Berbagai Teori Mengenai Kemunculan Bahasa[1]
Kemajuan peradaban manusia di dunia tidak dapat dipisahkan dari perkembangan bahasa. Beragam bahasa yang ada di dunia sekarang ini berkembang beriringan dengan peradaban di wilayah penutur masing-masing bahasa. Penggunaan bahasa pada manusia beradab sekarang ini tentulah merupakan bagian dari proses perkembangan bahasa yang mungkin saja dimulai sejak kehidupan belum beradab. Berbagai penelitian telah dilakukan oleh para ahli untuk mendapatkan kejelasan mengenai asal-usul terciptanya bahasa. Penelitian-penelitian tersebut dilakukan dengan melibatkan disiplin ilmu lain di samping linguistik yang salah satunya adalah arkeologi.
Berjuta tahun yang lalu, arkeolog menemukan kerangka hominoid, mahluk yang merupakan awal mula manusia, di pelbagai tempat. Setelah temuan tersebut, terdapat pula petunjuk peradaban hidup hominid berupa kebudayaan yang masih primitif. Bersamaan dengan hal itu, bahasa sebagai prasyarat bagi pewarisan tradisional dan pertumbuhan kebudayaan diperkirakan muncul. Awal mula pertumbuhan bahasa ini disebut prabahasa.
Evolusi prabahasa menjadi bahasa yang telah diperkirakan oleh para ahli tidak memiliki bukti tertulis—atau bukti tersebut belum ditemukan. Oleh karena itu, berbagai teori mengenai timbulnya bahasa pun muncul dan berkembang.
Salah satu teori yang muncul adalah Teori Tekanan Sosial. Teori ini dikembangkan oleh Adam Smith yang beranggapan bahwa bahasa manusia timbul karena manusia primitif berkebutuhan untuk saling memahami. Akibat kebutuhan tersebut, manusia dituntut untuk melakukan hubungan sosial dengan sesamanya sehingga terciptalah suatu tuturan. Dalam teori ini, manusia tergambar sudah mencapai kesempurnaan fisik dan mental.
Teori Onomatopetik atau Ekoik adalah salah satu dari teori mengenai asal-usul bahasa yang muncul. Teori yang dikemukakan oleh J.G. Herder ini menjelaskan bahwa penamaan suatu objek ditentukan berdasarkan bunyi objek tersebut. Adapun objek yang dimaksud, misalnya, adalah binatang atau peristiwa-peristiwa alam. Banyak para ahli yang menentang teori ini karena dianggap tidak logis jika manusia hanya meniru bunyi dari makhluk-makhluk yang lebih rendah. Teori ini dijuluki pula teori bow-bow oleh penentangnya.
Sejumlah filsuf, seperti Etienne Bonnet Condillac dan Whitney turut menyumbangkan teorinya tentang asal-usul bahasa yang disebut Teori Interyeksi. Mereka beranggapan bahwa bahasa lahir dari ujaran-ujaran instinktif, yaitu bersumber pada dalam diri seorang manusia yang berhubungan erat dengan perasaan. Teori ini dijiluki dengan nama teori pooh-pooh. Ujaran instinktif atau interyeksi yang terlahir tidak berarti lebih dari sekadar luapan emosi sehingga tidak dapat dikontrol oleh pengujarnya. Namun, dalam perkembangannya, interyeksi tersebut dapat berkembang menjadi bahasa bila penggunaannya tidak lagi menanadai luapan emosi, tetapi menandai sebuah pernyataan emosi.
Teori selanjutnya diajukan oleh Max Muller, yaitu Teori Natifistik atau Tipe Fonetik. Teori ini berdasarkan pada konsep mengenai akar. Max berasumsi bahwa terdapat hukum bahasa yang menyatakan bahwa tiap barang memiliki bunyi yang khas seperti halnya manusia yang memiliki kemampuan ekspresi artikulatoris sehingga dapat merespon secara vokal. Teori ini dikenal juga sebagai teori ding-dong.
Adapun teori lan yang muncul adalah Teori Yo-He-Yo. Teori ini dikembangkan noleh filsuf Noire yang beranggapan bahwa manusia melakukan pekerjaan-pekerjaan khusus secara bersama-sama. Saat saling memberi semangat kepada sesamanya, mereka akan mengucapkan bunyi-bunyi yang khas berhubungan dengan pekerjaan khusus itu. Oleh karena itu, teori ini disebut sebagai teori Yo-he-yo.
Teori Isyarat (The Gesture Theory), yang juga membicarakan mengenai kemunculan bahasa, dikembangkan oleh Wilhelm Wundt, seorang psikolog di abad XIX. Bahasa isyarat timbul dari emosi dan gerakan-gerakan ekspresif yang tak disadari. Komunikasi gagasan-gagasan dilakukan dengan gerakan-gerakan tangan yang membantu gerakan-gerakan mimetik wajah seseorang, yaitu gerakan eksprsif untuk menyatakan emosi dan perasaan. Selain gerakan mimetik dan gerakan pantomimetik (pengungkapan ide) yang sudah ada, kemampuan untuk mendengar juga memungkinkan manusia untuk menciptakan jenis gerakan yang ketiga, yaitu gerakan artikulatoris. Dalam perkembangan selanjutnya, gerakan artikulatoris menjadi lebih penting dibanding kedua gerakan lainnya.
Setelah menguaraikan tiga bidang penelitian mengenai bahasa anak-anak, bahasa suku-suku primitif, dan sejarah bahasa-bahasa, Jespersen, seorang filolog Denmark, menyimpulkan bahwa bahasa primitif menyerupai bahasa anak-anak. Hal ini terangkum dalam teori yang dikembangkannya, yaitu Teori Permainan Vokal. Pada awalnya, bahasa mannusia berupa dengungan seperti nyanyian yang tidak bermakna yag kemudian berkembang menjadi sebuah ujud ungkapan yang semakin jelas dan teratur. Jespersen beranggapan bahwa bahasa manusia mula-mula bersifat puitis. Oleh karena itu, dalam teori ini terlihat bahwa pernyataan ideasional dan emosional dapat diungkapkan secara beriringan.
Dalam bukunya Human Speech, Sir Richard Speech mengemukakan teori mengenai asal usul bahasa yang disebut dengan Teori Isyarat Oral. Berikut adalah beberapa argumennya: Pada mulanya manusia menyatakan gagasannya dengan isyarat tangan, tetapi tanpa sadar isyarat tangan itu diikuti juga oleh gerakan lidah, bibir, dan rahang. Ketika manusia melakukan isyarat dengan lidah, bibir, dan rahang maka udara yang dihembuskan melalui mulut (oral) atau lubang hidung akan mengeluarkan pula isyarat-isyarat yang dapat didengar sebagai ujaran berbisik. Paget selanjutnya memperlihatkan kesamaan antara bunyi-bunyi ‘sintetik’ dan beberapa kata dari bahasa primitif. Dalam hal ini, Paget dianggap sebagai orang yang meneruskan ide Wundt, yaitu Teori Isyarat.
Menurut Laguna, Teori Paget ini memiliki dua kelemahan. Kelemahan pertama adalah adanya asumsi bahwa bahasa ujaran berkembang sebagai fenomena individual yang tergantung pada ide-ide yang memerlukan pengungkapan, sedangkan bahasa adalah upaya untuk mengkomunikasikan ide-ide itu. Kelemahan kedua adalah adanya asumsi bahwa awal mula ujaran baru muncul sesudah adanya ras manusia, karena ras manusia memiliki proses mental tertentu yang diperlukan untuk berkomunikasi.
Teori yang juga berkembang adalah Teori Kontrol Sosial yang diajukan oleh Grace Andrus de Laguna. Menurutnya, ujaran adalah suatu medium yang besar yang memungkinkan manusia bekerja sama. Bahasa merupakan upaya yang mengkoordinasi dan menghubungkan macam-macam kegiatan manusia untuk tujuan bersama. Laguna membandingkan pemakaian bunyi-bunyi vokal manusia primitif dengan bunyi yang digunakan anak dewasa. Dalam hal ini, ia sependapat dengan Jespersen. Ia menyatakan bahwa permainan vokal adalah unsur yang penting pada waktu timbulnya bahasa. Oleh karena itu, dalam usahanya menelusuri evolusi ujaran dari teriakan binatang ke penggunaannya sebagai ujaran, Laguna melihat lebih jauh ke belakang bila dibandingkan Jespersen. Namun, Laguna menganggap bahwa ujaran didasarkan pada aktivitas kehidupan yang sungguh-sungguh bukan sekedar permainan yang menyenangkan dan kesenangan remaja.
G. Revesz turut menyumbangkan pengetahuannya mengenai kemunculan bahasa yang tercakup dalam teorinya, yaitu Teori Kontak. Dalam teori ini, Revesz menjelaskan bahwa munculnya sebuah bahasa didorong oleh adanya keinginan atau kebutuhan mahluk hidup untuk mengadakan kontak emosional kepada sesamanya. Kontak emosional ini merupakan kelanjutan dari kontak spasial yang sudah diujudkan sebelumnya. Dengan adanya hubungan personal dan kontak emosional yang baik, terciptalah bahasa yang tentu saja mampu menjembatani kedua hal tersebut.
Adapun aspek yang cukup esensial lainnya menurut Revesz terkait dengan asal-usul bahasa adalah adanya keinginan untuk bertukar pikiran. Artinya, dalam hal ini yang hendak dicapai adalah terjalinnya kontak intelektual.
Berangkat dari adanya kebutuhan mahluk hidup untuk berkontak emosional, dapat ditandai bahwa bunyi-bunyi ekspresiflah yang mengawali terbentuknya bahasa. Evolusi bahasa yang dikemukakan Revesz dimulai dari tangisan (cry) yang tidak diarahkan pada individu tertentu, panggilan (call) yang sudah dilakukan dengan tujuan, kemudian barulah terberbentuk sebuah kata.
Teori selanjutnya mengenai asal-usul bahasa dikemukakan oleh Charles F. Hockett dan Robert Ascher yang dikenal dengan Teori Hockett-Ascher. Teori ini memaparkan asal-usul bahasa dan perkembangannya yang berkaitan erat dengan evolusi manusia. Disebutkan bahwa proto hominoid, primata yang diketahui sebagai asal-usul manusia dan hidup pada jutaan tahun silam, memiliki sistem call untuk berkontak. Sistem call belum dapat disebut bahasa. Para ahli menyebut sistem call sebagai prabahasa.
Adapun yang membedakan sistem call dari bahasa adalah bahwa sistem call tidak memiliki ciri pemindahan yang dapat memungkinkan kita untuk membicarakan hal yang tidak ada dan yang teradi di masa lampau. Selain itu, masing-masing call memiliki sifat eksklusif. Maksudnya, proto hominoid tidak dapat mengeluarkan satu call. Misalnya, proto hominoid berada dalam suatu keadaan bahasa dan menemukan makanan di suatu tempat, maka call yang dapat dikeluarkannya hanya salah satu saja, misalnya yang menunjukkan bahwa dirinya dalam keadaan bahaya saja. Keeksklusifan tersebut menunjukkan bahwa call bersifat tertutup. Hal ini tentu bertentangan dengan bahasa yang bersifat terbuka atau produktif.
Pada perkembangan selanjutnya, sistem call yang semula bersifat tertutup pun kemudian berkembang menjadi terbuka. Berkembangnya call menjadi sistem yang terbuka ditandai dengan penggabungan dua call. Walaupun demikian, call tetap disebut sebagai prabahasa karena masih bersifat eksklusif pada kelompok tertentu.
Perubahan tubuh yang terjadi kemudian pada proto hominoid memungkinkan mahluk tersebut menciptakan semakin banyak call. Namun, hal ini berakibat semakin padatnya tempat akustik-artikulatoris sehingga bunyi-bunyi yang tercipta bermiripan. Akibatnya, terjadi sebuah perubahan besar: pramorfem yang semula berujud call menjadi morfem sesungguhnya, yaitu bunyi-bunyi yang tercipta kemudian diwakili oleh suatu komponen morfologis dan fonologis.
Berbagai teori yang telah disebutkan di atas mengisyaratkan hal yang sama, yaitu sebelum terciptanya bahasa, ujaran-ujaran yang dikeluarkan hominoid bersifat tertutup dan tidak produktif. Ujaran-ujaran tersebut belum dapat dikatakan sebagai bahasa seutuhnya. Sebagian ahli menyebutnya sebagai bahasa primitif dan sebagian lagi menyebutnya prabahasa, tergantung pada teori masing-masing.
Berdasarkan teori di atas, Teori Hockett-Ascher lah yang dengan lengkap menjelaskan kemunculan bahasa. Prabahasa yang berkembang menjadi bahasa haruslah terjadi beriringan dengan evolusi proto hominoid menjadi manusia. Hal tersebut karena kesempurnaan bahasa yang ditandai dengan bunyi-bunyian yang dikeluarkakn alat ucap manusia tentu baru akan terujud dengan didukung dengan kesempurnaan organ-organ artikulator manusia.
[1] Tulisan ini merupakan laporan bacaan dari Keraf, Gorys. 1996. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Penulis: Winda Andriana, Mahasiswi Sastra Indonesia FIB UI