dengan kata lain, verba berpartikel lah muncul pada kalimat inversi. Perhatikan contoh berikut.
(a) Maka turunlah sahaya sekalian di situ [...] (1981: 3)
P S
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bentuk berpartikel lah berkategori ajektiva juga ditemukan dalam data. Yang disebut ajektiva adalah kategori yang berkemungkinan bergabung dengan tidak; mendampingi nomina; didampingi lebih, agak, sangat; dan dapat menjadi nomina denggan diimbuhi ke-an (Kridalaksana, 1999: 75). Ajektiva yang berkolokasi dengan partikel lah, dalam lingkup data, seluruhnya berupa ajektiva dasar. Ajektiva berpartikel lah dalam data ditemukan memiliki dua fungsi, yaitu predikatif dan atributif. Dinamakan ajektiva predikatif jika berfungsi sebagai predikat dan disebut atributif jika tidak sebagai predikat. Adapun ajektiva predikatif berpartikel lah dalam data adalah mufakatlah, tentulah, dan dekatlah, sedangkan biarlah,dan pastilah merupakan ajektiva atributif. Perhatikan kalimat di bawah ini.
(b) [...] maka mufakatlah segala saudagar itu [...]
(c) [...] kalau begini, pastilah kita mati [...]
Ajektiva berpartikel lah pada kalimat (b) berfungsi sebagai predikat sehingga disebut ajektiva predikatif, sedangkan pada kalimat (c), ajektiva berpartikel lah yang dimilikinya merupakan unsur yang menerangkan unsur lain, dalam hal ini adalah mati, atau sebagai atribut sehingga disebut ajektiva atributif.
Kategori lainnya yang dapat berkolokasi dengan partikel lah dalam bahasa Melayu klasik adalah kategori adverbia. Dari tiga bentuk adverbia yang ditemukan dalam data, dua di antaranya berupa adverbia dasar, yaitu bolehlah dan tiadalah. Adapun satu bentuk adverbia berpartikel berupa adverbia deverbal, yaitu dapatlah. Dapat merupakan verba, tetapi dalam data, kata tersebut berperan sebagai keterangan atau penjelas bagi predikat, sebagaimana salah satu peran adverbia. Perhatikan kalimat berikut.
(d) Maka dapatlah sebuah sampan tambang buruk anyut.
Subjek kalimat di atas adalah sebuah sampan tambang buruk, sedangkan pedikatnya adalah anyut. Maksud kalimat di atas kurang lebih adalah ‘sebuah sampan tambang buruk dapat hanyut’ dengan penegasan pada dapat yang menunjukkan ‘kemungkinan besar sampan akan hanyut’. Oleh karena itu, dapat pada kalimat di atas merupakan sebuah adverbia yang mengalami perpindahan kategori, yaitu deverbalisasi.
Untuk data teks berbahasa Indonesia, didapatkan empat bentuk berpartikel lah. Komposisinya adalah tiga berkategori ajektiva dan satu berkategori introgativa. Hal ini menandai pula bahwa bentuk partikel lah dalam bahasa Indonesia dapat berkolokasi dengan kategori-kategori tersebut.
Kategori ajektiva, dari bahasa Melayu Klasik hingga bahasa Indonesia, dapat berdampingan dengan partikel lah. Ketiga bentuk yang ditemukan berupa ajektiva dasar, yaitu barulah, tetaplah, dan cukuplah. Adapun barulah dan tetaplah merupakan ajektiva atributif, sedangkan cukuplah, dalam data, merupakan ajektiva predikatif. Perhatikan kalimat berikut.
(e) [...] barulah jumlahnya katanya tergapai satu milyar.
(f) Cukuplah untukmu sampai bisa menjadi guru bahasa Inggris seperti Ibu Nizam.
Kalimat (e) memiliki ajektiva berpartikel lah yang berperan sebagai atribut atau penjelas bagi nomina jumlahnya sehingga merupakan ajektiva atributif, sedangkan kalimat (f) memiliki ajektiva berpartikel lah, cukuplah, yang berfunngsi sebagai predikat sehingga merupakan ajektiva predikatif.
Satu kategori lainnya yang dapat bedampingan dengan partikel lah dalam bahasa Indonesia adalah kategori introgativa. Yang dimaksud introgativa adalah kategori yang berfungsi menggantikan sesuatu yang ingin diketahui oleh pembicara. Bentuk yang ditemukan dalam data adalah apalah. Introgativa berpartikel lah tersebut tidak terdapat dalam kalimat tanya, tetapi dalam kalimat pernyataan, yaitu Tak apalah, berarti aku masih harus menabung.
C. Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, perbedaan bentuk berpartikel lah dalam bahasa Melayu Klasik dan bahasa Indonesia ditinjau dari kategori yang didampinginya, secara pasti, belum dapat disimpulkan. Diperlukan lebih banyak data, terutama bentuk berpartikel dalam bahasa Indonesia, untuk melihat perbedaannya.
Dari penelitian kecil ini, hasil yang dapat diperoleh adalah pada periode bahasa Melayu Klasik, partikel lah dapat berkolokasi dengan kategori verba, ajektiva, dan adverbia. Dalam bahasa Indonesia, partikel lah dapat berkolokasi dengan kategori ajektiva dan introgativa. Kesimpulan ini sangat mungkin berubah. Kategori-kategori lainnya yang tidak disebutkan juga memiliki kemungkinan berkolokasi dengan parikel lah apabila sumber data yang digunakan diperbanyak dan lebih beragam.
Selain itu, yang juga dapat disimpukan adalah mengenai frekuensi penggunaan partikel lah dari kedua periode bahasa Melayu yang dibahas. Dalam teks “Pelayaran ke Kelantan” yang berbahasa Melayu Klasik, bentuk partikel lah jauh lebih sering digunakan daripada dalam teks “Bahasa Inggris” yang berbahasa Indonesia. Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa perkembangan bahasa Melayu, dari bahasa Melayu Klasik menjadi bahasa Indonesia, salah satunya, terujud melalui berkurangnya frekuensi pemakaian partikel lah dalam teks.
Daftar Pustaka
Sumber data
Ahmad, Kassim. 1981. “Pelayaan ke Kelantan”. Dalam Kisah Pelayaran Abdullah: Edisi Baru dengan Pengenalan dan Anotasi Diselenggarakan oleh Kassim Ahmad. Kuala Lumpur: Penerbit Fajar Bakti Sdn. Bhd.
Hirata, Andrea. 2010. “Bahasa Inggris”. Dalam Padang Bulan. Yogyakarta: Bentang
Sumber Rujukan
Kridalaksana, Harimurti. 1999. Tata Wacana Deskriptif Bahasa Indonesia. Jakarta: FSUI
—. 2001. Kamus Linguistik: Edisi Ketiga. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
[1] Dalam Kisah Pelayaran Abdullah (Ahmad, 1981: 1—7)
[2] Dalam bahasa Indonesia, terdapat beberapa pembagian kelas kata lain yang dilakukan oleh beberapa ahli bahasa.
Penulis: Winda Andriana, Mahasiswi Sastra Indonesia FIB UI