TYPISCH OSSI TYPISCH WESSI (Ost gegen West)


PENDAHULUAN

Karya Michael Jürgs dan Angela Elis yang berjudul Typisch Ossi Typisch Wessi ( Ost gegen West ) ini berkisah tentang penggambaran kehidupan di Jerman Barat dan Jerman Timur. Pada paper ini bagian yang akan dibahas adalah Ost gegen West, di mana pada bagian ini digambarkan cara pandang orang Jerman Timur (Ossi) terhadap warga Jerman Barat (Wessi). Cara pandang dari dua sudut yang berbeda itu akan menjelaskan perbedaan apa saja yang terdapat di antara mereka, serta bagaimana mereka menjalani hidup dalam perbedaan tersebut.

ISI

Bagian awal teks menceritakan tentang keluarga ich. Neneknya bernama Emilie, yang dalam teks diceritakan sebagai seorang yang sangat tabah, kuat,dan kreatif. Meskipun dia dilahirkan dengan hanya mempunyai satu tangan, dia berhasil bertahan hidup pada situasi perang,  serta membesarkan keenam anaknya dengan menjadi penjual susu.

(S.233, P. 2-3, Z.20-23)

So hat sie mit ihren anderthalb Armen den Krieg überstanden, dann die Umsiedlung aus Schlesien in den Osten Deutschlands mit ihren sechs Kindern durchgemacht und auch Sozialismus ist sie angekommen.

Perempuan di Jerman Timur bisa bekerja sebagai insinyur, arsitek, dan pengendara alat-alat berat. Pekerjaan berat yang biasanya dilakukan oleh laki-laki di Jerman Timur dilakukan oleh perempuan  dan mereka dianggap sebagai “Heldin der Arbeit.” Bahkan terdapat pekerjaan yang tidak terdapat di Jerman Barat dan hanya dilakukan oleh perempuan, yaitu Veterinäringeneu. Perempuan yang berkerja seperti ini hanya bisa ditemukan di Jerman Timur dimana hak-hak mereka lebih diperhatikan dan diakui kedudukannya sama seperti laki-laki.

(S.235 3-4, P. 2, Z. 31-37)

Und so war es in der DDR selbstverständlich, dass eine Frau Veterinäringeneurin wurde (diesen Beruf gibt es im Westen gar nicht, Bauzeichnerin oder Kranführerin, manchmal sogar >>Heldin der Arbeit<<. Ihr aus dem Westen mögt das als pure Ideologie belachen, aber, Wessis, es bedeutet auch eine besondere Achtung und Anerkennung der Frau.

Perempuan di Jerman Timur sudah berhasil mandiri secara ekonomi dan mendapat status yang sama seperti laki-laki, sedangkan di Jerman Barat kaum perempuan masih berjuang untuk mendapatkan persamaan hak. Adanya undang-undang yang hanya mengizinkan perempuan untuk bekerja jika mendapat izin dari suaminya menggambarkan betapa patriarkisnya masyarakat di Jerman Barat.

(S.236, P. 1, Z. 30-)

Die Förderung der Frau war in der DDR nie umstritten. Deshalb können wir Ostfrauen mit dem Begriff >>Emanzipation<< anfangen. Bei uns war das ganz anderes, wie ein Blick zurück beweist. Bei euch war ein Kampf um die Emanzipation notwendig. Ich habe mir sagen lassen. ….Selbst wenn das Gesetz nicht angewendet wurde und dieser Paragraph inzwischen gestrichen ist, es zeigt sich daran die Grundeinstellung eurer von Männer geprägten Gesellschaft und deren Fraubild.

Kaum perempuanlah yang mempunyai peran yang sangat besar di dalam membangun kembali Jerman dari puing-puing sisa kekalahan perang dunia kedua. Banyak diantara mereka menjadi Putzfrau, kuli bangunan, dll tetapi pada saat Jerman bersatu  dan  jerman menjadi negara yang sangat makmur, peran perempuan-perempuan ini seolah-olah dilupakan dan tidak menjadi ikon / simbol dari kebangkitan perekonomian Jerman Barat.

(S. 238, P.1, Z.5-10)

In euren fetten Wirtschaftswunderjahren, dank der Integration eurer Bundesrepublik in das marktwirtschatliche System der westlichen Allierten, wurde nich berufstätige Ehefrau bei euch als Statussymbole, ähnlich wie der Mercedes oder das schmucke Häuschen.

Di Jerman Barat terdapat lebih banyak depresi dan gangguan psikis, serta masyarakatnya memiliki angka ketergantungan terhadap alkohol hampir dua kali lipat lebih tinggi daripada masyarakat DDR. Sedangkan rakyat DDR  mengaku lebih stabil, sehat secara psikis, meskipun hidup dalam penderitaan dan pengangguran. Menurut para psikolog, hal itu bisa terjadi karena masyarakat DDR lebih mengutamakan dan menjunjung tinggi persahabatan dan keluarga, sehingga rasa solidaritas di antara mereka lebih tinggi. Hal itu berlawanan dengan kondisi yang terdapat di Barat, di mana rakyatnya lebih individualis dan mengutamakan uang, kekayaan, dan perawatan hari tua.

“Im Westen gibt es mehr Depressive und Essgestörte als bei uns, im von euch so beklagten Jammertal. Der prozentuale Anteil an Alkoholabhängigen ist bei euch, in den alten Bundesländern, fast doppelt so hoch wie im Osten. Es sieht also aus, als sei es um die seelische Gesundheit der Ossis besser bestellt: Wir leiden seltener als ihr im Westen an psychischen Störungen, sind stabiler – und dies trotz DDR-Martyrium, Wendebelastung und Arbeitslosigkeit.

Psychologen meinen, es könnte daran liegen, dass Familie und Freundeskreis im Osten schon immer hoch geschätzt waren, was zu einem engeren menschlichen Zusammenhalt führte. Das zeigt auch eine Rangliste, die sich ergibt, wenn Institute nach den wichtigsten Werten im Leben fragen. Im Osten sind das: Arbeit, Familie und Freunde. Im Westen: Geld, Eigentum und die Altersversorgung.” (Z.212-226, S.239).

Hal-hal tersebutlah yang menjadikan masyarakat BRD lebih individualis, bahwa dengan bekerja, mencari kekayaan sebanyak-banyaknya adalah kehidupan yang umum di Barat, sehingga mereka seakan tidak punya waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan sahabat-sahabat. Uang mengalahkan kebersamaan antara mereka sendiri. Perbedaan ini terlihat dalam berbagai aspek, seperti  dengan terbitnya surat-surat kabar terkenal yang paling banyak dibaca orang, mulai dari Süddeutsche Zeitung, Die Welt, Spiegel, hingga Die Zeit, yang notabene adalah produk-produk dari Jerman Barat. Tidak ada satu pun media massa yang terkemuka saat itu diterbitkan di Jerman Timur. Akan tetapi, orang Jerman Timur berpendapat bahwa keberadaan media-media komersial di Barat tersebut sudah melampaui batas, bahwa semuanya hanya berujung pada pencarian keuntungan semata dan diatur secara kapitalis.[1] Hal inilah yang membuktikan bahwa ada perbedaan mentalitas di antara masyarakat di kedua kubu, antara mental sosialis, dengan bercirikan solidaritas dengan mental kapitalis yang bercirikan individualitas.

Kehidupan di DDR identik dengan kemiskinan dan suram, akan tetapi ich merasakan kesenangan ketika praktek belajarnya, walaupun pada praktek itu ia dihadapkan pada bidang pekerjaan laki-laki.

“Ich stand mit Helm und Shweißerbrille an der Maschine, die Funken flogen und Metallteile wurden zusammengeführt. Mir hat das Spaß gemacht, ich kann nicht sagen, dass irgendein Tag in der realen Produktion lästig war. Zugleich hat man ganz nebenbei mitbekommen, was es bedeutete, >>auf Arbeit<< zu gehen, und ahnte, dass Leben kein Freizeitvergnügen ist, der Alltag im Betrieb aber durchaus vergnüglich sein kann.” (Z.285-292, S.241).

Anak-anak DDR memiliki lagu yang digunakan untuk bersenang-senang. Lagu anak-anak tersebut mencerminkan kehidupan para wanita DDR yang harus bekerja karena tidak ingin bergantung pada suaminya. Anak-anak berada di rumah untuk membantu pekerjaan ibunya.

Wenn Mutti früh zur Arbeit geht, / dann bleibe ich zu Haus./ Ich bind mir eine Schürze um/ und feg die Stube aus. / Essen kochen kann ich nicht, / dafür bin ich zu klein. / Doch Staub hab ich schon oft gewischt, / das wird die Mutti freu’n. ( Z.413-417, S.245 ).

Lagu diatas menggambarkan semangat sosialisme yang dikemukakan oleh Clara Zetkin bahwa jika seorang wanita mandiri secara ekonomi, dia akan terbebas dari penindasan kaum pria atau suaminya.

Die sozialistische Urmutter Clara Zetkin hatte im 19. Jahrhundert schon die These aufgestellt, erst dann, wenn eine Frau wirtschaftlich unabhängig sei, wäre sie auch von der Unterjochung durch den Mann befreit.( Z. 78-81, S.235)

Pengalaman tokoh ich ketika pertama kali hidup di BRD tidak menyenangkan. Ketika tokoh ich ingin melanjutkan studinya, dia harus mengajukan bukti latar belakang pendidikan dari DDR. Tentu saja, bagi pengungsi seperti tokoh ich sangat sulit mendapatkan surat keterangan. Akan tetapi, tokoh ich dibantu oleh seorang jurnalis dari BRD.

Richtig wütend geworden bin ich erst, als ich im Westen erlebte,….Ein Journalist aus dem Westen, den ich um Hilfe bat,…(Z.437-454, S.246).

KESIMPULAN

Pasca bersatunya Jerman, muncul prasangka-prasangka diantara masyarakat Jerman eks DDR terhadap masyarakat eks BRD, dan sebaliknya. Prasangka tersebut tumbuh seiring dengan berkembangnya wacana “Einigungseuphorie” di masyarakat, ketika kedua negara yang bersatu harus menerima bergabungnya “saudara jauhnya” yang terpisah selama puluhan tahun. Kehidupan BRD  pra reunifikasi yang dinilai lebih berkembang daripada DDR  ternyata tidak selalu dipandang baik dan positif oleh masyarakat eks DDR. Akibatnya setelah Jerman bersatupun masih terdapat pandangan-pandangan yang saling berlawanan antara mereka. Masyarakat eks DDR menganggap diri mereka lebih mandiri, pekerja keras, dan lebih disiplin daripada masyarakat BRD. Perbedaan sistem dan ideologi masing-masing negara juga sangat mempengaruhi mentalitas masyarakatnya. Misalnya, dalam aspek pekerjaan, wanita DDR lebih mandiri. Paham Sosialisme yang “dianut” DDR mendidik para ibu untuk mandiri secara ekonomi, agar terbebas dari penindasan kaum laki-laki, akibatnya para wanita juga dituntut untuk bekerja dan berpenghasilan sendiri. Masyarakat DDR lebih menjunjung solidaritas persahabatan dan keluarga, sedangkan masyarakat BRD lebih mengutamakan pertumbuhan kehidupan ekonominya tanpa memperhatikan solidaritas dan keluarga. Hal inilah yang membuktikan bahwa ada perbedaan mentalitas di antara masyarakat di kedua kubu, antara mental sosialis, dengan bercirikan solidaritas dengan mental kapitalis yang bercirikan individualitas.


[1] Lampiran hal.4

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s